Main Agenda: Kemendukbangga: MBG mesti kuatkan ekosistem cegah stunting di daerah
Kemendukbangga: MBG Harus Perkuat Ekosistem Pencegahan Stunting di Daerah
Yogyakarta, Minggu
Main Agenda – Dalam upacara memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Daerah Istimewa Yogyakarta, Budi Setiyono, yang menjabat sebagai Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga)/Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menekankan pentingnya memperkuat ekosistem pencegahan stunting melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program ini tidak perlu membangun sistem baru, melainkan memperbaiki dan mengoptimalkan kerangka pelayanan yang telah ada di berbagai tingkat masyarakat.
Menurut Budi, MBG memiliki peran sebagai penambah daya dukung ekosistem yang sebelumnya sudah berjalan efektif. Ia menyoroti bahwa sektor-sektor seperti posyandu, Tim Pendamping Keluarga (TPK), bidan, puskesmas, dan tokoh masyarakat memiliki sistem pelayanan yang solid dan perlu didukung oleh MBG. “Dengan kehadiran MBG, kita bisa meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan dari ekosistem yang sudah ada, tanpa mengabaikan kontribusi masing-masing sektor,” jelasnya.
“Keberadaan MBG sebenarnya bisa menyempurnakan ekosistem tersebut. Mungkin yang perlu dioptimalkan adalah dari sisi menu, tata kelola, manajemen waktu, maupun pola komunikasi antarsektor,” kata Budi dalam diskusi bersama para kader TPK.
Ia juga menambahkan bahwa insentif yang diberikan kepada para kader TPK lebih bersifat dorongan tambahan, karena selama ini mekanisme seperti dapur sehat untuk mengatasi stunting atau pemberian makanan tambahan telah berjalan dengan baik. “Mereka bekerja secara sukarela dengan motivasi saling tolong-menolong dan menjalankan tugas sebagai anggota TPK, sehingga insentif itu lebih kepada memberikan stimulus tambahan,” ujarnya.
Menurut Budi, ekosistem yang sudah terbentuk sebelum adanya MBG telah mampu mencegah insiden kualitas distribusi makanan yang buruk. “Karena sistem pelayanan yang ada sudah teruji dan stabil, kita tidak perlu mengganti seluruhnya, tetapi fokus pada peningkatan kinerja,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa MBG harus menjadi bagian dari kerangka kerja yang integratif, terutama untuk menjaga kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) secara bersamaan.
“Sinergi lintas sektor dalam penanganan stunting. Selama ini, praktik baik (best practice) pelayanan (bagi ibu hamil hingga balita) di daerah sudah terbukti efektif, oleh karena itu, kita perlu memberikan arah evaluasi implementasi MBG tanpa menghilangkan peran sistem pelayanan yang sudah ada,” papar Budi.
Kemendukbangga juga mengingatkan bahwa perlu adanya penyesuaian dalam pengelolaan menu makanan agar lebih sesuai dengan kebutuhan nutrisi dari target sasaran. “Pola makan yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi geografis, budaya, dan tingkat akses masyarakat, sehingga bisa diterima secara luas,” jelasnya. Dengan pendekatan yang lebih holistik, MBG diharapkan mampu menjadi alat yang efektif untuk mendorong partisipasi lebih luas dari seluruh elemen masyarakat.
Budi Setiyono menyebutkan bahwa anggaran yang terbatas menjadi tantangan dalam distribusi makanan tambahan. Meski begitu, ia percaya bahwa dengan memanfaatkan ekosistem yang sudah ada, alokasi dana bisa lebih efisien dan berdampak nyata. “MBG harus berfungsi sebagai pengingat bahwa perlu adanya evaluasi terus-menerus dalam implementasi program, terutama terkait penggunaan anggaran,” katanya.
Program MBG sendiri dirancang untuk memastikan setiap keluarga menerima bantuan makanan yang bergizi, khususnya bagi anak-anak di bawah usia lima tahun, yang rentan terhadap stunting. Ia menekankan bahwa kesehatan balita bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan memerlukan kolaborasi antarlembaga dan partisipasi aktif dari keluarga. “Stunting adalah masalah multidimensi, sehingga solusi harus juga multidimensi,” tambah Budi.
Selain itu, Budi menyatakan bahwa MBG bisa menjadi media untuk memperkuat koordinasi antar daerah, khususnya dalam menjangkau wilayah yang sulit diakses. Ia mengungkapkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada komitmen dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat. “Kita perlu memastikan bahwa setiap komponen ekosistem bekerja secara harmonis dan tidak saling bertentangan,” jelasnya.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan angka prevalensi sekitar 29% pada anak usia 0-5 tahun. Dengan MBG, Kemendukbangga berharap dapat menurunkan angka ini secara signifikan. “Program ini bisa menjadi solusi jangka panjang, asalkan didukung oleh peran aktif dari seluruh sektor dan keluarga,” tegas Budi.
Sebagai penutup, Budi mengajak semua pihak untuk terus berkomitmen dan berinovasi dalam upaya mencegah stunting. Ia menegaskan bahwa MBG bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal menuju sistem yang lebih komprehensif. “Mari kita bersama-sama membangun ekosistem yang lebih kuat, agar stunting tidak lagi menjadi ancaman bagi generasi muda Indonesia,” pungkasnya.