Solution For: HIMKI dorong penguatan industri kerajinan lewat ekosistem terintegrasi
HIMKI Dorong Penguatan Industri Kerajinan Melalui Ekosistem Terintegrasi
Solution For –
Dalam upayanya meningkatkan daya saing industri mebel dan kerajinan nasional di pasar global, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) membidik pembangunan ekosistem industri yang lebih terpadu. Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, mengatakan bahwa langkah ini penting untuk mengembangkan sektor yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung perekonomian kreatif Indonesia. “Kita perlu membangun kerangka kerja yang saling terhubung, karena masa depan industri ini tidak hanya bergantung pada satu atau dua perusahaan besar, tetapi pada kemampuan seluruh pelaku industri membangun jaringan yang solid,” ujarnya.
Kunjungan kerja yang dilakukan HIMKI ke Nankang, Tiongkok, pada akhir Mei 2026, menjadi salah satu bukti komitmen organisasi ini. Dari pengamatan di sana, Abdul Sobur yakin Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat industri kerajinan global. “Setelah melihat industri di Nankang, saya merasa yakin bahwa ekosistem yang terintegrasi akan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan sektor ini,” terangnya.
Java Timur Siap Menjadi Pusat Industri Kerajinan Asia Tenggara
Dalam Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah HIMKI Jawa Timur yang berlangsung di Surabaya, Ketua Umum HIMKI menekankan potensi daerah tersebut sebagai salah satu sentra industri mebel dan kerajinan unggul di Asia Tenggara. “Java Timur memiliki fondasi kuat untuk menjadi pusat produksi yang berpengaruh,” katanya.
Menurut Abdul Sobur, beberapa faktor mendukung keberhasilan ini. Pertama, adanya pelabuhan internasional yang menjadi akses cepat ke pasar global. Kedua, kawasan industri yang siap melayani kebutuhan produksi dan distribusi. Ketiga, keberadaan tenaga kerja yang kompeten, mulai dari petani kayu hingga para desainer dan pekerja logistik. Terakhir, jaringan ekspor yang luas, yang memungkinkan produk Indonesia mencapai pasar-pasar internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Glenn Candranegara, Ketua DPD HIMKI Jawa Timur yang baru terpilih, menyatakan tekadnya untuk memperkuat kolaborasi antaranggota industri. “Saya berkomitmen menumbuhkan sinergi yang lebih baik, sehingga produk nasional bisa memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” ujarnya. Glenn menambahkan, kepengurusan baru di tingkat daerah akan memastikan koordinasi yang lebih efektif dalam mengakses pasar ekspor, memperluas jaringan distribusi, dan meningkatkan inovasi.
Dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (29/5), Abdul Sobur juga menyoroti kekayaan sumber daya alam serta keberagaman budaya sebagai fondasi kuat bagi sektor mebel dan kerajinan. “Dengan sumber daya alam yang melimpah, tradisi kerajinan yang sudah mapan, dan pasar domestik yang besar, kita punya peluang untuk membangun industri yang berkelanjutan,” katanya.
Industri Kerajinan Sebagai Industri Padat Karya dan Berkelanjutan
Menurut Abdul Sobur, sektor mebel dan kerajinan bukan hanya industri bernilai tambah tinggi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. “Setiap produk yang diekspor ke pasar global harus melewati proses desain, produksi, dan kreativitas yang matang,” jelasnya. Proses ini, katanya, membuat industri ini menjadi primadona dalam membangun ekonomi kreatif.
Bukan hanya itu, sektor ini juga dianggap sebagai salah satu industri padat karya. Dalam kurun waktu tertentu, industri ini mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja, mulai dari sektor hulu seperti petani kayu hingga sektor hilir seperti desainer, operator mesin, tenaga finishing, dan pekerja logistik. “Keragaman sumber daya manusia ini menjadi kekuatan ekosistem industri yang terintegrasi,” tambahnya.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mendukung rencana HIMKI ini. Menteri Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi pusat produksi furnitur global dalam lima tahun ke depan. Target ini diharapkan tercapai melalui penguatan hilirisasi kayu yang berkelanjutan serta peningkatan daya saing nasional. “Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dalam hal desain dan keberlanjutan, selama ekosistem industri ini terus dibangun,” ujar Menteri Perindustrian.
Menurut Kemenperin, industri mebel dan kerajinan nasional telah terhubung langsung dengan pasar global yang mencapai nilai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Keterlibatan langsung dengan pasar internasional ini menjadikan sektor ini sebagai pilar ekonomi yang stabil. “Kapitalisasi pasar yang besar memperkuat kepercayaan kita pada industri ini,” tambah Menteri Perindustrian.
Dalam rangka mencapai target tersebut, HIMKI menekankan pentingnya sinergi antar pelaku industri. Selain menumbuhkan ekosistem yang terintegrasi, mereka juga berharap penguatan sumber daya manusia dan inovasi produk dapat mengakselerasi pertumbuhan ekspor. “Kolaborasi yang lebih kuat akan membuka jalan bagi produk Indonesia untuk bersaing di tingkat global,” katanya.
Abdul Sobur menambahkan bahwa kompetensi dan kreativitas para pelaku industri menjadi faktor utama dalam mengejar pertumbuhan yang berkelanjutan. “Kita perlu memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan memiliki nilai unik dan daya tarik di pasar internasional,” ujarnya.
“Masa depan industri mebel dan kerajinan Indonesia tidak ditentukan oleh satu atau dua perusahaan besar, tetapi oleh kemampuan kita membangun ekosistem yang kuat, produktif, dan saling terhubung,” ujar Abdul Sobur.
Dengan memperkuat kerangka kerja yang terpadu, HIMKI optimis industri ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional. “Kita perlu berpikir jangka panjang, agar industri kerajinan tidak hanya bertahan, tetapi berkembang seiring transformasi global,” tutupnya.