Meeting Results: Perempuan paling terdampak krisis iklim akibat kelangkaan air

Perempuan Paling Terdampak Krisis Iklim Akibat Kelangkaan Air

Meeting Results – Kuningan, Jawa Barat (ANTARA) – Di tengah tantangan krisis iklim yang semakin mengintai, perempuan dianggap sebagai kelompok yang paling rentan menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim, khususnya dalam hal ketersediaan sumber air di daerah pedesaan. Hal ini diungkapkan oleh Arga Paradita Sutiyono, Project Manager FOLU Net Sink 2&3 Kementerian Kehutanan, dalam forum diskusi bertema “Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030” yang berlangsung di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Senin (11 Mei 2026). Ia menyoroti bahwa pemanasan global tidak hanya menyebabkan kenaikan suhu, tetapi juga membawa ancaman serius terhadap kesetaraan gender dalam kehidupan masyarakat.

Peran Perempuan dalam Ketersediaan Air

Arga menjelaskan bahwa perempuan sering menjadi pihak utama yang terlibat dalam aktivitas pengambilan air di lingkungan desa. “Perempuan di pedesaan umumnya bertugas mengumpulkan air untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, mencuci, dan memenuhi kebutuhan air minum keluarga,” katanya. Jika sumber air terganggu karena krisis iklim, misalnya akibat kekeringan atau pengurangan aliran mata air, perempuan harus menghabiskan lebih banyak energi dan waktu untuk mencari air. Ini tidak hanya meningkatkan beban fisik mereka, tetapi juga memengaruhi akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kesejahteraan secara keseluruhan.

“Dampak krisis iklim terhadap perempuan sangat tinggi. Contoh paling sederhana di desa, rata-rata perempuan yang bertugas mengambil air. Jika krisis iklim menyebabkan mata air hilang, perempuan harus menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan air,” ujarnya dalam forum diskusi “Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030” di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Senin.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa dalam menghadapi krisis iklim, perempuan perlu diprioritaskan sebagai kelompok yang paling rentan. Bukan hanya karena peran mereka dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga karena keberadaan mereka memengaruhi keberlanjutan lingkungan dan sosial. “Perempuan sering menjadi pihak yang paling terdampak karena tanggung jawab mereka dalam aktivitas rumah tangga dan ekonomi keluarga,” tambahnya. Dengan menanamkan prinsip keadilan gender dalam setiap kebijakan lingkungan, harapan ada untuk mengurangi ketidaksetaraan dan meningkatkan kesejahteraan.

Integrasi Prinsip Safeguard dalam Program Mitigasi

Mengenai hal ini, Arga memastikan bahwa program mitigasi perubahan iklim melalui Indonesia FOLU Net Sink 2030 sudah mengintegrasikan prinsip safeguard. Prinsip ini bertujuan untuk memastikan perlindungan sosial dan lingkungan, termasuk menjamin keadilan gender dalam setiap aspek pelaksanaannya. “Kita tidak boleh lupa bahwa keadilan gender dalam program kehutanan bukan hanya soal perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga tentang peran, akses, dan partisipasi yang sama,” jelasnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa aksi nyata dalam pengelolaan hutan tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat yang merata bagi seluruh masyarakat.

“Dalam pelaksanaan program ini, jangan sampai kita melupakan isu gender. Akses dan partisipasi harus setara. Hal ini penting agar aksi menanam pohon dan menjaga hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan perlindungan sosial bagi kelompok rentan,” ujarnya.

Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia FOLU Net Sink 2030 diadakan pada 11-13 Mei 2026 di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Acara ini menampung partisipasi dari berbagai lembaga, termasuk kementerian-kehumasan, lembaga pemerintah bidang protokoler, serta organisasi konservasi swadaya masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan pewarta nasional yang tergabung dalam Kementerian Kehutanan. Tujuan utamanya adalah membangun kesadaran tentang peran perempuan dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus memperkuat narasi positif terkait kebijakan kehutanan.

Menurut Arga, kegiatan edukatif dan inspiratif ini bertujuan untuk memperkenalkan perempuan sebagai aktor kunci dalam pengelolaan hutan dan pencapaian target FOLU Net Sink 2030. FOLU Net Sink 2030 adalah inisiatif yang berfokus pada pengurangan emisi karbon melalui restorasi hutan. Dengan melibatkan perempuan, program ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan. “Perempuan memiliki peran yang vital dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, dan program ini bertujuan untuk menempatkan mereka di posisi yang setara,” kata Arga.

Menurut Kementerian Kehutanan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara berbagai lembaga pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat. “Dengan pendekatan komunikasi publik yang efektif serta kolaborasi berkelanjutan, kita bisa mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya kehutanan nasional,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kebijakan yang inklusif dan berbasis gender akan membawa perubahan signifikan dalam pengelolaan sumber daya alam, termasuk air, yang menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat.

Pentingnya Perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *