Main Agenda: Di ruang kelas di Purwokerto, tiga bahasa menyatukan dua budaya

Di ruang kelas di Purwokerto, tiga bahasa menyatukan dua budaya

Pada hari Sabtu (25/4), lebih dari 200 peserta termasuk kepala sekolah, guru, dan pejabat pendidikan dari 30 lebih sekolah trilingual di seluruh Indonesia berkumpul di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School) di Purwokerto, Jawa Tengah, untuk mengikuti forum tentang pendidikan bahasa Mandarin. Perayaan ini juga menjadi momen penting dalam mengenang 120 tahun berdirinya Sekolah Tionghoa Purwokerto, 20 tahun pendirian Puhua School, serta satu tahun operasional Pusat Bahasa Mandarin Puhua yang dibangun bersama oleh Baoding University, Baoding Secondary School Education Group, dan Puhua School.

Peran pusat bahasa dalam menghubungkan budaya

Fasilitas ini dirayakan secara resmi pada Januari 2025, sesuai dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara China dan Indonesia. Selama acara, dua karya seni besar berupa instalasi payung kertas berwarna merah, putih, dan biru diresmikan di auditorium. Payung tersebut membentuk kalimat seperti “Pendidikan Untuk Semua” dan “Saya Cinta Indonesia,” yang mencerminkan prinsip pendidikan sekolah tersebut.

Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris terdengar di seluruh area kampus, tempat bahasa tidak hanya dianggap sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai alat untuk mempersatukan latar belakang budaya yang berbeda. Meski tidak terbesar di antara sekolah trilingual Indonesia, Puhua School menjadi contoh nyata dalam mempromosikan pendidikan bahasa Mandarin.

Keterlibatan budaya dalam proses belajar

“Bagi banyak siswa, bahasa Mandarin bukan lagi sekadar sesuatu untuk dihafal,” kata Opsie Emalia Putri, seorang guru Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di Guangzhou dan Tianjin. “Bahasa itu telah menjadi sesuatu yang dapat mereka hayati secara langsung.”

Pengajaran bahasa Mandarin di sekolah ini digabungkan dengan kegiatan kreatif seperti seni gunting kertas, kaligrafi, musik tradisional, dan catur China. Dengan pendekatan ini, para siswa tidak hanya mempelajari kosakata, tetapi juga menghayati nilai-nilai budaya Tionghoa.

Keluarga yang mengikuti kegiatan kampus sering kali terinspirasi oleh aktivitas anak-anak mereka. Tifany dan Meliana, dua orang tua, misalnya, mengungkapkan kepuasan atas pendidikan yang menggabungkan bahasa dan budaya. Mereka menyatakan siap mendukung anak-anak mereka untuk melanjutkan studi di Tiongkok jika memungkinkan.

Model pendidikan lintas budaya

Mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia di Beijing, Yudil Chatim, menyoroti keterbukaan Puhua School. Menurutnya, siswa dari latar belakang etnis dan agama berbeda belajar bersama, menciptakan lingkungan inklusif.

“Sekolah trilingual ini menjadi model penting bagi pendidikan bahasa Mandarin di Indonesia,” ujar Ye Su, Konsul Jenderal China untuk Republik Indonesia. “Pusat Bahasa Mandarin Puhua memberi generasi muda Indonesia cara baru untuk memahami budaya Tiongkok.”

Sjahriati Rochmah, asisten deputi penyelenggaraan sidang kabinet RI, menambahkan bahwa sekolah ini memiliki makna unik dalam membantu anak-anak dari berbagai latar belakang tumbuh bersama dalam satu lingkungan. Selama setahun terakhir, pusat bahasa tersebut telah memperluas dampaknya ke masyarakat luas melalui pameran budaya, program kaligrafi, dan kegiatan bahasa di universitas serta komunitas lokal.

Zhang Jinghuo, direktur Pusat Bahasa Mandarin Puhua dari China, menjelaskan bahwa peran pusat ini kini melampaui pengajaran bahasa. “Pusat ini telah menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dan Tiongkok, serta sekolah dengan masyarakat yang lebih luas,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *