DIY jadi inspirasi – Fahri Hamzah temui Sri Sultan X bahas tata kota
Fahri Hamzah Berdiskusi dengan Sri Sultan X: DIY Sebagai Model Tata Kota Berkelanjutan
DIY jadi inspirasi – Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, melakukan pertemuan penting dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada hari Selasa tanggal 14 Juli. Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh membahas secara mendalam mengenai arah masa depan permukiman serta penataan kota yang berkelanjutan. Diskusi ini menjadi momen berharga bagi pengembangan konsep pembangunan yang lebih humanis dan sesuai dengan karakteristik lokal.
Visi Pembangunan yang Berpusat pada Manusia
Selama pertemuan berlangsung, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan pesan penting mengenai prinsip-prinsip dasar pembangunan kawasan perkotaan. Beliau menegaskan bahwa setiap upaya pembangunan tidak boleh kehilangan pijakan utamanya. Tiga pilar utama yang harus selalu menjadi fondasi adalah manusia, budaya, dan karakter wilayah. Penekanan ini menunjukkan bahwa pembangunan fisik semata tidak cukup tanpa memperhatikan aspek sosial dan kultural masyarakat setempat.
Pernyataan Sri Sultan ini selaras dengan visi pembangunan yang telah lama dipegang oleh Kesultanan Yogyakarta. Menurut beliau, kota yang baik adalah kota yang mampu menyeimbangkan kemajuan modern dengan pelestarian nilai-nilai tradisional. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kota-kota lain di Indonesia yang sering kali terjebak dalam pembangunan tanpa identitas.
DIY sebagai Inspirasi Nasional
Daerah Istimewa Yogyakarta telah lama dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki pendekatan unik dalam tata kelola kota. Kombinasi antara pemerintahan daerah dengan sistem kesultanan menciptakan dinamika pembangunan yang berbeda dari daerah lain. Fahri Hamzah melihat potensi besar dari model ini untuk dapat diadopsi oleh berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam diskusi tersebut, Wakil Menteri Perumahan menekankan bahwa pengalaman DIY dalam menangani masalah permukiman dan penataan kota layak menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya. Konsep pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga memperhatikan aspek sosial budaya, terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan yang layak huni dan berkelanjutan.
Masa Depan Permukiman yang Berkelanjutan
Salah satu topik utama yang dibahas adalah mengenai masa depan permukiman di Indonesia. Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan akan perumahan dan kawasan permukiman yang berkualitas menjadi semakin mendesak. Fahri Hamzah menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan di DIY dapat memberikan solusi bagi berbagai tantangan permukiman yang dihadapi oleh banyak kota besar di Indonesia.
Pembangunan kawasan perkotaan yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sri Sultan Hamengku Buwono X menambahkan bahwa karakter khas setiap wilayah harus tetap dijaga meskipun terjadi modernisasi. Hal ini penting untuk mencegah hilangnya identitas lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Pertemuan antara Fahri Hamzah dan Sri Sultan X ini diharapkan dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan konsep tata kota. Dengan menggabungkan keahlian teknis dari pemerintah pusat dengan kearifan lokal dari Yogyakarta, Indonesia dapat menemukan model pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan untuk masa depan.
Pembangunan kawasan perkotaan tidak boleh kehilangan pijakan utamanya, yakni manusia, budaya dan karakter wilayah.
Pertemuan ini juga menjadi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk saling bertukar pandangan mengenai berbagai isu strategis dalam pembangunan nasional. Fahri Hamzah menyampaikan apresiasi atas komitmen Sri Sultan dalam menjaga nilai-nilai luhur Yogyakarta sambil tetap membuka diri terhadap inovasi dan perkembangan modern. Kedua tokoh sepakat bahwa masa depan Indonesia terletak pada kemampuan kita untuk menghargai kearifan lokal sambil menghadapi tantangan global.
Dengan demikian, pertemuan pada hari Selasa, 14 Juli ini bukan hanya sekadar diskusi formal, melainkan juga merupakan langkah nyata menuju pembangunan yang lebih holistik. Model yang dikembangkan di DIY dapat menjadi inspirasi bagi berbagai daerah di Indonesia untuk menciptakan tata kota yang tidak hanya modern, tetapi juga memiliki jiwa dan karakter yang kuat.
(Imam Prasetyo Nugroho/Rizky Bagus Dhermawan/Winanto)