Tokoh adat Jembrana syukuri pembangunan PLTS di Bali

14 hours ago  ·  4 min read
By Matthew Brown - pemandanganindah.com

Panel Surya 300 MWp di Gilimanuk Jadi Simbol Harapan Baru bagi Masyarakat Adat Jembrana

Pemandanganindah.com – Sebuah instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 megawatt peak (MWp) kini berdiri di kawasan Monumen Operasi Lintas Jawa-Bali, Gilimanuk, ujung barat Pulau Bali. Proyek ini bukan sekadar tambahan kapasitas listrik di jaringan kelistrikan nasional, melainkan juga menjadi titik perhatian bagi komunitas adat yang selama ini bergantung pada pasokan energi dari luar wilayah mereka. Bagi warga Jembrana, kehadiran fasilitas energi terbarukan ini menandai pergeseran nyata dalam cara pemerintah memandang kebutuhan energi daerah-daerah terpencil.

Di tengah ambisi nasional Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai total kapasitas surya 100 gigawatt peak (GWp), PLTS Gilimanuk menempati posisi strategis sebagai salah satu proyek percontohan yang menggabungkan pembangkit surya dengan sistem penyimpanan baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berkapasitas 1.000 megawatt hour (MWh). Kombinasi keduanya memungkinkan listrik yang dihasilkan pada siang hari tetap tersedia saat malam, sehingga mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbahan bakar fosil yang selama ini mendominasi bauran energi di kawasan tersebut.

Suara dari Akar Rumput: Apresiasi Tokoh Adat Tegalcangkring

Bendesa Adat Tegalcangkring I Ketut Suarna, yang mewakili warga adat di Kabupaten Jembrana, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada pemerintah atas pembangunan fasilitas tersebut. Pernyataan itu ia sampaikan di Jembrana pada hari Selasa, dengan nada yang mencerminkan harapan kolektif masyarakat setempat.

“Kami sebagai masyarakat adat di Jembrana khususnya, sangat-sangat berterima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto) karena sudah membuat panel surya di wilayah kami, itu nantinya bisa membantu warga, khususnya di Jembrana.”

Bagi Suarna, proyek ini melampaui fungsi teknis sebagai sumber listrik alternatif. Ia memandang pembangunan infrastruktur energi bersih tersebut sebagai langkah konkret yang menjawab dua kebutuhan sekaligus: swasembada energi di tingkat nasional dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di tingkat lokal. Dalam kerangka berpikir komunitas adat, akses terhadap energi yang stabil dan terjangkau merupakan prasyarat bagi penguatan ekonomi rumah tangga, bukan sekadar indikator teknis jaringan kelistrikan.

Dampak Ekonomi dan Peluang Kerja Lokal

Salah satu dimensi yang paling dinantikan warga Jembrana adalah potensi proyek surya ini untuk membuka ruang ekonomi baru. Suarna menegaskan bahwa pengembangan panel surya tidak boleh berhenti pada skala yang sudah ada, melainkan harus terus diperluas agar manfaatnya menjangkau lebih banyak keluarga.

“Hingga nantinya, khususnya di daerah kami di Jembrana, semua masyarakat yang tidak bisa bekerja, bisa bekerja, dapat manfaat dari adanya panel surya ini.”

Secara teknis, PLTS Gilimanuk diestimasikan mampu memproduksi sekitar 470 gigawatt hour (GWh) energi listrik per tahun. Operasional fasilitas ini diperkirakan menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 151 ribu kiloliter (kL) setiap tahunnya. Penghematan tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas harga energi bagi konsumen, tetapi juga mengurangi jejak karbon di kawasan yang selama ini menjadi simpul transportasi laut Jawa-Bali.

Listrik yang dihasilkan dari PLTS Gilimanuk akan disalurkan langsung ke sistem interkoneksi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Negara-Gilimanuk. Artinya, daya yang masuk ke jaringan ini tidak hanya melayani kebutuhan lokal Gilimanuk, tetapi juga memperkuat keandalan pasokan listrik di seluruh wilayah barat Bali, termasuk sektor pariwisata, perikanan, dan industri kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi Jembrana.

Pemerataan Pembangunan hingga ke Pelosok

Di balik apresiasi terhadap proyek energi, terdapat harapan yang lebih luas dari komunitas adat Jembrana: agar pembangunan nasional tidak berhenti di kota-kota besar atau pusat pemerintahan. Suarna menekankan bahwa pemerataan pembangunan merupakan kunci agar masyarakat di daerah terpencil dapat merasakan dampak langsung dari kebijakan negara.

“Mudah-mudahan juga Bapak Presiden bisa memimpin dengan adil, dengan datang ke pelosok-pelosok wilayah Indonesia ini.”

Pernyataan tersebut mencerminkan aspirasi yang melampaui satu proyek saja. Masyarakat adat di Bali, termasuk komunitas Tegalcangkring di Jembrana, berharap keberlanjutan program pembangunan pemerintah dapat menyentuh kehidupan mereka secara menyeluruh. Penguatan ekonomi lokal, peningkatan kesejahteraan, dan pengakuan terhadap peran komunitas adat dalam tata kelola wilayah menjadi bagian dari harapan itu.

Konteks dan Implikasi Jangka Panjang

PLTS Gilimanuk dengan kapasitas 300 MWp dan BESS 1.000 MWh merupakan salah satu proyek surya terbesar yang dibangun di Pulau Bali. Keberadaannya di lokasi yang berbatasan langsung dengan Selat Badung menjadikannya simbol transisi energi di kawasan yang selama ini mengandalkan pasokan dari Jawa melalui interkoneksi. Dengan kapasitas penyimpanan baterai yang memadai, fasilitas ini mampu menstabilkan frekuensi jaringan pada jam-jam kritis ketika produksi surya menurun, sehingga mengurangi kebutuhan pembangkit cadangan berbahan bakar fosil.

Bagi Jembrana, yang selama ini berada di ujung barat pulau dan kerap menjadi wilayah terakhir yang menerima manfaat pembangunan infrastruktur, kehadiran proyek ini membawa pesan bahwa transisi energi nasional tidak meninggalkan daerah pinggiran. Jika pengembangan surya terus diperluas sesuai harapan komunitas setempat, dampak positifnya akan meluas dari sekadar ketersediaan daya listrik ke penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat adat secara berkelanjutan.

Frequently Asked Questions

What is Tokoh adat Jembrana syukuri pembangunan PLTS?

Tokoh adat Jembrana syukuri pembangunan PLTS is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Tokoh adat Jembrana syukuri pembangunan PLTS matter?

Tokoh adat Jembrana syukuri pembangunan PLTS matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category