New Policy: Pramono bersyukur Jakarta kini semakin aman

Pramono Bersyukur Jakarta Kini Semakin Aman

New Policy – Di tengah suasana perayaan tahun baru dan berbagai tradisi keagamaan yang berlangsung secara meriah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan rasa pujiannya terhadap kondisi keamanan kota yang terus meningkat. Menurutnya, hal ini terbukti dari kesuksesan berbagai kegiatan lintas agama dalam beberapa bulan terakhir, termasuk Natal, Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri, yang berjalan harmonis tanpa adanya gangguan serius. “Saya sangat bersyukur karena Jakarta kini lebih aman dan nyaman,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Jakarta, Sabtu.

Pengakuan tentang Kondisi Keamanan yang Meningkat

Pramono mengakui bahwa keberhasilan menjaga ketenangan kota ibu kota ini tidak hanya disebabkan oleh kemajuan dalam sektor keamanan, tetapi juga oleh peran aktif masyarakat dan lembaga-lembaga keagamaan. Ia menyebut bahwa perayaan Natal kolosal yang diadakan akhir tahun lalu, serta tradisi Nyepi dan Imlek yang kini lebih dikenal oleh warga Jakarta, menjadi bukti konkret bahwa toleransi antarumat beragama semakin membaik. “Kondisi ini menunjukkan bahwa kita berhasil membangun lingkungan yang damai di tengah keragaman budaya dan agama,” imbuhnya.

“Jakarta sekarang menjadi kota teraman nomor dua di ASEAN setelah Singapura. Tidak mungkin tanpa peran serta Keuskupan Agung Jakarta,” ujar Pramono.

Menurut Pramono, kota yang sempat mengalami gejolak dalam beberapa tahun terakhir kini telah mengalami perubahan signifikan. Ia menekankan bahwa peran jemaat Katolik, khususnya di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta, sangat penting dalam menciptakan suasana yang nyaman untuk semua kelompok masyarakat. “Seluruh warga Jakarta, termasuk para jemaat, telah berkontribusi secara aktif untuk menjaga ketenangan dan keharmonisan,” katanya.

Kinerja Jakarta dalam Indeks Kota Teraman ASEAN

Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Global Residence Index, Jakarta menduduki peringkat kedua sebagai kota teraman di Asia Tenggara pada tahun 2026. Skor kota ibu kota tersebut mencapai 0,72, sedangkan Singapura mengisi posisi pertama dengan skor 0,90. “Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, terutama karena sebelumnya Jakarta hanya berada di peringkat enam atau tujuh,” jelas Pramono.

Pramono menyoroti bahwa kenaikan peringkat Jakarta bukan hanya akibat kebijakan pemerintah, tetapi juga karena kolaborasi antara berbagai pihak. Ia menyebut bahwa pembukaan Monumen Nasional (Monas) untuk kegiatan keagamaan seperti Natal, Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri menjadi salah satu langkah strategis yang mendukung keberhasilan ini. “Dengan Monas menjadi tempat pameran dan perayaan lintas agama, kita bisa memperkuat rasa persatuan di tengah keragaman,” ujarnya.

Dalam wawancaranya, Pramono juga mengatakan bahwa faktor-faktor seperti peningkatan pengawasan oleh petugas keamanan, penyelenggaraan acara budaya yang lebih terorganisir, serta kebijakan inklusif dari pemerintah daerah, menjadi penyumbang utama terhadap peningkatan kualitas hidup warga Jakarta. “Semua ini menggambarkan komitmen kita untuk menciptakan kota yang aman bagi semua kalangan,” tambahnya.

Peran Keuskupan Agung Jakarta dalam Membangun Keamanan

Pramono menegaskan bahwa Keuskupan Agung Jakarta memiliki peran penting dalam memastikan Jakarta tetap menjadi kota yang harmonis. Ia menyebut bahwa lembaga keagamaan ini tidak hanya mengawasi kegiatan jemaat, tetapi juga menjadi penghubung antara berbagai komunitas. “Mereka membantu menjaga keharmonisan antarumat beragama, terutama selama acara besar seperti Natal atau Idul Fitri,” jelasnya.

Menurut Pramono, partisipasi Keuskupan dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti Natal kolosal dan perayaan Nyepi juga menunjukkan bahwa toleransi antarumat beragama tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. “Kita bisa melihat bagaimana kegiatan-kegiatan ini tidak hanya diminati warga Jakarta, tetapi juga menjadi daya tarik bagi pengunjung dari luar kota,” katanya.

Indeks Global Residence: Penilaian dari Perspektif Internasional

Laporan Global Residence Index edisi 16 Januari 2026 menyoroti Jakarta sebagai salah satu kota teraman di Asia Tenggara. Dalam studi ini, kota ibu kota mencatatkan peningkatan signifikan dalam skor keamanan, yang sebelumnya berada di posisi keenam hingga ketujuh. “Kita harus bersyukur karena keamanan Jakarta sudah bisa bersaing dengan kota-kota besar lainnya di ASEAN,” ujarnya.

Pramono menambahkan bahwa keberhasilan ini juga didukung oleh kebijakan pembukaan ruang publik untuk berbagai acara keagamaan. Dengan Monas menjadi pusat perayaan, banyak warga Jakarta yang merasa lebih nyaman berpartisipasi dalam kegiatan budaya dan agama. “Selain itu, kita juga melibatkan masyarakat sipil dalam mengawasi aktivitas di sekitar Monas, sehingga tidak ada ruang bagi konflik,” katanya.

Analisis Kondisi Keamanan di Jakarta

Menurut Pramono, peningkatan kondisi keamanan Jakarta tidak terlepas dari kebijakan yang secara teratur diterapkan. Ia menyebut bahwa pembukaan Monas untuk acara keagamaan menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah berupaya menciptakan ruang yang inklusif bagi seluruh kelompok. “Kita tidak hanya fokus pada keamanan fisik, tetapi juga pada keamanan spiritual dan sosial,” imbuhnya.

Menurut Pramono, keberhasilan menjaga ketenangan di Jakarta juga terbukti dari tingkat kepuasan warga terhadap layanan publik. Ia menuturkan bahwa perayaan keagamaan seperti Natal, Imlek, dan Idul Fitri yang diadakan di berbagai tempat, termasuk Monas, tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga menunjukkan Jakarta sebagai pusat budaya dan keagamaan yang aman. “Kota ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tempat beribadah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *