Special Plan: Wakapolri tekankan strategi khusus hadapi perubahan ancaman terorisme

Special Plan: Wakapolri Perkenalkan Strategi Baru Hadapi Ancaman Terorisme

Special Plan – Dalam upaya menghadapi dinamika baru terorisme dan ekstremisme, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) Komisaris Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menegaskan pentingnya pendekatan strategis yang berbeda. Ancaman terorisme saat ini tidak lagi berbentuk organisasi besar yang terstruktur, melainkan berkembang melalui ruang digital, jaringan simpatisan, dan algoritma. “Perubahan besar sedang kita hadapi. Ancaman kini hadir dalam bentuk yang lebih fleksibel, tidak lagi terbatas pada struktur organisasi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.

Pendekatan Strategis dalam Menghadapi Perubahan Ancaman Terorisme

Kita harus beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Ancaman terorisme tidak lagi bisa dipahami secara terpisah antara global dan lokal, karena informasi bergerak cepat dan memengaruhi dinamika sosial dalam waktu singkat,” tambah Dedi.

Komisaris Jenderal Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa ekstremisme modern semakin terfragmentasi, berkembang melalui individu atau kelompok kecil yang tidak memiliki sistem formal. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana ide-ide radikal dapat menyebar dengan cepat melalui media digital, menyebabkan perubahan pola kekerasan yang lebih rumit. “Dengan digitalisasi, teroris bisa beroperasi secara tersembunyi, menghindari deteksi langsung oleh lembaga keamanan,” katanya.

Implementasi Program Special Plan oleh Densus 88 Antiteror Polri

Berdasarkan laporan Densus 88 Antiteror Polri per 19 Mei 2026, tercatat 115 anak yang tergabung dalam komunitas True Crime Community (TCC) serta 132 anak yang terpapar radikalisme di berbagai wilayah Indonesia. Angka tersebut menunjukkan adanya kecenderungan penyebaran ekstremisme yang lebih luas, terutama di kalangan generasi muda. “Kita harus menganggap data ini sebagai fenomena gunung es. Jika tidak segera diperhatikan, risiko akan berkembang lebih besar,” tambahnya.

Sebagai akibat dari perubahan ini, pendekatan pencegahan harus dilakukan lebih awal, sebelum ancaman terorisme benar-benar meresap ke dalam masyarakat,” jelas Wakapolri.

Menurut Dedi Prasetyo, untuk menghadapi tantangan ini, Densus 88 Antiteror Polri berencana menerapkan konsep ekologi berlapis. Pendekatan ini mengintegrasikan berbagai elemen seperti keluarga, sekolah, komunitas, pemerintah, serta ruang digital dalam sistem perlindungan bersama. Konsep tersebut diwujudkan dalam inisiatif “Rumah Aman Menuju Sekolah Aman,” yang bertujuan mengkoordinasikan upaya pencegahan dari berbagai pihak sejak awal.

Dengan sistem perlindungan berlapis ini, kita bisa mempercepat deteksi dini serta mengurangi kemungkinan pemicu radikalisme yang berdampak luas,” tutur Dedi Prasetyo.

Menurut Dedi, keberhasilan program Special Plan bergantung pada kolaborasi yang intensif antarlembaga. “Tidak ada satu institusi yang bisa mengatasi masalah ini sendirian. Sinergi antarlembaga harus menjadi prioritas,” lanjutnya. Ia menekankan bahwa penguatan ketahanan generasi muda adalah inti dari strategi khusus yang diterapkan dalam Special Plan. Selain itu, pemerintah daerah dan tokoh agama diminta berperan aktif dalam meminimalkan dampak ekstremisme.

Sementara itu, Kepala Densus 88 Antiteror Polri Irjen Pol. Sentot Prasetyo menegaskan bahwa timnya sedang meningkatkan kemampuan respons terhadap perubahan pola ancaman. “Strategi yang digunakan harus lebih adaptif, karena ancaman terorisme kini bergerak cepat dan dinamis,” ujarnya. Ia menyoroti pentingnya deteksi awal, asesmen risiko, serta peran aktif lembaga keamanan dalam mengendalikan pengaruh radikalisme di berbagai lapisan masyarakat.

Keamanan masa depan Indonesia akan terbangun melalui sinergi yang utuh antara Polri, kementerian, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, tokoh agama, dan masyarakat sipil,” tambah Sentot Prasetyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *