Latest Program: USK: Silvofishery jadi solusi merawat ekosistem mangrove di Aceh

USK: Silvofishery Jadi Solusi Merawat Ekosistem Mangrove di Aceh

Latest Program – Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Wakil Rektor III Prof Mustanir menekankan bahwa pendekatan silvofishery dapat menjadi solusi strategis dalam memulihkan serta menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove, khususnya di daerah pesisir Aceh. Dalam sebuah wawancara pada Selasa di Banda Aceh, ia menjelaskan bahwa sistem ini tidak hanya memungkinkan pemulihan hutan mangrove, tetapi juga memastikan bahwa kegiatan akuakultur tetap bisa berjalan tanpa mengganggu lingkungan alam.

Workshop Internasional Fokus pada Integrasi Silvofishery

Usulan tersebut diungkapkan dalam acara workshop internasional yang berjudul “Dari Restorasi Menuju Keberlanjutan: Integrasi Mangrove dan Akuakultur melalui Sistem Silvofishery,” yang diadakan oleh Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) USK. Acara ini diselenggarakan di Aula Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) USK dan dihadiri oleh berbagai peneliti, termasuk Prof Min Kyu Moon dari Kangwon National University di Korea Selatan serta Dr Myeong Jun Kim, direktur Forest Environment & GeoSpatial Technology Research Institute.

Menurut Prof Mustanir, silvofishery merupakan penggabungan antara kegiatan pertanian dan perikanan, yang diharapkan bisa menjembatani antara perbaikan lingkungan dengan pemanfaatan sumber daya secara bijak. Sistem ini, katanya, memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan antara pelestarian ekosistem alami dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir.

“Silvofishery tidak hanya menjadi metode teknis, tetapi juga alat yang mampu menyelaraskan antara restorasi ekosistem dengan produktivitas sumber daya,” ujar Prof Mustanir.

Ia menjelaskan bahwa hutan mangrove tidak hanya sebagai tanaman tumbuh-tumbuhan, tetapi juga sebagai pelindung alami terhadap erosi pantai, penyerap karbon, serta rumah bagi berbagai keanekaragaman hayati. Selain itu, mangrove juga menjadi basis penghidupan bagi masyarakat pesisir yang mengandalkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian utama.

Meski demikian, ekosistem ini kini menghadapi ancaman serius. Prof Mustanir menyoroti berbagai faktor yang menyebabkan degradasi mangrove, seperti perubahan fungsi lahan, pencemaran lingkungan, dampak perubahan iklim, dan metode akuakultur yang tidak ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara aspek ekologi dan ekonomi tidak bisa dipisahkan. “Kita perlu solusi yang bisa memulihkan lingkungan sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Perspektif USK Sebagai Pusat Kebijakan dan Inovasi

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berada di wilayah pesisir, USK Banda Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk mengambil peran aktif dalam pengelolaan sumber daya alam. Prof Mustanir menegaskan bahwa universitas ini tidak hanya sekadar menciptakan pengetahuan, tetapi juga harus memastikan bahwa riset menjadi langkah nyata, data diubah menjadi kebijakan, dan inovasi mencapai masyarakat yang paling membutuhkan.

Profesor tersebut menyampaikan bahwa usaha-usaha restorasi hutan mangrove perlu didukung oleh strategi ilmiah yang terukur. “Kita harus memastikan bahwa semua upaya dilakukan berdasarkan data dan pemahaman ilmiah yang mendalam,” ujarnya. Dengan demikian, kebijakan yang diambil nantinya tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga berkualitas, serta mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.

“Kita perlu mengintegrasikan restorasi dengan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Jika tidak, risiko kerusakan ekosistem akan terus mengancam kehidupan masyarakat pesisir,” tambah Prof Mustanir.

Menurut Prof Mustanir, jangka pendek kini kerap dijadikan prioritas, sehingga sering kali mengabaikan kebutuhan lingkungan jangka panjang. “Saat ini, banyak pihak fokus pada keuntungan segera dari kegiatan akuakultur, tetapi hal ini berpotensi merusak ekosistem secara permanen,” jelasnya. Untuk mengatasi ini, ia berharap bahwa workshop akan menjadi platform untuk memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dalam merancang strategi yang lebih holistik.

Masa Depan Pesisir Tergantung pada Kebijakan Saat Ini

Prof Mustanir menekankan bahwa masa depan wilayah pesisir Aceh sangat bergantung pada keputusan yang diambil hari ini. “Jika kita terus mengutamakan keuntungan jangka pendek, maka mungkin akan menghadapi konsekuensi yang lebih besar di masa depan,” katanya. Oleh karena itu, ia mendorong agar acara ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga mendorong implementasi solusi yang dapat diakses oleh semua pihak.

Silvofishery, menurut Prof Mustanir, merupakan metode yang bisa diterapkan secara luas. Sistem ini, dijelaskan, tidak hanya memperbaiki ekosistem, tetapi juga meningkatkan produktivitas sumber daya laut tanpa mengorbankan lingkungan. “Kita bisa menggabungkan kegiatan budidaya ikan dengan pemulihan hutan mangrove, sehingga tercipta keseimbangan yang baik,” ujarnya.

Dalam kesimpulannya, Prof Mustanir menegaskan bahwa keberhasilan restorasi mangrove tidak hanya bergantung pada teknologi atau kebijakan, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat pesisir. “Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi ini, karena mereka adalah yang paling langsung memperoleh manfaat dari pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan,” demikian Prof Mustanir.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana silvofishery bisa diintegrasikan ke dalam sistem pemanfaatan sumber daya yang lebih luas. Dengan menggabungkan kegiatan restorasi dan akuakultur, USK ingin menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat pesisir tidak harus melawan lingkungan, tetapi bisa menjadi bagian dari proses penyelesaian masalah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *