Ekonom: Kunci capai target pendapatan dengan perbaiki struktur ekonomi

Ekonom: Kunci capai target pendapatan dengan perbaiki struktur ekonomi

Struktur Ekonomi dan Target Pendapatan

Ekonom – Jakarta – Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), menekankan bahwa mencapai target rata-rata pendapatan orang Indonesia sebesar Rp8 juta per bulan tahun 2027 tidak bisa hanya bergantung pada angka-angka yang dibuat dalam jangka pendek. Menurutnya, kunci utama untuk meraih target tersebut adalah dengan memperkuat struktur ekonomi secara menyeluruh. “Pentingnya menjaga konsistensi pertumbuhan jangka panjang, bukan sekadar mengandalkan indikator semu,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Selasa.

“Pertumbuhan ekonomi yang baik memerlukan pengaturan ulang sektor-sektor vital, terutama yang berkontribusi pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” tambah Yusuf.

Dalam pernyataannya, Yusuf menjelaskan bahwa target pendapatan ini disusun sebagai bagian dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2027, yang menjadi acuan untuk pengembangan ekonomi nasional. Dibandingkan tahun 2026, target ini naik dari Rp7,72 juta per bulan menjadi Rp8 juta. Namun, ekonom Core mengingatkan bahwa angka ini harus dipahami sebagai petunjuk arah kebijakan, bukan janji pasti bahwa setiap individu akan memperoleh pendapatan sebesar itu.

Pendekatan terhadap struktur ekonomi, menurut Yusuf, juga perlu memperhatikan keseimbangan antara sektor formal dan informal. Ia menyoroti bahwa dokumen rancangan APBN masih mengandalkan rasio gini dalam rentang 0,362 hingga 0,367, dengan pekerja formal hanya mencapai sekitar 40 persen dari total tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja masih berada di sektor informal, yang cenderung memiliki tingkat produktivitas dan upah lebih rendah.

Situasi ini memperumit upaya pemerintah dalam meningkatkan GNI (Gross National Income) secara nyata. Yusuf mengungkapkan bahwa dalam kondisi saat ini, kenaikan GNI belum tentu langsung dirasakan oleh masyarakat luas, terutama karena perhitungan GNI menggunakan dolar AS. Asumsi nilai tukar rupiah untuk tahun 2027 berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar, yang berdampak pada perbandingan pendapatan dalam mata uang lokal. Pelemahan rupiah, kata Yusuf, menyebabkan kenaikan pendapatan dalam rupiah tidak sepenuhnya terwujud dalam GNI berbasis dolar.

Kondisi Ekonomi Global dan Tantangan Ekspor

Di sisi lain, Yusuf mengingatkan bahwa ekonomi global masih menghadapi ancaman perlambatan perdagangan dan penurunan harga komoditas, dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Faktor-faktor ini memengaruhi daya beli masyarakat dan mengurangi kinerja ekspor, yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. “Kondisi pasar internasional yang tidak stabil memaksa pemerintah mengoptimalkan strategi dalam menghadapi tantangan yang semakin kompleks,” ujarnya.

“Ekspor bernilai tambah harus menjadi prioritas, karena komoditas mentah tidak lagi mampu menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan,” tambah Yusuf.

Ekonom menggarisbawahi bahwa target GNI 2026 sendiri sudah menunjukkan risiko ketidakpastian. Sejumlah pakar menilai target tersebut bisa terancam, sehingga target 2027 memerlukan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan stabil dibandingkan beberapa tahun terakhir yang berada di sekitar 5 persen. “Kenaikan pendapatan nasional harus didukung oleh kebijakan struktural yang menyeluruh, bukan hanya perbaikan sementara,” kata Yusuf.

Masalah struktur ekonomi juga berkaitan erat dengan gejala deindustrialisasi dini yang dihadapi Indonesia. Yusuf menjelaskan bahwa kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB turun menjadi 18-19 persen sebelum negara mencapai tingkat pendapatan tinggi. “Pertumbuhan ekonomi yang sehat membutuhkan sektor manufaktur yang kuat, karena sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja formal, meningkatkan produktivitas, dan mendorong kenaikan upah secara berkelanjutan,” ujarnya.

Agenda Reindustrialisasi dan Penguatan Ekonomi

Menurut Yusuf, reindustrialisasi menjadi agenda utama untuk memperbaiki struktur ekonomi. Ia menekankan bahwa hilirisasi (peningkatan nilai tambah) produk dalam negeri perlu ditingkatkan agar tidak hanya berupa ekspor bahan baku atau produk setengah jadi. “Mengarahkan hilirisasi ke dalam proses produksi lokal akan mengurangi ketergantungan pada perdagangan internasional dan meningkatkan daya tukar tenaga kerja,” kata dia.

“Manufaktur yang memiliki nilai tambah adalah sektor yang paling efektif untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Tanpa pengembangan sektor ini, pertumbuhan ekonomi akan sulit berkelanjutan,” ujarnya.

Selain itu, Yusuf juga menyoroti perlunya peningkatan kualitas tenaga kerja dan perluasan lapangan kerja formal. “Kualifikasi pekerja harus disertai dengan pelatihan dan pengembangan yang terstruktur, agar mampu memenuhi kebutuhan industri modern,” katanya. Kebijakan ini, menurut Yusuf, harus diimbangi dengan peningkatan kepastian iklim investasi, karena daya tarik modal asing sangat bergantung pada stabilitas politik dan ekonomi.

Menurut Yusuf, konsep pertumbuhan ekonomi berkualitas tidak bisa tercapai tanpa perbaikan pada aspek-aspek struktural. Ia mencontohkan bahwa penguatan sektor manufaktur, peningkatan efisiensi produksi, dan pengembangan ekspor bernilai tambah adalah langkah penting. “Ketiga hal ini harus saling melengkapi agar ekonomi tidak hanya tumbuh, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Dengan memperhatikan aspek-aspek ini, Yusuf optimis bahwa target pendapatan per kapita Indonesia dapat tercapai. Namun, ia menegaskan bahwa prosesnya memerlukan waktu dan keseriusan dalam menerapkan kebijakan yang berorientasi jangka panjang. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan angka-angka, tetapi harus memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan inklusif,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *