Key Strategy: Kemenperin dukung digitalisasi furnitur untuk perkuat ekspor
Kemenperin Dukung Digitalisasi Furnitur untuk Perkuat Ekspor
Key Strategy – Surabaya, Kamis – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan komitmen dalam mendorong transformasi digital pada industri furnitur nasional. Langkah ini bertujuan meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi, serta memperkuat daya saing dalam ekspor, khususnya di tengah pemanfaatan teknologi yang semakin luas pada sektor kehutanan dan mebel. Dalam pembukaan acara Indo Wood Expo 2026, Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin, Andi Rizaldi, menyampaikan bahwa digitalisasi menjadi strategi kunci untuk mendukung pertumbuhan industri furnitur di pasar global.
Penerapan Teknologi Digital di Rantai Bisnis Mebel
Digitalisasi furnitur didefinisikan sebagai integrasi teknologi digital ke seluruh tahap produksi, mulai dari desain hingga pemasaran. Menurut Andi, proses ini memungkinkan pengurangan kesalahan produksi, meningkatkan efisiensi, serta menambah output produksi. “Dengan digitalisasi, proses manufaktur bisa lebih akurat dan cepat, sehingga memperkuat posisi industri mebel Indonesia di kancah internasional,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dukungan Kemenperin terhadap inisiatif HIMKI, organisasi yang mewakili industri mebel dan kerajinan, sangat berarti.
“Apa yang dilakukan oleh HIMKI, kami dukung. Teknologi digital mampu memberikan dampak signifikan pada produktivitas dan kualitas produk,” kata Andi setelah acara pembukaan Indo Wood Expo 2026 di Surabaya.
Menurut data terkini, sektor furnitur nasional memiliki utilisasi sekitar 60 persen, meskipun ekspor produknya mencapai 80 persen dari total produksi. Angka ini menunjukkan potensi besar industri dalam memperluas pasar ekspor, terutama dengan dukungan teknologi yang semakin matang. Kemenperin juga menyoroti peran pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan nilai tambah produk, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.
Kolaborasi Antara HIMKI dan Labamo
Sebagai langkah konkret, Kemenperin mengapresiasi penandatanganan nota kesepahaman antara HIMKI dan Labamo, penyedia layanan digitalisasi. Kesepahaman ini diharapkan mempercepat adopsi teknologi di sektor furnitur, termasuk dalam meningkatkan efisiensi manufaktur. “Kerja sama ini menjadi fondasi untuk mengubah pola produksi dari manual ke otomatis,” ungkap Andi.
“Saya salut dengan manufaktur furnitur ini. Dengan angka utilisasi 60 persen pun, angka ekspornya sudah mencapai 80 persen dari total produksi domestik mereka,” tutur Andi dalam wawancara terpisah.
Andi juga menegaskan bahwa Kemenperin terus memperkuat kebijakan hilirisasi, seperti larangan ekspor kayu bulat atau log. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri, serta menarik investasi asing untuk membangun fasilitas produksi. “Dengan membatasi ekspor bahan baku mentah, kita bisa menggerakkan industri lokal agar lebih berkembang,” jelasnya.
Tantangan Biaya Produksi dan Peluang Ekspor
Di sisi lain, Ketua Umum DPP HIMKI, Abdul Sobur, menyoroti tantangan biaya produksi yang masih lebih tinggi dibandingkan negara pesaing. Meski produk furnitur Indonesia memiliki keunggulan dalam desain dan karakteristik unik, ia menegaskan bahwa penerapan teknologi menjadi kunci untuk mengatasi kendala ini. “Barang yang unik tidak berarti harus mahal, asalkan produksi bisa diotomatisasi,” tegas Sobur.
“Penggunaan mesin canggih dan sistem digital bisa mempercepat proses, mengurangi kesalahan, dan menekan biaya. Rahasianya adalah teknologi,” kata Sobur dalam sesi diskusi.
Sobur menyampaikan bahwa biaya produksi tinggi masih menjadi hambatan utama bagi industri furnitur dalam memperkuat daya saing global. Dengan integrasi teknologi, ia yakin industri bisa menghasilkan produk berkualitas dengan biaya lebih rendah. “Digitalisasi bukan hanya untuk kecepatan, tapi juga untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan menekan pemborosan,” tambahnya.
Upaya Meningkatkan Ekspor dalam Kondisi Kekurangan
Kemenperin juga memandang kondisi penguatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sebagai peluang baru. Meski terjadi kenaikan harga bahan baku impor, sektor furnitur tetap memiliki potensi untuk memperluas ekspor karena mayoritas produknya dijual ke pasar internasional. “Dengan bahan baku 60 persen berasal dari dalam negeri, industri bisa bertahan lebih baik di tengah perubahan ekonomi global,” kata Andi.
Dalam beberapa tahun terakhir, ekspor furnitur Indonesia menunjukkan pertumbuhan stabil. Pada 2024, nilai ekspornya mencapai sekitar 1,9 miliar dolar AS, sementara pada 2025, angka tersebut turun ke sekitar 1,8 miliar dolar AS. Perubahan ini dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional, serta upaya Kemenperin untuk memperbaiki kualitas produk dan daya saing industri.
Langkah Strategis untuk Rantai Pasok Nasional
Kebijakan hilirisasi yang diterapkan pemerintah, menurut Andi, bertujuan memperkuat rantai pasok nasional. Dengan melarang ekspor kayu bulat, industri bisa memanfaatkan bahan baku lokal secara optimal, sekaligus menumbuhkan sektor manufaktur. “Investor asing kini lebih tertarik berinvestasi di Indonesia karena adanya akses bahan baku yang lebih mudah,” ujarnya.
Indo Wood Expo 2026 dirancang sebagai ajang pertemuan pelaku industri kehutanan, teknologi, desain, dan ekspor. Acara ini diharapkan memfasilitasi pertukaran ide, serta memberikan kesempatan bagi industri untuk membangun jaringan pemasaran internasional. “Kita perlu terus menggali inovasi, agar bisa bersaing di segala level,” tambah Andi.
Menyikapi tantangan yang ada, Kemenperin mengingatkan bahwa transformasi digital tidak hanya memengaruhi efisiensi, tetapi juga membuka akses ke pasar yang lebih luas. Dengan adopsi teknologi, industri furnitur diharapkan bisa memenuhi permintaan global, serta meningkatkan keberlanjutan produksi di tengah tekanan persaingan yang semakin ketat. “Kita harus bersiap untuk beradaptasi, karena era globalisasi tidak bisa dihindari,” pungkas Andi.