Latest Program: Khofifah tegaskan Jatim jadi pemain utama rantai halal nasional
Khofifah Indar Parawansa: Jawa Timur Jadi Pemain Utama Ekosistem Halal Nasional
Latest Program – Di tengah momentum pertumbuhan industri halal yang semakin pesat, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggarisbawahi peran strategis daerahnya dalam membentuk rantai nilai halal nasional. Dalam pidato yang disampaikan di Forum Ekonomi Regional Java Halal Ecosystem 2026, di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Khofifah memaparkan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem halal yang semakin berkembang di tingkat global.
Ekosistem Halal sebagai Gaya Hidup dan Industri Masa Depan
Khofifah menegaskan bahwa konsep halal telah mengalami pergeseran dari sekadar sertifikasi produk menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus industri masa depan. “Ekosistem halal kini tidak hanya tentang kepatuhan syariah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di tingkat internasional,” ujarnya. Menurut dia, Jawa Timur perlu memanfaatkan peluang ini untuk mengisi posisi yang lebih dominan dalam perdagangan global, terutama dalam sektor yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Halal telah berkembang menjadi standar baru dalam ekspor dan perdagangan internasional. Kualitas, keamanan, higienitas, dan keberlanjutan menjadi faktor utama yang mendorong Jawa Timur menjadi pilihan utama bagi pemasar global,” kata Khofifah.
Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia berhasil menempati peringkat pertama dunia dalam sektor fesyen muslim, sedangkan Jawa Timur dikenal sebagai pusat utama dalam industri ini. Selain itu, provinsi ini juga menduduki peringkat ketiga pada sektor makanan halal dan media rekreasi, serta peringkat keempat dalam bidang farmasi dan kosmetik halal. “Jawa Timur tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen utama yang memiliki kapasitas besar untuk mendukung ekonomi halal global,” tambahnya.
Infrastruktur dan Logistik yang Mendukung Penguasaan Pasar
Khofifah menyoroti peran infrastruktur logistik yang kuat sebagai salah satu pendorong utama ekspor halal dari Jawa Timur. Pelabuhan Tanjung Perak, yang menjadi salah satu dari tujuh bandara dan 37 pelabuhan di provinsi ini, memiliki akses ke 24 dari 41 rute tol laut nasional. “Dengan kedaulatan logistik ini, Jawa Timur mampu mengirimkan produk ke berbagai belahan dunia, sehingga menjadikannya sebagai gerbang baru ekonomi halal Indonesia,” jelasnya.
Bukan hanya logistik, Kofifah juga menyebutkan bahwa Jawa Timur memiliki kekayaan sumber daya manusia dari pondok pesantren, UMKM, dan industri manufaktur yang berkontribusi signifikan. “Keberadaan 7.425 pesantren di Jawa Timur membuktikan bahwa potensi lokal sangat kuat untuk dikembangkan menjadi sumber daya ekonomi berbasis syariah,” katanya. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.420 pesantren telah menerapkan program One Pesantren One Product (OPOP), sementara 3.966 pesantren lainnya telah terdigitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Pengembangan Ekonomi Syariah Melalui Inisiatif Lokal
Sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem halal, Pemerintah Provinsi Jatim telah melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan daya saing sektor ini. Salah satu proyek utama adalah Halal Industrial Park Sidoarjo (HIPS), yang menjadi pusat pengembangan industri halal skala besar. Program ini menargetkan penguatan keterpaduan antara UMKM dan industri manufaktur, serta memastikan produk yang dihasilkan memiliki standar internasional.
Khofifah juga memaparkan bahwa Jawa Timur telah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96 persen (yoy) pada triwulan pertama 2026, melebihi rata-rata nasional yang sebesar 5,61 persen. Capaian ini, katanya, tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam membangun ekosistem halal yang kompetitif. Selain itu, jumlah usaha halal di Jawa Timur meningkat 42,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan nilai ekspor mencapai 3,222 miliar dolar AS pada 2025.
“Kita harus menjadi bagian dari rantai nilai global, bukan hanya pengguna. Jawa Timur memiliki modal besar dalam UMKM, pesantren, dan industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi,” ujar Khofifah.
Khofifah menyoroti pentingnya digitalisasi dalam memperkuat ekosistem halal. Pemerintah daerah menyalurkan fasilitas sertifikasi halal yang mencapai 552.943 usaha dan 1,41 juta produk bersertifikat. “Ini adalah bukti bahwa kolaborasi pentahelix—yang meliputi pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat, dan lembaga keagamaan—menjadi kunci dalam mendorong transformasi ekonomi halal,” tegasnya.
Strategi untuk Membangun Pusat Ekonomi Halal Dunia
Di samping itu, Khofifah juga menggarisbawahi keunggulan Jawa Timur dalam aspek geografis dan infrastruktur. Provinsi ini dilengkapi dengan 12 ruas jalan tol, dua Kawasan Ekonomi Khusus, 13 kawasan industri, satu kawasan industri halal, serta jaringan logistik yang memadai. “Keberadaan ini memungkinkan Jawa Timur menjadi basis pengembangan ekonomi halal yang berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, Khofifah menyampaikan bahwa Jawa Timur telah mengembangkan program inkubasi usaha syariah yang menjangkau 2.492 pelaku usaha. “Ini membuktikan bahwa ekosistem halal tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan inovasi,” katanya. Dengan adanya fasilitas seperti HIPS dan program OPOP, Khofifah yakin Jawa Timur bisa menjadi contoh nyata dalam membangun industri halal yang masif dan berbasis teknologi.
Kolaborasi dan Persiapan untuk Masa Depan
Menurut Khofifah, keberhasilan Jawa Timur dalam meningkatkan ekonomi halal tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara berbagai pihak. “Kita tidak boleh berpuas hati dengan capaian saat ini. Kolaborasi harus terus ditingkatkan untuk memastikan Jawa Timur tetap menjadi pemain utama di tingkat global,” ujarnya. Dalam konteks ini, pemerintah daerah berkomitmen untuk memperkuat keterlibatan lembaga keagamaan, serta mengembangkan regulasi yang mendukung pertumbuhan sektor ini.
Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki kelebihan kompetitif yang memadai untuk memperkuat posisi sebagai pusat ekonomi halal dunia. “Dengan sumber daya alam, keahlian dalam produksi, dan jaringan distribusi yang luas, Jawa Timur mampu menyaingi negara-negara lain dalam industri halal,” tuturnya. Ia juga menyoroti keberhasilan dalam menyediakan peluang kerja bagi masyarakat, termasuk dalam bidang manufaktur, logistik, dan pemasaran produk halal.
Kehadiran Jawa Timur di forum ekonomi halal ini menunjukkan komitmen untuk menjadi bagian dari dinamika perekonomian syariah global. Dengan kontribusi dari berbagai sektor, Khofifah optimis bahwa provinsi ini akan terus berperan aktif dalam membangun industri halal yang berkelanjutan dan kompetitif. “Pertumbuhan ekonomi halal di Jawa Timur bukan hanya menguntungkan daerah, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ekonomi Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.