Latest Program: Dorong kompos keliling untuk Jaksel minim sampah

Dorong Kompos Keliling untuk Jaksel Minim Sampah

Latest Program – Jakarta – Tantangan pengelolaan sampah di ibu kota semakin mendesak. Dengan adanya kebijakan penghentian pengiriman sampah ke TPST Bantargebang, yang akan berlaku mulai 1 Agustus 2026, masyarakat di berbagai wilayah mulai berupaya mengatasi akumulasi limbah di lingkungan sekitar. Di Jakarta Selatan, sejumlah RW memilih mengambil langkah inisiatif untuk mengatasi masalah tersebut. Berbagai inovasi muncul, seperti program gerobak kompos keliling dan penggunaan rumah botol sebagai upaya mengurangi volume sampah dari sumber awal.

Inovasi untuk Pengelolaan Sampah dari Hulu

Program “kompos keliling” di RT 11/RW 07 Kelurahan Cilandak Barat, kata Imam Basori, Ketua RT setempat, bertujuan menyelesaikan masalah sampah di tingkat awal. Pihaknya menekankan pentingnya memastikan sampah rumah tangga tetap terkontrol, agar tidak menumpuk di tempat umum. Dengan mengolah sampah organik sejak di rumah, proses pengurangan limbah bisa berjalan lebih efisien. Basori menjelaskan, jika penanganan sampah dimulai dari sumbernya, maka volume yang mencapai tempat pembuangan akhir dapat berkurang secara signifikan.

“Kita berupaya menyelesaikan masalah sampah dari hulunya. Dengan begitu, sampah tidak sampai menumpuk di lingkungan,” ujar Basori.

Dalam sistem ini, petugas kompos berkeliling mengumpulkan sampah dapur dari rumah warga setiap hari. Limbah organik tersebut diolah menggunakan mesin kompos kecil, yang mampu mengubah bahan-bahan dapur menjadi pupuk dalam waktu sekitar enam jam. Setelah diproses, kompos yang dihasilkan bisa dicampur tanah dan digunakan kembali oleh masyarakat. Basori menambahkan, jika volume sampah meningkat, pengurus RT akan mengaktifkan mesin berkapasitas lebih besar untuk memastikan efisiensi pengolahan tetap terjaga. Mesin tersebut masih dalam tahap pembuatan.

Kapasitas dan Biaya Produksi

Gerobak kompos keliling saat ini memiliki kapasitas sekitar 2,5 meter kubik, dengan biaya pembuatan sekitar Rp5 juta. Mesin pengolah kompos sendiri menggunakan daya listrik 500 watt, sementara genset pendukung membutuhkan 800 watt. Keberadaan mesin ini memungkinkan pengolahan limbah organik dilakukan secara lokal, mengurangi ketergantungan pada pengangkutan ke TPST. Selain itu, penggunaan genset memastikan proses berjalan tanpa hambatan, bahkan dalam kondisi listrik tidak stabil.

Imam Basori berharap, hasil kompos yang dihasilkan nantinya dimanfaatkan untuk menanam tanaman di lingkungan warga. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya mencapai target “zero sampah” di area RT 11. Untuk memotivasi masyarakat, pihak RT berencana mengadakan lomba tanaman sayur antarrumah. Harapan mereka, kompetisi ini bisa menginspirasi warga untuk lebih aktif dalam memanfaatkan sisa-sisa sampah organik.

Transformasi Sampah Plastik

Di samping pengolahan sampah organik, RT 11 juga mengembangkan mesin pengepres botol plastik yang diberi nama “smart geprek”. Mesin ini dirancang secara kreatif, dengan memanfaatkan aktuator yang biasa digunakan pada kursi. Dengan desain ini, botol plastik yang dipres menjadi lebih padat, sehingga meningkatkan nilai ekonominya. Penyimpanan dan pengangkutan sampah plastik juga menjadi lebih mudah.

Basori menuturkan, proses pengepresan botol ini memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi volume sampah, hasilnya bisa digunakan untuk tujuan ekonomi. Masyarakat yang memilah sampah plastik secara aktif akan mendapatkan keuntungan dari hasil pengolahan. Inisiatif ini sejalan dengan upaya membangun kesadaran bahwa sampah bisa menjadi sumber pemasukan.

Kolaborasi dengan Pihak Eksternal

Pengurus RT juga menjalin komunikasi dengan pengepul barang bekas dan bank sampah di sekitar wilayah. Tujuannya, agar sampah yang dipilah memiliki nilai ekonomi yang nyata bagi warga. “Jika masyarakat mengetahui sampah memiliki manfaat ekonomis, mereka akan lebih termotivasi untuk memilah,” kata Basori. Upaya ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah, dari sekadar limbah menjadi barang bernilai.

Dengan inisiatif ini, RT 11 berupaya menciptakan ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Proses pengumpulan, pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan limbah diintegrasikan secara sistematis. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk pertanian rumahan, sementara sampah plastik menjadi bahan baku baru. Basori menegaskan, bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif warga.

Potensi dan Tantangan

Basori memaparkan, pengurangan volume sampah tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi. Dengan memilah sampah, warga bisa menghasilkan pendapatan tambahan melalui penjualan kompos atau plastik yang diproses. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam program ini meningkatkan kesadaran lingkungan. “Sampah bisa menjadi aset, bukan musibah,” tambah Basori.

Tantangan yang dihadapi masih ada, seperti perubahan kebiasaan warga dalam memilah sampah. Meski demikian, pihak RT yakin dengan sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan, masyarakat akan semakin terbuka. Proses pengepresan botol plastik, misalnya, membutuhkan pemahaman teknis dari warga. Untuk itu, pihak RT memberikan pelatihan singkat agar masyarakat bisa ikut andil dalam pengelolaan sampah.

Tujuan Jangka Panjang

Program kompos keliling dan smart geprek menjadi bagian dari upaya mencapai lingkungan bebas sampah. Basori menjelaskan, bahwa inisiatif ini tidak hanya fokus pada pengurangan, tetapi juga pada pemanfaatan optimal limbah. “Tujuan utama adalah mengubah cara pandang masyarakat tentang sampah,” pungkasnya. Dengan adanya nilai ekonomi, sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan peluang.

Di masa depan, Basori mengharapkan penggunaan kompos dan sampah plastik yang dihasilkan bisa lebih luas. Selain untuk kebun warga, hasil olahan ini juga bisa diperjualbelikan ke pedagang lokal atau dijual ke pengepul. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan sampah di RT 11 menjadi contoh yang bisa diikuti RW lain di Jakarta Selatan. Inovasi ini juga bisa menyebar ke daerah lain, sehingga mempercepat pencapaian target pengurangan sampah secara nasional.

Dalam konteks ini, Jakarta Selatan menjadi pelopor dalam penerapan program daur ulang berbasis komunitas. Kebijakan penghentian pengiriman sampah ke TPST Bantargebang menjadi peluang untuk menguji metode pengelolaan yang lebih ramah lingkungan. Pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah dari sumber awal menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban lingkungan. Basori menegaskan, bahwa keberhasilan program ini membutuhkan kebersamaan dari semua pihak, termasuk pemerintah, warga, dan pemangku kepentingan lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *