Haul Masyayikh Situbondo: Ratusan Ribu Jamaah Selawat Nariyah Mendoakan Bangsa
Pemandanganindah.com – Situbondo, Jawa Timur menjadi saksi sejarah spiritual ketika ratusan ribu jamaah dari berbagai penjuru nusantara berkumpul di Alun-Alun Kabupaten Situbondo pada hari Minggu yang lalu. Acara Haul Masyayikh ini menghadirkan masyarakat lokal maupun para peziarah yang datang dari kota-kota besar seperti Jakarta, Kalimantan, dan wilayah Indonesia lainnya. Mereka semua hadir dengan satu tujuan mulia, yaitu melakukan selawat nariyah bersama dan memanjatkan doa untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang menjabat sebagai Bupati Situbondo sekaligus Ketua panitia penyelenggara Haul Masyayikh, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, acara ini merupakan bentuk penghormatan dan doa bagi para ulama, tokoh masyarakat, serta kiai yang telah berpulang ke rahmatullah. Di sisi lain, para peserta juga meneladani semangat perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kuat bagi masyarakat.
Tentu yang pertama harapannya dalam Haul Masyayikh ini mendoakan masyayikh dan tokoh masyarakat se-nusantara, mendapatkan berkah. Selain itu juga mendoakan bangsa Indonesia lebih baik.
Kegiatan mendoakan para kiai, guru-guru, dan pendahulu ini dipimpin secara langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo, KHR Moh Kholil As’ad Syamsul Arifin. Kehadiran para pengasuh pondok pesantren dari Jawa Timur menjadi salah satu daya tarik utama acara ini. Mereka datang bersama jamaah selawat nariyah yang telah menempuh perjalanan jauh untuk berpartisipasi dalam rangkaian doa dan selawat ini.
Salah satu hal menarik dari penyelenggaraan Haul Masyayikh kali ini adalah aspek pendanaannya. Kegiatan ini tidak menggantungkan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebaliknya, seluruh biaya operasional dan kebutuhan acara ditanggung melalui hasil urunan atau sumbangan sukarela dari seluruh jamaah selawat nariyah yang hadir. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan dan kepedulian umat terhadap acara keagamaan ini.
Di antara para tamu istimewa yang hadir dalam Haul Masyayikh tersebut adalah ulama muda kharismatik, KH Muhammad Abdur Rahman Al Kautsar, yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Kautsar. Beliau merupakan putra dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur. Dalam tausiyahnya, Gus Kautsar mengajak seluruh jamaah untuk tetap konsisten dalam mengamalkan selawat nariyah sebagai bagian dari ibadah harian.
Betapa bijaksananya guru kita, dari sekian banyak selawat, yang disarankan untuk diamalkan adalah selawat nariyah.
Gus Kautsar menjelaskan bahwa dengan konsisten mengamalkan selawat nariyah, Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi hamba-Nya dalam mewujudkan segala keinginan dan cita-cita. Selain itu, amalan ini juga berfungsi sebagai pelindung dari kemelaratan dan kelemahan hidup. Nama “nariyah” sendiri memiliki makna khusus, yaitu bahwa semua permohonan hamba akan cepat dikabulkan oleh Allah SWT.
Tidak usah banyak-banyak, cukup 11 kali dalam sehari, insya-Allah rekening kita tidak akan ada habisnya.
Menurut Gus Kautsar, umat Islam memiliki keinginan yang sama, yaitu keselamatan di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, mengamalkan selawat nariyah akan mendatangkan ampunan dari Allah SWT atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Manusia memang sering kali melakukan kesalahan, mudah tergoda, dan lalai dalam beribadah. Namun, dengan rajin berselawat, insya-Allah mereka akan selamat dan diampuni oleh Allah SWT.
Dari pantauan di lapangan, Haul Masyayikh juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan pengasuh pondok pesantren terkemuka di Jawa Timur. Di antaranya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, KH Moh Zuhri Zaini. Selain itu, mantan Menteri PAN-RB, Abdullah Azwar Anas, juga turut hadir bersama Bupati Bondowoso, KH Abd Hamid Wahid, serta Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan betapa besar perhatian masyarakat terhadap acara spiritual ini.
Acara Haul Masyayikh di Situbondo bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan momentum bagi umat Islam untuk memperkuat ikatan spiritual, mendoakan para pendahulu, dan memohon keberkahan bagi bangsa Indonesia. Dengan semangat kebersamaan dan konsistensi dalam beribadah, para jamaah berharap bahwa selawat nariyah yang mereka amalkan akan menjadi sebab turunnya rahmat dan kemudahan dari Allah SWT.
