Key Discussion: BPOM gandeng PATPI kembangkan sistem pangan sehat pastikan gizi-mutu

Key Discussion: BPOM dan PATPI Kembangkan Sistem Pangan Sehat

Key Discussion – Jakarta kembali menjadi pusat perhatian dalam dunia pangan nasional. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi menggandeng Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) dalam sebuah kolaborasi strategis untuk mengembangkan sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan. Key Discussion ini menandai langkah penting dalam memastikan gizi dan mutu pangan Indonesia di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Melalui kerja sama ini, kedua pihak berkomitmen untuk mengawal kebijakan pangan yang berlandaskan sains dan bukti ilmiah.

Key Discussion: Tantangan Ganda Sektor Pangan

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, dalam Key Discussion ini menyampaikan bahwa sektor pangan Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan besar secara bersamaan. Perubahan iklim global mulai mempengaruhi produksi pangan lokal, sementara dinamika geopolitik internasional mengganggu stabilitas rantai pasok. Selain itu, pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan pangan yang lebih besar. Key Discussion juga menyoroti masih tingginya persoalan gizi masyarakat Indonesia yang perlu segera diatasi melalui pendekatan komprehensif.

“Karena itu, inovasi dan pengembangan teknologi pangan menjadi bagian penting dalam menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat di masa depan,” ujarnya dalam Key Discussion tersebut. Menurutnya, perkembangan teknologi pangan, termasuk berbagai metode pengolahan modern, perlu dipandang sebagai bagian dari solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang terus meningkat setiap tahunnya.

Key Discussion: Sikap BPOM Terhadap Pangan Ultra-Proses

Terkait perdebatan hangat mengenai pangan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF), Key Discussion ini menghasilkan kejelasan sikap dari BPOM. Taruna menegaskan bahwa BPOM tidak menolak perkembangan teknologi pangan sama sekali. Sebaliknya, fokus utama regulator adalah memastikan bahwa produk yang dihasilkan aman, berkualitas tinggi, dan memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

“Yang terpenting adalah hasil akhirnya. Selama produk tersebut aman, bermutu, bergizi, dan diproduksi melalui proses yang terstandar, maka teknologi harus menjadi bagian dari solusi,” katanya dalam Key Discussion yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan.

Dia juga menyoroti pentingnya reformulasi produk pangan untuk mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak yang berlebihan. Langkah ini bertujuan untuk menekan angka penyakit tidak menular yang terus meningkat di Indonesia. Upaya tersebut diperkuat melalui implementasi kebijakan Nutri-Level yang telah diterbitkan BPOM untuk membantu masyarakat memilih pangan yang lebih sehat dan bergizi.

Key Discussion: Penguatan Pengawasan dan Literasi Pangan

Selain itu, BPOM terus memperkuat pengawasan pangan olahan berbasis risiko melalui Program Manajemen Risiko (PMR). Key Discussion ini juga membahas bagaimana program tersebut mendorong pelaku usaha menerapkan pengawasan mandiri terhadap keamanan dan mutu produknya. Pendekatan ini dinilai sangat penting mengingat besarnya jumlah industri pangan di Indonesia yang mencapai jutaan unit usaha di seluruh nusantara.

Pihaknya dan PATPI sepakat bahwa sinergi antara regulator dan komunitas ilmiah menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pangan di masa depan. Dengan dukungan inovasi teknologi, penguatan regulasi berbasis sains, serta peningkatan literasi pangan masyarakat, sistem pangan nasional diharapkan semakin mampu menjamin kesehatan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Key Discussion: Dukungan PATPI untuk Kebijakan Berbasis Bukti

Sementara itu, dalam Key Discussion yang berlangsung produktif, Ketua Umum PATPI masa bakti 2022–2026 Giyatmi menyatakan dukungannya terhadap penguatan kebijakan pangan berbasis bukti ilmiah. Menurut Giyatmi, tantangan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat memerlukan kolaborasi yang erat antara regulator, akademisi, dan industri pangan nasional.

Giyatmi menekankan bahwa berbagai isu yang berkembang di masyarakat, termasuk mengenai UPF, perlu dibahas secara objektif berdasarkan kajian ilmiah yang mendalam. Penilaian terhadap suatu produk pangan, katanya, tidak dapat hanya didasarkan pada tingkat proses pengolahannya, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek keamanan, mutu, kandungan gizi, manfaat, serta pola konsumsinya.

“PATPI memandang bahwa kebijakan pangan harus dibangun di atas evidence-based policy. Sains harus menjadi fondasi dalam pengambilan keputusan agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” ujarnya dalam Key Discussion tersebut.

Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pangan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia di masa mendatang. Key Discussion antara BPOM dan PATPI ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia menuju sistem pangan yang lebih berkualitas dan berkeadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *