Latest Program: Ikatan alumni beri edukasi UMKM soal risiko usaha dan kelola keuangan
Ikatan Alumni SMA Negeri 37 Jakarta Tingkatkan Literasi Keuangan UMKM
Latest Program – Jakarta, Sabtu – Ikatan Alumni SMA Negeri 37 Jakarta (Ikasman 37 Jakarta) mengadakan program edukasi khusus untuk para pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam memahami risiko bisnis serta mengelola keuangan secara lebih baik. Kegiatan ini bertujuan menguatkan kemampuan keuangan pelaku usaha, yang menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan daya tahan ekonomi lokal.
Metode Simulasi Bisa Membuat Pelaku Usaha Lebih Percaya Diri
Dalam acara tersebut, Ketua Umum Ikasman 37 Jakarta, Boy Rafli Amar, menjelaskan bahwa pendekatan simulasi permainan keuangan digunakan untuk membuat peserta lebih dekat dengan realitas bisnis. “Pelaku usaha bukan hanya teori yang dibahas di ruang kelas, mereka justru diajak merasakan dinamika pasar yang selalu berubah-ubah melalui aktivitas praktis,” ujarnya.
“Dengan metode ini, peserta belajar langsung dari pengalaman mereka sendiri, bukan hanya teori,” tambah Boy Rafli Amar. Ia menekankan bahwa proses edukasi ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk berperan sebagai pengambil keputusan dalam mengatur arus dana, menghadapi ketidakpastian, hingga merancang strategi usaha yang adaptif.
UMKM Terutama Butuh Kemampuan Mengelola Keuangan
Boy Rafli Amar menyoroti bahwa tantangan utama yang dihadapi UMKM tidak hanya terletak pada akses modal, tetapi juga pada keahlian mengelola uang secara disiplin dan efektif. Menurutnya, literasi keuangan tidak cukup hanya tentang mencatat pemasukan dan pengeluaran, melainkan memahami cara mengambil keputusan berdasarkan analisis risiko, serta menjaga keberlanjutan usaha.
“Kemampuan ini penting karena dalam dunia usaha, setiap pilihan memiliki dampak yang bisa diperkirakan,” jelas Boy. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas UMKM harus dimulai dari pemahaman dasar yang mendalam, sehingga mereka bisa menghadapi perubahan ekonomi dengan lebih siap.
Boardgame Dipilih untuk Meningkatkan Keterlibatan Peserta
Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Aryawan Eko Purianto, menjelaskan alasan pihaknya memilih metode boardgame sebagai sarana pembelajaran. “Boardgame ini bisa memberikan pengalaman nyata dalam menghadapi situasi bisnis yang kompleks, namun tetap menyenangkan dan interaktif,” katanya.
“Peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga belajar bagaimana mengambil keputusan dalam kondisi dinamis,” tambah Aryawan. Ia menjelaskan bahwa dalam simulasi tersebut, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang berperan sebagai pengusaha. Mereka dihadapkan pada berbagai skenario, seperti manajemen modal, investasi, hingga tekanan risiko usaha.
Pelaku Usaha Dapat Merasakan Konsekuensi Setiap Pilihan
Kegiatan ini dirancang untuk memastikan peserta merasakan konsekuensi dari setiap keputusan keuangan. Dengan bermain boardgame, mereka bisa memahami betapa pentingnya perencanaan, pengendalian, dan evaluasi keuangan. “Dari situ, mereka belajar bahwa setiap langkah usaha harus dihitung dan direncanakan,” papar Aryawan.
Umpan Balik Peserta: Perspektif Baru dalam Mengelola Bisnis
Salah satu peserta, Erna Ratna, menyampaikan bahwa metode ini memberikan wawasan baru dalam menjalankan usaha. “Sebelumnya, saya mengelola usaha lebih berdasarkan kebiasaan, tetapi di sini saya belajar bahwa setiap keputusan memiliki dampak dan risiko yang perlu diperhitungkan,” ujarnya.
Erna menambahkan bahwa simulasi ini membantunya mengubah pola pikir tentang manajemen keuangan. “Saya kini lebih sadar bahwa perencanaan keuangan bisa menjadi kunci keberhasilan usaha,” tutur Erna. Hal ini sejalan dengan tujuan Ikasman 37 Jakarta yang ingin menciptakan UMKM yang adaptif dan terukur dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Penguatan Kapasitas UMKM Dengan Pendekatan Praktis
Boy Rafli Amar menekankan bahwa pendekatan ini lebih efektif karena mampu menggabungkan teori dan praktik langsung. “UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia. Jika mereka mampu mengelola dana secara bijak, maka daya tahan ekonomi masyarakat akan lebih kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa literasi keuangan adalah kunci utama dalam membangun kepercayaan diri pelaku usaha. “Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengelola keuangan dengan baik,” lanjut Boy. Dengan metode ini, peserta bisa mengapresiasi pentingnya kesadaran akan risiko, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Simulasi Memudahkan Pemahaman Konsep yang Rumit
Aryawan Eko Purianto menuturkan bahwa boardgame dirancang agar peserta lebih mudah memahami konsep-konsep yang rumit, seperti arus kas, investasi, dan analisis risiko. “Metode ini bisa menghadirkan situasi bisnis yang mirip dengan kehidupan nyata, sehingga peserta tidak hanya belajar teori, tetapi juga merasakan dampak setiap tindakan mereka,” kata Aryawan.
Menurutnya, pendekatan seperti ini mampu menjembatani kesenjangan antara pembelajaran akademik dan penerapan di lapangan. “UMKM perlu diberi sarana untuk belajar sambil bermain, karena cara ini lebih menyenangkan dan efektif,” imbuhnya. Dengan demikian, para pelaku usaha bisa lebih cepat menguasai manajemen keuangan yang holistik.
Langkah Nyata Meningkatkan Literasi Keuangan Masyarakat
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Ikasman 37 Jakarta dalam membangun kesadaran keuangan masyarakat. Dengan menekankan aspek risiko dan perencanaan, mereka berharap para peserta bisa menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri dan kritis. “Literasi keuangan adalah investasi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada modal yang tidak pasti,” papar Boy Rafli Amar.
Ia menilai simulasi ini menjadi alat yang baik untuk mengubah cara berpikir para pengusaha. “Dengan metode ini, mereka bisa belajar bagaimana menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti, termasuk krisis atau peluang baru,” jelasnya. Dalam era yang terus berubah, penguatan kemampuan keuangan UMKM diperlukan untuk memastikan usaha tetap bertahan dan berkembang.
Kemampuan Dasar Menjadi Fondasi Penting bagi Pertumbuhan Ekonomi
Boy Rafli Amar menegaskan bahwa pemahaman dasar tentang keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan usaha. “UMKM yang kuat akan mendorong stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat diulang dan diperluas ke berbagai daerah.
Dalam kesimpulannya, Boy menyatakan bahwa Ikasman 37 Jakarta ingin menciptakan UMKM yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu berkembang secara berkelanjutan. “Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendekatan yang sederhana bisa menghasilkan perubahan besar,” tambahnya.