Special Plan: Ekonom nilai DSI bisa diarahkan jadi pengawas transaksi ekspor SDA
Special Plan untuk Ekspor SDA: DSI Diusulkan Jadi Pengawas Transaksi
Special Plan yang diusulkan oleh pakar ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyoroti potensi PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai lembaga pengawas khusus dalam transaksi ekspor sumber daya alam (SDA). Ia menekankan bahwa DSI dapat menjadi mitra strategis dalam memastikan transparansi dan mengendalikan alur devisa ekspor. “Dengan sistem pengawasan yang lebih terpusat, pemerintah bisa memperkuat tata kelola SDM serta mengurangi risiko penyimpangan dalam perdagangan ekspor SDA,” ujar Wijayanto. Untuk melengkapi fungsi ini, ia merekomendasikan kerja sama dengan Surveyor Indonesia dan Sucofindo dalam pemeriksaan fisik langsung di lapangan. Selain itu, pemerintah juga disarankan menggandeng inspeksi internasional seperti SGS dari Swiss untuk verifikasi yang lebih objektif.
Manfaat Special Plan dalam Peningkatan Integritas Ekspor
Dalam Special Plan ini, Wijayanto Samirin menekankan bahwa penyederhanaan mekanisme pengawasan tidak akan mengganggu kebebasan pasar, tetapi justru memperkuat kepastian dalam transaksi. “Sistem ini memungkinkan pemerintah mengawasi aliran devisa ekspor secara efektif, sambil tetap menjaga daya saing Indonesia di pasar global,” jelasnya. Ia menyatakan bahwa dengan DSI sebagai lembaga pengawas, praktik underinvoicing dan transfer pricing dapat ditekan. Hal ini akan membantu menjamin pendapatan negara tercapai, sekaligus mengurangi penyalahgunaan dana negara dalam transaksi ekspor SDA.
“Dengan Special Plan ini, ekosistem bisnis tetap dipertahankan, sementara sistem pengawasan dan integritas SDM ditingkatkan. Tujuannya adalah mengoptimalkan penerimaan negara tanpa mengorbankan kebebasan produsen dalam memenuhi permintaan pasar,” kata Wijayanto.
Pelaksanaan Special Plan: Tantangan dan Harapan
Pemerintah sebelumnya sudah menyatakan rencana pembentukan DSI sebagai langkah untuk memperketat pengawasan ekspor komoditas strategis seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferroalloy. Wijayanto Samirin mengatakan bahwa dengan Special Plan ini, sistem akan lebih terpadu, sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan pelaporan yang tidak terdeteksi. “Verifikasi yang lebih efisien dan akurat akan menjadi keuntungan utama, terutama dalam mengendalikan transaksi ekspor SDA,” tambahnya. Namun, ia juga menyoroti bahwa kebijakan ini perlu disertai kebijakan pendukung agar tidak menimbulkan hambatan bagi produsen.
Menurut Wijayanto, keberhasilan Special Plan bergantung pada keterlibatan aktif DSI dalam mengawasi seluruh tahapan ekspor. “Kebocoran devisa selama ini bisa ditekan jika DSI menjadi pihak yang mengkoordinasi semua aspek,” jelasnya. Ia menekankan bahwa transparansi dalam transaksi ekspor SDA bukan hanya tentang mekanisme, tetapi juga kesadaran dan komitmen pihak terkait untuk mematuhi standar internasional. “Dengan Special Plan ini, Indonesia bisa membangun ekosistem ekspor yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pengaruh Special Plan terhadap Sektor Pertanian
Kebijakan Special Plan juga diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap petani sawit rakyat. Wijayanto Samirin menyatakan bahwa dalam tahap awal, harga SDA mungkin turun karena persaingan dan penyesuaian volume produksi. Namun, jika dikelola dengan baik, penurunan harga ini bisa diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kepastian dalam transaksi. “Special Plan ini memberikan peluang untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan ekspor dan kesejahteraan petani,” katanya. Ia menambahkan bahwa produsen kecil perlu mendapatkan perlindungan yang tepat agar tidak terabaikan dalam sistem baru.
“Special Plan tidak hanya fokus pada pengawasan ekspor, tetapi juga pada keterlibatan pihak produsen. Dengan sistem yang lebih transparan, petani kecil bisa tetap meraih keuntungan meski di bawah pengawasan yang ketat,” ujar Wijayanto Samirin.
Langkah Kunci untuk Menerapkan Special Plan
Untuk menerapkan Special Plan secara efektif, Wijayanto Samirin menyarankan pemerintah mengintegrasikan DSI dalam seluruh proses ekspor SDA. “DSI harus memiliki wewenang yang jelas dan cukup besar untuk memastikan kepatuhan terhadap standar internasional,” jelasnya. Selain itu, ia menekankan perlunya penyesuaian kebijakan ekspor yang lebih fleksibel agar tidak menghambat pertumbuhan usaha lokal. “Dengan Special Plan ini, transparansi bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan kreativitas produsen dalam menghadapi pasar global,” tambahnya.
Menurut ekonom tersebut, implementasi Special Plan juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga pemeringkat dan pihak swasta. “Kolaborasi ini akan memastikan kebijakan ekspor SDA berjalan optimal, sekaligus menjaga daya saing Indonesia dalam era persaingan global,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, Indonesia bisa mencapai target pendapatan negara sekaligus memperkuat posisi ekonomi di tingkat internasional.