Key Issue: Selandia Baru rayakan Matariki lewat kuliner fusion Indonesia

Selandia Baru Rayakan Matariki dengan Konsep Kuliner Indonesia-Peru

Key Issue – Jakarta menjadi tempat perayaan khas Matariki oleh Kedutaan Besar Selandia Baru dan New Zealand Trade and Enterprise (NZTE), Selasa lalu. Acara ini mengusung konsep kuliner yang menggabungkan cita rasa Indonesia dengan bahan-bahan premium dari Selandia Baru, yang menunjukkan komitmen kedua negara dalam memperkaya budaya melalui inovasi masakan. Berbagai bahan pangan seperti susu, daging sapi, buah segar, madu, dan produk olahan lainnya diangkat sebagai elemen utama dalam menu khusus yang disajikan untuk para tamu.

Perayaan dan Tema

Kedutaan Besar Selandia Baru di Indonesia mengadakan acara perayaan Matariki dengan nuansa yang berbeda dari tradisi sebelumnya. Matariki, yang merupakan momen penting dalam kalender Māori, diangkat sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi kreativitas kuliner melalui kolaborasi antara masakan lokal Indonesia dan bahan-bahan khas Selandia Baru. Dalam acara tersebut, para tamu dibawa ke pengalaman unik di mana menu tradisional diubah dengan sentuhan kekinian dari produk asing yang berasal dari negeri kiwi.

Konten Menu

Salah satu menu yang menarik perhatian adalah coto Betawi yang dihiasi sour cream dan parmesan grated cheese dari Selandia Baru. Kombinasi ini menciptakan kesan rasa gurih yang segar, sementara krim masak dan susu bubuk fortifikasi dalam laksa sayur menghasilkan kuah yang lebih ringan tetapi tetap mempertahankan aroma rempah khas Indonesia. Bebek goreng bumbu hitam juga hadir dengan sentuhan sambal mangga dan sour cream, yang memberikan keunikan rasa asam, manis, dan pedas. Menu lainnya adalah nasi goreng keciwis yang diberi siraman madu manuka, bahan alami yang terkenal di Selandia Baru.

Konteks Budaya dan Hubungan Kedua Negara

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Taula, menjelaskan bahwa tema perayaan ini juga bertujuan untuk memperkuat ikatan budaya antara kedua negara. “Kami senang dapat berbagi tradisi ini dengan masyarakat Indonesia. Matariki menjadi simbol pertemuan dua budaya, yang tercermin dalam pilihan menu fusion yang kami sajikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Matariki bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga momen refleksi untuk mengingat nilai-nilai tradisional sambil merayakan kreativitas modern.

“Matariki memberikan kesempatan bagi kita untuk merenungkan masa lalu, merayakan masa kini, dan menatap masa depan dengan penuh harapan,” kata Taula dalam wawancara khusus.

Acara ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan produk pangan Selandia Baru kepada masyarakat Indonesia. Taula menekankan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Selandia Baru tidak hanya terjalin melalui budaya, tetapi juga melalui kerja sama ekonomi dan perdagangan. “Semakin banyak warga Indonesia mulai mengenal dan mengonsumsi produk lokal Selandia Baru, seperti madu manuka dan susu fortifikasi, sebagai bagian dari pertumbuhan kerjasama ekspor,” imbuhnya.

Signifikansi Matariki dalam Kalender Māori

Matariki, yang merujuk pada gugusan bintang Pleiades, memiliki makna penting dalam tradisi Māori. Gugusan bintang ini muncul di langit malam pada pertengahan musim dingin, mengawali Tahun Baru dalam kalender lunar tradisional Māori yang disebut Maramataka. Pemilihan Matariki sebagai momen perayaan mencerminkan kebanggaan Selandia Baru atas warisan budaya mereka sekaligus menunjukkan minat untuk menggabungkan budaya dengan negara lain.

Dalam penjelasannya, Taula menyampaikan bahwa perayaan Matariki kali ini menekankan perpaduan antara bahan-bahan alami dan cara memasak yang inovatif. Ia menekankan bahwa ekspor produk pangan dari Selandia Baru ke Indonesia telah memberikan dampak positif, baik dalam aspek ekonomi maupun kesejahteraan masyarakat. “Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa kebudayaan bisa memperkaya kehidupan sehari-hari, bahkan melalui makanan,” tegasnya.

Kerja Sama dalam Bidang Pangan

Acara tersebut juga menyoroti upaya Selandia Baru dalam meningkatkan ketahanan pangan. Taula mengatakan bahwa penggunaan bahan pangan premium dari Selandia Baru dalam menu Indonesia bukan hanya sekadar eksperimen rasa, tetapi juga bentuk kerja sama untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi makanan. “Kami berharap, melalui Matariki, masyarakat Indonesia semakin menghargai produk Selandia Baru yang memiliki nilai nutrisi tinggi,” ujarnya.

“Kami sangat senang dapat berbagi tradisi ini dengan Indonesia. Tahun ini, kami ingin menghormati dan merayakan hubungan baik kedua negara dengan mengajak para tamu merasakan perpaduan cita rasa, sebuah representasi nyata dari bertemunya dua budaya kita,” kata Taula.

Para tamu yang hadir termasuk Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan, serta mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, merasakan pengalaman menikmati makanan yang menyatukan kekhasan masing-masing budaya. Dalam diskusi lanjutan, mereka membahas potensi pengembangan menu fusion di masa depan, termasuk pemanfaatan bahan pangan lokal Indonesia untuk menyesuaikan dengan preferensi pasar Selandia Baru.

Dengan menghadirkan menu yang tidak hanya enak tetapi juga bernuansa budaya, acara Matariki di Jakarta menunjukkan komitmen Selandia Baru dalam memperkuat hubungan dengan Indonesia. Taula menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi bagian dari strategi ekspor yang lebih luas, yang bertujuan untuk membangun kemitraan ekonomi melalui kreativitas makanan. “Kami ingin menunjukkan bahwa Selandia Baru bukan hanya negara paling timur, tetapi juga partner yang mampu memberikan nilai tambah dalam berbagai aspek kehidupan,” imbuhnya.

Ketahanan Pangan dan Diversifikasi Rasa

Di samping itu, Taula menyebutkan bahwa kerja sama dalam bidang pangan antara kedua negara juga menghasilkan peningkatan kualitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *