Pemkab Gorontalo Utara segera relokasi warga KAT Didingga
Pemkab Gorontalo Utara segera relokasi warga KAT Didingga
Permukiman terancam banjir bandang setelah tanggul jebol
Pemkab Gorontalo Utara segera relokasi warga – Gorontalo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo Utara tengah mengambil langkah cepat untuk mengosongkan permukiman warga yang berada di Komunitas Adat Terpencil (KAT) Didingga, Desa Didingga, Kecamatan Biau. Lokasi ini sempat menjadi perhatian utama setelah banjir bandang melanda wilayah tersebut, yang memaksa pemerintah setempat melakukan relokasi. Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, menyatakan bahwa relokasi ini dilakukan sebagai upaya mencegah risiko lebih besar yang dapat terjadi akibat kondisi aliran air yang berubah.
“KAT Didingga berada di Dusun Buade, Desa Didingga yang ditinggali oleh 54 Kepala Keluarga (KK),” ujarnya dalam wawancara di Gorontalo, Rabu (27/5).
Menurut Thariq, kejadian banjir bandang terjadi setelah hujan deras mengguyur Kecamatan Biau pada hari Selasa (26/5) siang. Meski sebelumnya telah ada tanggul pengaman sepanjang 30 meter, kekuatan air sungai yang meluap akibat jebolnya tanggul membuat aliran air mengubah jalur. “Sungai yang semula berada di samping permukiman KAT kini membentuk jalur baru di belakangnya, sehingga terlihat adanya dua aliran air yang berbeda,” jelas Thariq.
Banjir bandang ini mengakibatkan permukiman warga terancam, dengan air mencapai tingkat jendela rumah dan mengalir deras. Meskipun tidak ada korban jiwa, tiga unit rumah mengalami roboh, satu unit hanyut, dan 30 unit lainnya rusak parah. Thariq menambahkan bahwa pemerintah daerah telah berhasil mengajukan permohonan revitalisasi sungai setelah bencana tersebut, dengan tujuan meluruskan aliran air untuk menghindari luapan berulang.
“Sayangnya, tanggul yang telah diperbaiki kembali jebol, sehingga air sungai meluap lagi. Situasi ini sangat berpotensi mengancam keselamatan warga, terutama karena curah hujan masih tinggi,” kata Thariq.
Sebagai langkah darurat, Pemkab Gorontalo Utara meminta seluruh warga KAT Didingga untuk segera meninggalkan tempat tinggal mereka dan berpindah ke pengungsian yang lebih aman. Perempuan dan anak-anak menjadi prioritas dalam relokasi ini, sementara laki-laki bertugas mengamankan barang-barang milik keluarga. “Permukiman KAT telah kosong, kecuali sebagian warga yang memastikan keberadaan harta benda mereka,” tambahnya.
Menangani situasi darurat, pemerintah daerah juga mengkoordinasikan upaya dengan pemerintah provinsi serta instansi terkait. Langkah ini bertujuan untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan pasca-bencana. Banjir bandang sendiri melanda lima desa di Kecamatan Biau pada Selasa (26/5) pukul 15.00 WITA. Wilayah yang terdampak meliputi Desa Didingga, Huluto, Omuto, Bualo, dan Biau. Namun, banjir di tiga desa tersebut telah surut, sementara Desa Didingga masih mengalami genangan air.
Para warga yang terdampak banjir kini mulai membersihkan material lumpur yang menggenang di dalam rumah. Meski kondisi masih kritis, ada harapan bahwa relokasi akan memberikan perlindungan lebih baik bagi warga yang tinggal di daerah rawan. “Kami memberikan bantuan makanan bagi 3.500 warga terdampak melalui dapur umum yang dibangun memanfaatkan fasilitas MBG,” kata Thariq.
Dapur umum ini dibuat sebagai upaya mempercepat distribusi bantuan logistik, termasuk makanan dan air minum. Bupati menekankan bahwa seluruh bahan baku telah disiapkan oleh pemerintah daerah, sementara tempat penyimpanan menggunakan bangunan milik MBG. Selain itu, Pemkab juga sedang berupaya merekonstruksi infrastruktur seperti tanggul pengaman agar dapat menghadapi situasi serupa di masa mendatang.
Menurut informasi terkini, aliran sungai yang telah berubah tersebut masih mengancam permukiman di sekitar Dusun Buade. Banjir bandang yang terjadi sebelumnya mengakibatkan hambatan dalam aktivitas sehari-hari warga, termasuk akses ke jalan utama lintas Sulawesi. Thariq meminta masyarakat tetap waspada, karena hujan deras bisa kembali mengguyur wilayah tersebut. “Kami sedang berupaya memperbaiki sistem drainase dan melengkapi infrastruktur tanggul agar tidak terulang kembali,” tuturnya.
Sebagai antisipasi, pemerintah daerah juga mengadakan sosialisasi kepada warga terkait relokasi. Warga yang terdampak diimbau untuk mematuhi instruksi pemerintah, terutama dalam menyisihkan ruang untuk pengungsian. Sementara itu, tim penanggulangan bencana terus berjaga di sekitar area yang terkena banjir, memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Biau menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap perubahan aliran air. Terlepas dari upaya revitalisasi sungai yang telah dilakukan, kondisi cuaca ekstrem kembali menguji ketahanan infrastruktur. Thariq berharap dengan relokasi segera dilakukan, warga KAT Didingga dapat menghindari risiko lebih besar. “Kami percaya bahwa langkah ini akan memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat setempat,” kata dia.
Dalam rangka mengatasi dampak banjir, Pemkab Gorontalo Utara juga melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial. Bantuan logistik terus dikirimkan ke desa-desa terdampak, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan dan perawatan warga yang terluka. Kondisi ini mengingatkan pentingnya perencanaan yang matang dalam menghadapi bencana alam di wilayah rawan.
Sementara itu, sejumlah warga yang terpaksa mengungsi mengungkapkan rasa khawatir mereka. “Saya harap banjir ini cepat berlalu, agar rumah kami bisa kembali ditempati,” ujar salah satu warga. Meski demikian, mereka tetap bersyukur karena pemerintah daerah telah memberikan bantuan yang memadai. “Kami merasa didukung, meski harus sementara meninggalkan rumah,” tambah warga lainnya.
Kebutuhan akan kemampuan adaptasi warga terhadap situasi darurat menjadi sorotan utama dalam relokasi ini. Selain itu, pemerintah juga memperhatikan aspek psikologis masyarakat, dengan menyediakan tempat pengungsian yang nyaman dan berkelanjutan. Thariq menegaskan bahwa relokasi bukan hanya sekadar perpindahan fisik, tetapi juga upaya untuk membangun kembali kehidupan warga di lokasi yang lebih aman.
Dengan kondisi aliran air yang terus berubah, relokasi warga KAT Didingga dianggap sebagai langkah penting untuk mengurangi kerentanan wilayah tersebut. Pemkab Gorontalo Utara menargetkan keberhasilan dalam penanganan bencana ini, dengan perencanaan yang lebih matang di masa mendatang. “Kami berharap relokasi ini menjadi pelajaran untuk memperkuat sistem pengamanan di KAT Didingga,” pungkas Thariq.