BRIN-UIN Ar-Raniry kembangkan konservasi manuskrip terdampak bencana

3 hours ago  ·  4 min read
By Linda Hernandez - pemandanganindah.com
khrisna-edit-1788105058-0d98be16b5

Model Konservasi Portabel untuk Manuskrip Aceh Pascabencana Hidrologi

Pemandanganindah.com – Sebanyak 520 naskah kuno di sembilan kabupaten dan kota di Aceh tercatat mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda provinsi itu pada akhir 2025. Kerusakan tersebut tidak hanya menyentuh infrastruktur fisik, tetapi juga mengancam warisan dokumenter yang menyimpan memori kolektif, pengetahuan lokal, serta identitas budaya masyarakat Aceh. Menjawab ancaman itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh merancang sebuah model konservasi manuskrip yang dapat dioperasikan langsung di lokasi bencana.

Model yang dikembangkan bersifat portabel, modular, berbiaya rendah, dan mampu diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi. Artinya, tim penyelamat tidak perlu menunggu manuskrip tiba di laboratorium pusat; proses penanganan dapat dimulai tepat di titik kerusakan.

“Model tersebut dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi,” ujar Husnul Fahimah Ilyas, Ketua Tim Riset Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, di Banda Aceh, Minggu.

Riset Kolaboratif Lintas Lembaga

Pengembangan model ini bukan kerja satu institusi. Riset dijalankan secara kolaboratif oleh BRIN, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Perpustakaan Nasional (Perpusnas), serta Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry. Kerjasama lintas lembaga ini memastikan bahwa aspek teknis konservasi, kebijakan pengelolaan koleksi, dan dimensi akademik pelestarian naskah Aceh semuanya tercakup dalam satu kerangka kerja.

Husnul Fahimah Ilyas menegaskan bahwa cakupan penelitian melampaui sekadar penyelamatan fisik naskah. Tim juga mengembangkan manajemen risiko bencana khusus untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman hidrometeorologi. Dengan kata lain, output riset mencakup protokol pencegahan dan mitigasi, bukan hanya tindakan reaktif pasca-kejadian.

Metode Pengeringan dan Ruang Portabel

Dari sisi teknis, metode utama yang diadopsi adalah pengeringan manual dengan pendekatan knockdown. Konservator Perpusnas Aris Riyadi menjelaskan bahwa tim mengembangkan ruang pengering atau chamber portabel sebagai solusi taktis untuk mempercepat penyelamatan manuskrip yang terendam air.

Keunggulan chamber portabel terletak pada kemampuannya digunakan langsung di lokasi bencana. Dibandingkan mesin freeze drying yang selama ini menjadi standar penanganan bahan pustaka basah, perangkat portabel ini lebih cepat dioperasikan, lebih efisien secara energi, dan jauh lebih mudah dimobilisasi ke daerah terpencil yang aksesnya terbatas pascabencana.

Aris Riyadi juga menggarisbawahi bahwa penyelamatan manuskrip terdampak banjir harus melewati tahapan berurutan. Tahap pertama adalah identifikasi tingkat kerusakan, yang wajib dilakukan sesegera mungkin setelah bencana terjadi. Tahap kedua adalah proses pengeringan. Setelah itu, manuskrip masuk ke tahap restorasi sesuai kondisi spesifik masing-masing naskah. Urutan ini tidak boleh diabaikan karena kesalahan pada tahap awal dapat memperparah kerusakan secara permanen.

Manuskrip sebagai Warisan Hidup Aceh

Manuskrip Aceh bukan sekadar benda tua yang disimpan di rak. Naskah-naskah tersebut merupakan medium utama transmisi pengetahuan lokal, hukum adat, ilmu kedokteran tradisional, sastra lisan, dan catatan sejarah masyarakat Aceh selama berabad-abad. Ketika banjir bandang menghantam gudang penyimpanan atau rumah-rumah yang menjadi tempat naskah dititipkan, yang hilang bukan hanya serat kertas dan tinta, tetapi juga lapisan pengetahuan yang tidak tergantikan. Inilah mengapa respons konservasi harus cepat, tepat, dan dapat diulang di berbagai titik tanpa bergantung pada infrastruktur pusat.

Agus Iswanto, anggota tim riset BRIN sekaligus Ketua Umum Manassa Pusat, menambahkan bahwa riset ini juga diarahkan untuk menghasilkan model atau protokol manajemen risiko bencana hidrologi yang khusus ditujukan bagi warisan dokumenter berupa manuskrip. Protokol semacam itu akan menjadi acuan bagi pengelola koleksi di daerah lain yang menghadapi risiko serupa.

UIN Ar-Raniry Menuju Laboratorium Manuskrip

Hermansyah, Ketua Komisariat Manass Aceh sekaligus Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry, menyampaikan bahwa hasil pendataan menunjukkan sedikitnya 520 manuskrip di sembilan lokasi kabupaten/kota di Aceh terdampak bencana. Angka ini menjadi dasar urgensi pengembangan model yang dapat segera diimplementasikan.

“Hasil riset yang dilakukan BRIN ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain,” kata Hermansyah.

Ia juga mengungkapkan bahwa UIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, akan diarahkan menjadi Laboratorium Manuskrip atau Naskah Kuno. Penunjukan ini merupakan bagian dari penguatan fungsi akademik universitas sekaligus komitmen pelestarian manuskrip Aceh secara berkelanjutan, bukan sekadar respons satu kali terhadap satu peristiwa bencana.

Kebijakan sebagai Pengungkit Implementasi

Peneliti dari Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, AS Rakhmad Idris, menekankan bahwa hasil riset teknis harus diperkuat dengan dokumen kebijakan agar model konservasi dapat diterapkan secara lebih luas dan sistematis.

“Dokumen kebijakan diperlukan untuk memberikan analisis dan rekomendasi penting kepada pemangku kebijakan mengenai bagaimana konservasi manuskrip terdampak bencana hidrologi sebaiknya dilakukan,” ujarnya.

Dengan demikian, output akhir dari riset kolaboratif ini bukan hanya sebuah perangkat pengering portabel, melainkan sebuah ekosistem lengkap: protokol teknis, pedoman manajemen risiko, kerangka kebijakan, dan institusi akademik yang siap menjalankan fungsi pelestarian. Bagi Aceh, yang menyimpan salah satu khazanah naskah tertua di Nusantara, ekosistem semacam itu bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa memori kolektif masyarakat tidak ikut hanyut bersama air banjir.

Frequently Asked Questions

What is BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi?

BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi matter?

BRIN UIN Ar Raniry kembangkan konservasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category