Main Agenda: Airlangga: Ratifikasi IEU-CEPA ditargetkan rampung pada semester II
Airlangga: Ratifikasi IEU-CEPA Ditetapkan Selesai pada Semester II 2026
Main Agenda – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa proses ratifikasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Lengkap antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) diharapkan selesai pada semester kedua tahun 2026. Hal ini akan memungkinkan penerapan perjanjian tersebut di awal tahun 2027, kata Airlangga dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (19/6).
Dalam pertemuan bilateral yang berlangsung pada Jumat (5/6), Airlangga dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, berdiskusi tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk mempercepat penyelesaian ratifikasi IEU-CEPA. Pertemuan tersebut diadakan di Brussels selama Forum Keamanan Ekonomi Brussels, yang menjadi agenda utama kemitraan ekonomi antarnegara. Kedua pihak sepakat untuk mengarahkan kecepatan proses ratifikasi guna memenuhi target waktu yang telah ditentukan.
Pertemuan tersebut juga menjadi ajang pemaparan tentang persiapan penyambutan kunjungan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, ke Jakarta. Airlangga menjelaskan bahwa diskusi ini bertujuan memastikan adanya konsistensi antara kebijakan bilateral dan mekanisme kerja multilateral dalam mencapai tujuan ekonomi bersama. “Kami berupaya mempercepat serangkaian tahapan agar perjanjian ini dapat berlaku sesuai rencana,” ujarnya.
“Kami menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA dapat diselesaikan pada semester II 2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027,” kata Airlangga.
IEU-CEPA, yang menjadi fokus utama diskusi, dianggap sebagai alat penting dalam meningkatkan hubungan ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa. Pada 98 persen dari pos tarif, tarif perdagangan akan dihapuskan setelah perjanjian ini berlaku. Dengan penghapusan tarif tersebut, produk ekspor Indonesia diperkirakan akan memiliki akses yang lebih mudah ke pasar Eropa, yang akan menjadi peluang besar dalam meningkatkan daya saing serta pertumbuhan ekspor nasional.
Di samping IEU-CEPA, pertemuan antara Airlangga dan Maros Sefcovic juga mencakup pembahasan mengenai program Global Gateway Uni Eropa. Program ini bertujuan mendorong berbagai proyek strategis, termasuk investasi dan pengembangan sektor mineral kritis. “Kami juga mengupas peluang kerja sama investasi melalui berbagai inisiatif, seperti pembangunan sektor mineral kritis yang menjadi prioritas kedua belah pihak,” terang Airlangga.
Menko Airlangga menekankan bahwa kerja sama di bidang mineral kritis memiliki potensi tinggi untuk meningkatkan ketergantungan ekonomi Indonesia pada pasokan sumber daya alam. Pihaknya menyebutkan bahwa pemerintah sedang mendorong percepatan hilirisasi sumber daya alam guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Di sisi lain, Uni Eropa membutuhkan pasokan mineral strategis untuk mendukung transisi energi dan pengembangan industri teknologi hijau.
Keberhasilan ratifikasi IEU-CEPA akan menjadi langkah kunci dalam menghadapi dinamika pasar global yang terus berubah. Airlangga menggarisbawahi bahwa kebijakan ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kerangka kerja ekonomi dengan mitra strategis. “Dengan berlakunya IEU-CEPA, Indonesia akan memperoleh keuntungan signifikan dalam meningkatkan ekspor serta investasi asing di sektor ekonomi,” jelasnya.
Dalam jangka panjang, Airlangga menyebut bahwa IEU-CEPA dapat berkontribusi pada stabilitas ekonomi Indonesia dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Pemangkasan tarif perdagangan ini diharapkan mendorong pertumbuhan sektor produktif, seperti pertanian, perkebunan, dan industri manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Selain itu, perjanjian ini juga akan memperkuat kepercayaan investor internasional terhadap potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pembahasan di Brussels juga menyoroti pentingnya keterlibatan pihak-pihak dalam membangun kerangka kerja yang saling menguntungkan. Airlangga menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya fokus pada penghapusan tarif, tetapi juga pada inisiatif-inisiatif kemitraan yang lebih luas, seperti pendidikan, kebijakan lingkungan, dan kerja sama teknologi. “Dengan mendekati agenda bilateral secara holistik, kita dapat menciptakan sinergi yang lebih efektif untuk pertumbuhan ekonomi kedua belah pihak,” tambahnya.
Sementara itu, Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, menegaskan dukungan Uni Eropa terhadap ratifikasi IEU-CEPA. Menurutnya, keberhasilan perjanjian ini akan membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi produk-produk Indonesia, sambil tetap memperhatikan kepentingan pihak-pihak di Eropa. “Ini merupakan langkah penting untuk memperkuat kemitraan ekonomi dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan bersama,” ujarnya.
Proses ratifikasi IEU-CEPA juga diharapkan memberikan dampak positif dalam mendorong stabilitas perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa. Dengan menerapkan perjanjian ini, kedua belah pihak dapat menyelesaikan masalah-masalah perdagangan yang selama ini menjadi hambatan, seperti persaingan produk, regulasi, dan standar kualitas. Airlangga menambahkan bahwa pihaknya akan terus memantau progres ratifikasi dan memastikan tidak ada hambatan dalam implementasinya.
Keberhasilan penerapan IEU-CEPA akan menjadi pengukur dalam mencapai target ekonomi nasional yang lebih besar. Airlangga menggarisbawahi bahwa pihaknya akan bekerja sama erat dengan pihak Uni Eropa untuk memastikan kebijakan ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian Indonesia. “Ini bukan hanya tentang perjanjian, tetapi juga tentang kepercayaan dan kemitraan yang jangka panjang,” pungkas Airlangga.
Dengan menyelesaikan ratifikasi IEU-CEPA di semester II 2026, Indonesia diharapkan bisa menjadi bagian dari kemitraan ekonomi yang lebih inklusif. Airlangga menegaskan bahwa proses ini telah memperoleh dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta, untuk memastikan keberhasilan penerapan perjanjian dalam waktu dekat.