Kodam XX pastikan tanggung biaya warga diduga terkena peluru “nyasar”

Kodam XX Menjamin Biaya Pengobatan Warga Terkena Peluru “Nyasar”

Kodam XX pastikan tanggung biaya warga – Padang, Sumatera Barat – Komando Daerah Militer (Kodam) XX/Tuanku Imam Bonjol secara tegas menyatakan akan menanggung seluruh biaya pengobatan dua warga sipil yang diduga menjadi korban peluru “nyasar” pada hari Selasa siang di kawasan Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP). Pernyataan ini diberikan oleh Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel Kav Taufiq, dalam jumpa pers yang diadakan di Kota Padang, Selasa malam. Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa tindakan Kodam XX untuk menjamin biaya perawatan tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap korban yang terluka.

“Untuk saat ini, kita akan menanggung semuanya,” ujar Kolonel Kav Taufiq.

Menurut Kapendam, meskipun penyelidikan terkait insiden tersebut masih berlangsung, TNI secara aktif memastikan bahwa biaya medis untuk mahasiswi dan warga sipil yang terkena peluru menyasar tidak menjadi beban bagi pihak yang terkena. Langkah ini diambil agar korban dapat segera menerima penanganan medis yang optimal, baik secara cepat maupun intensif. Dalam wawancara tambahan, ia menyebut bahwa kondisi kedua korban masih stabil, meskipun mereka sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit dr. Reksodiwiryo.

Kodam XX menegaskan bahwa pemulihan korban menjadi prioritas utama dalam upaya penanggulangan insiden. Saat ini, tim medis di RS dr. Reksodiwiryo sedang fokus pada operasi pengangkatan proyektil yang tertinggal di bagian kaki mahasiswi UNP. Proses ini memerlukan kolaborasi antara dokter dan para perawat, dengan tujuan memastikan tidak ada komplikasi lebih lanjut. Kolonel Taufiq juga mengungkapkan bahwa pihak Kodam berkomitmen untuk mempercepat proses pemulihan, baik melalui perawatan medis maupun pemberian dukungan psikologis kepada korban.

Dalam penyelidikan yang sedang berjalan, Kodam XX menyebutkan bahwa sumber peluru “nyasar” masih menjadi misteri. Namun, mereka menegaskan bahwa investigasi telah dimulai dengan mendetail. “Kita sedang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, termasuk mengecek asal peluru tersebut,” kata Kapendam. Proses ini melibatkan analisis dari berbagai sumber, seperti rekaman kamera pengintai, saksi mata, serta laporan dari unit yang bertugas di lokasi kejadian.

Kapendam juga menyampaikan bahwa kejadian tersebut terjadi pada saat Satuan Batalyon Infanteri (Yonif) TP 897/Singgalang sedang melaksanakan latihan menembak di area tertentu. Namun, belum ada kesimpulan pasti apakah peluru yang menyasar warga berasal dari area latihan tersebut atau dari sumber lain. “Kita masih menunggu data lebih lanjut untuk menentukan akar masalah,” imbuhnya. Dalam konteks ini, latihan menembak yang dilakukan oleh Yonif TP 897/Singgalang menjadi salah satu fokus utama tim penyelidik.

Sebagai tambahan, Kodam XX memastikan bahwa seluruh prosedur penanganan insiden telah diikuti secara tepat. Ini mencakup pemeriksaan medis yang komprehensif, serta pemeriksaan tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengetahui kemungkinan penembakan yang tidak terencana. Tim Pomdam XX/Tuanku Imam Bonjol, yang bertugas sebagai unit penjinak bom, juga terlibat langsung dalam investigasi. Mereka memeriksa area latihan menembak serta lokasi kejadian secara mendalam, termasuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan untuk memperkuat analisis.

Dalam laporan sebelumnya, Kodam XX menyebutkan bahwa insiden ini terjadi pada Selasa sore, tepatnya di kawasan Rektorat UNP. Lokasi yang menjadi TKP disebut sebagai area yang cukup ramai, dengan banyak warga yang berlalu lalang. Kehadiran peluru nyasar pada saat itu memberikan dampak yang signifikan, terutama bagi warga sipil yang tidak terduga menjadi korban. Dua korban, yang dikenal sebagai korban laki-laki dan korban perempuan, kini sedang diperiksa secara intensif oleh tim medis untuk mengetahui tingkat keseriusan luka.

Kolonel Taufiq juga mengungkapkan bahwa pihak Kodam memperhatikan keterlibatan masyarakat dalam penyelidikan. “Warga sipil yang terkena akan menjadi fokus utama dalam upaya memastikan kejadian tersebut tidak mengulangi dampak serupa,” ujarnya. Selain itu, pihak Kodam berharap melalui insiden ini, kesadaran masyarakat terhadap keamanan di sekitar area militer dapat meningkat. Untuk mencapai hal tersebut, mereka berencana menyelidiki apakah ada kelalaian atau kesalahan dalam prosedur latihan menembak.

Kondisi korban laki-laki, yang mengalami luka di bagian tangan, memerlukan perawatan khusus, termasuk pemberian obat anti-inflamasi dan observasi jangka panjang. Sementara itu, korban perempuan, yang merupakan mahasiswi UNP, menderita luka di paha, dan saat ini sedang menjalani proses pemulihan. Dalam perawatan di RS dr. Reksodiwiryo, para korban diberikan dukungan dari tim medis serta perawat yang kompeten. Kodam juga berkomitmen untuk memberikan bantuan tambahan, seperti transportasi kecil dan pemantauan kondisi korban selama beberapa hari ke depan.

Kapendam menambahkan bahwa insiden ini memicu perhatian publik terhadap keberadaan peluru nyasar di lingkungan kampus. “Ini menjadi momentum untuk memastikan semua pihak menjalani prosedur yang memadai,” katanya. Pihak Kodam berencana melakukan evaluasi terhadap latihan menembak di daerah tersebut, termasuk meninjau kembali standar keselamatan yang diterapkan. Selain itu, mereka juga akan melakukan koordinasi dengan pihak kampus dan instansi terkait untuk meminimalkan risiko serupa di masa depan.

Investigasi terus berjalan, dengan beberapa titik fokus utama. Selain mencari sumber peluru, tim penyelidik juga mengecek apakah ada pelanggaran dalam prosedur latihan menembak. Dalam hal ini, Yonif TP 897/Singgalang menjadi unit yang paling terlibat. Kapendam menyatakan bahwa unit tersebut sedang diperiksa, termasuk mengumpulkan data tentang posisi senapan, jarak tembak, dan kecepatan peluru saat kejadian. “Kita tidak menutup kemungkinan peluru nyasar ini berasal dari latihan,” tambahnya.

Menurut informasi terbaru, operasi pengangkatan proyektil masih berlangsung di RS dr. Reksodiwiryo. Dalam proses ini, dokter melakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa semua fragmen peluru yang tertinggal telah diangkat dengan aman. Kemudian, korban akan menjalani pemulihan selama beberapa hari hingga kondisi mereka stabil. Kapendam menegaskan bahwa biaya perawatan akan ditanggung penuh oleh Kodam XX, termasuk pengeluaran untuk obat, alat bantu medis, dan pemantauan rutin.

Dalam konteks ini, Kodam XX menegaskan bahwa tindakan mereka bukan hanya untuk menjamin biaya medis, tetapi juga sebagai bentuk komitmen untuk menjaga hub

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *