New Policy: Usai gangguan teknis, pesawat haji mendarat aman di Madinah
Usai gangguan teknis, pesawat haji mendarat aman di Madinah
New Policy – Madinah, Arab Saudi—Setelah mengalami hambatan teknis selama penerbangan, pesawat Saudi Airlines yang membawa 380 calon haji dari Jawa Timur akhirnya mendarat dengan selamat di Madinah. Keberhasilan ini diungkapkan oleh Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Medan, Zulkifli Sitorus, dalam jumpa pers di Asrama Haji Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/4). Menurutnya, penerbangan kembali berjalan lancar setelah proses perbaikan selesai, meski sempat mengalami penundaan.
Gangguan Sistem Hidrolik Pesawat
Pesawat yang terlibat dalam insiden ini merupakan bagian dari kloter 16 Embarkasi Surabaya, yang berangkat dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebelumnya, pesawat melakukan pendaratan teknis di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Ahad (26/4) untuk pengisian bahan bakar. Namun, setelah proses tersebut, ditemukan masalah pada sistem hidrolik roda pesawat yang menghambat keberangkatan.
“Pesawat harus menjalani perbaikan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci,” jelas Zulkifli. Ia menambahkan, selama sekitar 24 jam, calon haji dievakuasi dan ditempatkan di sejumlah hotel di sekitar bandara.
Menurut Zulkifli, seluruh jemaah memperoleh pelayanan optimal selama menunggu perbaikan. Termasuk akomodasi, makanan, dan fasilitas yang disediakan oleh maskapai. Ia menyampaikan bahwa kondisi para jamaah tetap stabil dan tidak ada kejadian tak terduga.
Insiden ini memperlihatkan kecepatan respons PPIH dalam menghadapi situasi darurat. Tim teknis dan staf di bandara serta pesawat bekerja sama untuk memastikan perbaikan dilakukan secara efisien. Meski mengalami hambatan, jadwal keberangkatan ke Madinah tetap terpenuhi tanpa mengganggu visi keselamatan jemaah.
Peran Bandara Kualanamu dalam Penerbangan Hajj
PT Angkasa Pura Aviasi, operator Bandara Internasional Kualanamu, mengungkapkan bahwa sebanyak 274 penerbangan haji melakukan pendaratan teknis di bandara tersebut selama musim haji tahun ini. Director of Operation and Services, Dedy Sri Cahyono, menyatakan bahwa 142 penerbangan di antaranya adalah Garuda Indonesia, sementara 132 lainnya dioperasikan oleh Saudi Airlines.
“Operasional penerbangan haji berjalan terkendali dengan dukungan kapasitas apron dan area parkir pesawat yang memadai,” kata Dedy. Ia menekankan bahwa Kualanamu berperan sebagai pusat kritis untuk kebutuhan logistik, terutama pengisian bahan bakar sebelum perjalanan ke Tanah Suci.
Bandara Kualanamu juga menjadi tempat embarkasi bagi jamaah calon haji asal Sumatera Utara, dengan periode dari 22 April hingga 11 Mei 2026. Selama fase ini, ribuan jamaah diberangkatkan ke Arab Saudi dengan sistem yang terorganisir. Setelah itu, jamaah akan diberangkatkan kembali dari Madinah pada 1 hingga 21 Juni 2026.
Dedy menyoroti pentingnya bandara ini sebagai titik strategis untuk penerbangan haji. “Kualanamu menjadi bagian penting dalam mengelola alur penerbangan, baik saat berangkat maupun kembali dari Tanah Suci,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa fasilitas yang dimiliki bandara, termasuk jaringan kamar penginapan dan sistem pengaturan keberangkatan, memastikan kelancaran seluruh proses.
Kesiapan dalam Situasi Darurat
Kesiapan PPIH dan kerja sama dengan maskapai serta pihak terkait menunjukkan persiapan matang dalam menghadapi berbagai kemungkinan hambatan. Zulkifli Sitorus menyampaikan bahwa keberangkatan jemaah tidak terganggu meski ada pengisian bahan bakar tambahan di bandara. “Seluruh jamaah dilayani dengan baik, termasuk akomodasi dan konsumsi yang disediakan oleh maskapai,” lanjutnya.
Perbaikan pesawat yang memakan waktu sekitar 24 jam tidak menyebabkan kekhawatiran besar. Dengan koordinasi yang cepat, para calon haji tetap dapat melanjutkan perjalanan ke Madinah. Zulkifli juga mengapresiasi penanganan yang dilakukan oleh tim di lapangan, yang menjamin kenyamanan dan keselamatan jamaah selama proses tersebut.
Dalam rangka menghadapi musim haji yang padat, Kualanamu terus meningkatkan kapasitas operasionalnya. Dedy Sri Cahyono menegaskan bahwa bandara ini menjadi pusat utama untuk pendaratan teknis, terutama bagi pesawat yang membutuhkan bahan bakar ekstra. Ia menjelaskan bahwa sistem pengelolaan penerbangan di Kualanamu dirancang untuk menangani skala besar, termasuk situasi yang tidak terduga.
Selain itu, pihak bandara juga memastikan ketersediaan fasilitas pendukung, seperti tempat parkir, restoran, dan unit layanan darurat, untuk memenuhi kebutuhan calon haji. Dedy menyebutkan bahwa keberhasilan penerbangan haji bergantung pada kolaborasi yang solid antara seluruh stakeholder, termasuk maskapai, PPIH, dan tim pengelola bandara.