Latest Program: Anggota DPR: Perkuat kewaspadaan akan hantavirus dengan sistem terpadu
DPR Anggota: Sistem Terpadu Diperlukan untuk Meningkatkan Waspada terhadap Hantavirus
Latest Program – Kasus hantavirus yang kini menyebar ke kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memicu perhatian serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya wabah di sana pada 2 Mei 2026, dengan tujuh penumpang dan awak kapal yang terkena gejala penyakit. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia, menunjukkan potensi ancaman yang serius. Berdasarkan informasi dari WHO, kemungkinan para korban telah terinfeksi sebelum naik ke kapal, sehingga penularan antar manusia di atas kapal tidak dapat diabaikan. Fenomena ini memperkuat kebutuhan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis) ini.
Strategi Pencegahan Harus Berbasis Pendekatan Terpadu
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto menyoroti pentingnya implementasi sistem kesehatan terpadu (one health system) dalam menghadapi hantavirus. Ia mengatakan, pencegahan penyakit ini tidak bisa hanya bergantung pada layanan kesehatan rumah sakit, karena hantavirus memiliki hubungan erat dengan lingkungan hidup masyarakat sehari-hari. “Ini menyangkut kondisi lingkungan yang menjadi tempat tinggal dan aktivitas manusia,” jelas Edy dalam pernyataannya di Jakarta, Senin.
“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ucap Edy dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Edy mengusulkan tiga langkah utama untuk memperkuat pencegahan. Pertama, ia menekankan perlunya penguatan pengawasan terhadap penyakit demam akut yang belum teridentifikasi, agar kasus hantavirus tidak luput dari perhatian. Kedua, peningkatan kapasitas laboratorium untuk diagnosis akurat, termasuk penggunaan tes PCR dan serologi yang lebih efektif. Ketiga, pengendalian hewan pengerat dan sanitasi lingkungan yang melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif. “Manajemen sampah, kebersihan permukiman, dan pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian utama kebijakan kesehatan publik,” tambahnya.
Penyakit yang Menyebar secara Tidak Terduga
Edy menjelaskan bahwa hantavirus bukan hanya ancaman dari kemungkinan pandemi besar, tetapi juga bisa muncul secara tiba-tiba karena sifatnya yang tersembunyi. “Ini adalah ancaman yang perlahan tapi pasti mengintai,” kata dia. Ia mengingatkan bahwa virus ini dapat menyebar melalui partikel urine, feses, atau air liur tikus yang terhirup oleh manusia. Kondisi seperti gudang, rumah kosong, atau area berantakan yang tidak dikelola dengan baik menjadi tempat berkembang biak tikus, yang berpotensi meningkatkan risiko infeksi.
“Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” kata dia.
Ia menekankan bahwa edukasi publik perlu diperluas, terutama mengenai tindakan pencegahan yang bisa dilakukan oleh masyarakat. “Masyarakat harus memahami cara menghindari kontak dengan partikel dari hewan pengerat,” tambah Edy. Selain itu, ia menyebutkan pentingnya koordinasi lintas sektor, mengingat hantavirus berkaitan dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga dampak perubahan iklim. “Kita tidak boleh menunggu sampai lonjakan kasus besar terjadi baru bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan penting daripada penanganan setelah situasi memburuk,” jelasnya.
Kasus di Kapal Pesiar: Tanda Awal Kebutuhan Kesiapan Nasional
Kasus hantavirus di MV Hondius, yang berlayar dari Argentina, menunjukkan bagaimana virus ini bisa menyebar ke lingkungan baru. Dalam pemberitahuan WHO pada Selasa (5/5), mereka mengatakan bahwa wabah ini mungkin telah dimulai sebelum kapal berlayar, sehingga penularan antar manusia di atas kapal menjadi kemungkinan. Fakta ini menambah urgensi untuk memperkuat sistem kewaspadaan di Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI menanggapi laporan tersebut dengan menjalin kerja sama dengan WHO untuk memperbaiki skrining hantavirus. “Kita sedang mempersiapkan mekanisme skrining agar lebih efektif,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis (7/5). Ia menjelaskan bahwa skrining dilakukan dengan tes cepat, mirip metode yang digunakan saat pandemi COVID-19, atau reagen untuk mesin PCR. Saat ini, pihaknya masih fokus pada surveilans untuk memantau pergerakan virus.
Pencegahan Lebih Efektif dengan Pendekatan Holistik
Edy menyoroti bahwa hantavirus memiliki potensi tinggi mengancam kesehatan masyarakat jika tidak diperhatikan sejak dini. Dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, seperti Andes virus yang menyebabkan gangguan pernapasan berat, virus ini tidak boleh diabaikan meskipun tidak selalu menimbulkan wabah besar. “Kita harus siap menghadapi ancaman yang mungkin tidak terduga,” ujarnya.
“Justru karena sifatnya silent threat (ancaman tersembunyi), kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” ujar Edy berpesan.
Kebijakan kesehatan terpadu diusulkan sebagai jawaban untuk memperkuat upaya pencegahan. Edy menekankan bahwa sistem ini membutuhkan kolaborasi antara sektor kesehatan, lingkungan, dan masyarakat. “Koordinasi yang baik akan memastikan setiap langkah pencegahan diterapkan secara menyeluruh,” katanya. Dengan memperhatikan kebersihan lingkungan dan memantau keberadaan hewan pengerat, risiko infeksi dapat dikurangi secara signifikan.
Dampak Global: Hantavirus Bisa Menyebar ke Berbagai Wilayah
Kasus di kapal pesiar menjadi bukti bahwa hantavirus tidak hanya terbatas pada satu wilayah tertentu. Jika tidak diatasi secara cepat, virus ini bisa menyebar ke daerah lain, terutama dengan adanya mobilitas global yang tinggi. Edy menyarankan bahwa pemerintah harus menyiapkan strategi nasional yang komprehensif untuk menghadapi ancaman ini. “Kita perlu membangun kesadaran kolektif tentang keterkaitan antara kesehatan manusia dan lingkungan hidup,” tambahnya.
Menurut Edy, keberhasilan pencegahan hantavirus bergantung pada peningkatan kesadaran masyarakat dan kebijakan yang berbasis data. Ia menilai bahwa kelompok risiko tinggi, seperti pekerja di lingkungan berisiko tinggi, harus diberikan perlindungan khusus. “Program edukasi harus mencakup cara mencegah kontak dengan tikus dan lingkungan yang kotor,” jelasnya.
Kesiapan di Tengah Ancaman Zoonosis
Dalam konteks global, hantavirus masuk ke dalam kategori zoonosis yang memerlukan penanganan serius. Edy menambahkan bahwa ancaman ini bisa menjadi lebih besar jika tidak diawasi secara aktif. “Kita perlu melibatkan semua pihak, dari tingkat pemerintah hingga individu, dalam mencegah penyebaran,” katanya. Selain itu, ia menekankan perlunya sistem pengawasan yang terintegrasi, karena penyakit seperti ini sering kali muncul secara tiba-tiba.
Edy juga mengingatkan bahwa pandemi sebelumnya mengajarkan pentingnya k