Key Strategy: Stafsus Presiden dorong kolaborasi digital berdayakan 64 juta UMKM

Stafsus Presiden Dorong Kolaborasi Digital untuk Membangun Daya Saing UMKM

Key Strategy –

Jakarta, Senin—Staf Khusus (Stafsus) Presiden yang menangani bidang UMKM dan Digitalisasi, Tiar N Karbala, menekankan pentingnya sinergi antar sektor untuk meningkatkan kemampuan sekitar 64 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia melalui proses digitalisasi. Menurut Tiar, tugas pemerintah sendirian tidak cukup untuk menghadapi tantangan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil hingga kota besar. “Tantangan dalam pemberdayaan UMKM melibatkan berbagai aspek, sehingga perlu dukungan dari berbagai pihak agar tercapai keberlanjutan,” jelasnya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta.

Gotong Royong sebagai Kunci Sukses

Tiar menjelaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mewujudkan transformasi digital yang berdampak luas. Ia menyebutkan bahwa program-program yang berfokus pada UMKM tidak bisa dijalankan secara terpisah, melainkan memerlukan kolaborasi yang menyeluruh. “Kita harus membangun komunitas yang kuat, dengan melibatkan generasi muda, organisasi lokal, teknologi digital, serta sektor swasta,” lanjut Tiar.

Keterangan pers tersebut dikeluarkan menjelang pelaksanaan Dialog Strategis MitMe Fest 2026, yang berlangsung di M Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 24–26 April 2026. Acara ini mengusung tema “Cerita Lokal, Karya Nusantara” dan dirancang untuk memberikan ruang bagi UMKM dalam memperkuat kapasitas mereka, meningkatkan literasi teknologi, serta membangun ekosistem bisnis yang lebih solid. Tiar menyoroti bahwa kesenjangan antara penggunaan teknologi dan keahlian digital pelaku usaha masih menjadi tantangan utama.

“Pencapaian penetrasi internet mencapai 77–80 persen, tetapi literasi digital UMKM masih berada di level menengah. Kondisi ini bisa memperlebar jarak antara korporasi besar dan usaha kecil,” kata Tiar. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), harus diikuti dengan pendampingan yang memadai agar tidak hanya menjadi alat yang sulit diakses.

Strategi Pendampingan yang Berkelanjutan

Founder Ekosistem MitMe.id, Adhitya Noviardi, menyambut baik inisiatif kolaboratif ini. Menurutnya, UMKM tidak boleh hanya dilihat sebagai objek bisnis, tetapi harus diberdayakan secara aktif untuk tumbuh secara lebih cepat. “UMKM butuh momentum, arah, dan akses yang terintegrasi agar bisa berkembang secara berkelanjutan,” tambah Adhitya.

Adhitya menjelaskan bahwa MitMe Fest 2026 bukan sekadar acara pameran, tetapi bagian dari strategi jangka panjang dalam pendampingan UMKM. Acara ini menyediakan berbagai program, seperti asesmen tingkat usaha, layanan konsultasi strategis gratis, fasilitasi sertifikasi halal tanpa biaya, serta workshop kreatif. “Kami percaya bahwa dengan penguatan ekosistem, UMKM bisa membangun cerita lokal yang unik dan berdampak,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya pemberdayaan, MitMe.id berkomitmen melanjutkan pendekatan berbasis teknologi. Program mereka meliputi edukasi bisnis melalui aplikasi digital dan pemanfaatan media sosial untuk menjangkau pelaku usaha secara efektif. “UMKM tidak hanya membutuhkan ruang untuk menampilkan produk, tetapi juga instrumen yang memudahkan mereka mengelola usaha dan membangun jaringan,” tambah Adhitya.

Kesenjangan Literasi Digital Jadi Perhatian Utama

Dalam konteks peningkatan ekonomi digital, Tiar menyoroti bahwa literasi digital pelaku usaha masih menjadi masalah yang perlu ditangani secara serius. Meski infrastruktur teknologi sudah membaik, tingkat pemahaman dan penerapan di kalangan UMKM belum merata. “Kita perlu menutup kesenjangan ini agar tidak ada perbedaan yang terlalu jauh antara pelaku usaha besar dan kecil,” jelas Tiar.

Menurut data yang disebutkan, sekitar 77–80 persen penduduk Indonesia sudah terhubung ke internet. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemampuan pelaku usaha dalam mengoptimalkan teknologi. Tiar menegaskan bahwa pelatihan dan edukasi harus menjadi prioritas agar UMKM bisa memanfaatkan alat-alat digital secara efektif. “Dengan begitu, mereka bisa bersaing dalam pasar yang semakin global,” katanya.

Peluang dalam Transformasi Digital

Adhitya Noviardi menambahkan bahwa digitalisasi bukan hanya membuka peluang ekspor, tetapi juga memberikan akses ke pasar lokal yang lebih luas. “UMKM yang terdigitalisasi bisa memperluas jangkauan bisnis, menurunkan biaya operasional, dan meningkatkan produktivitas,” terangnya. Ia menilai bahwa komunitas lokal perlu terlibat langsung dalam membangun solusi berbasis teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagai contoh, MitMe Fest 2026 menyediakan fasilitasi sertifikasi halal yang gratis. Program ini bertujuan membantu pelaku usaha kecil meningkatkan kualitas produk mereka, sehingga bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional. Selain itu, konsultasi strategis tanpa biaya menjadi bagian penting untuk memberikan panduan praktis dalam mengelola usaha.

Dalam rangka mendukung ekosistem UMKM, MitMe.id juga memfokuskan pada inisiatif penguatan kapasitas. Adhitya mengatakan bahwa pelatihan teknis, seperti penggunaan media sosial dan pengembangan usaha, harus didukung oleh sistem yang terstruktur. “UMKM tidak bisa berkembang sendirian, tetapi memerlukan bantuan dari berbagai pihak agar bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat,” ujarnya.

Kemitraan untuk Membentuk Kebijakan yang Inklusif

Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai jalan untuk membentuk kebijakan yang lebih inklusif. Tiar menjelaskan bahwa pemerintah perlu bekerja sama dengan lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, serta perusahaan teknologi untuk menciptakan program yang relevan. “Komitmen bersama akan memastikan bahwa setiap pelaku usaha mendapatkan kesempatan yang adil,” kata Tiar.

Acara MitMe Fest 2026 diharapkan menjadi titik awal dari perubahan besar dalam dunia usaha kecil. Dengan melibatkan berbagai pihak, acara ini menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, sumber daya, dan inovasi. “Kami berharap ini bisa memicu semangat gotong royong yang berkelanjutan, sehingga UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi bagian penting dari perekonomian nasional,” tutur Adhitya.

Kemajuan UMKM juga berkaitan dengan pengembangan kreativitas lokal. Tiar menekankan bahwa UMKM harus dianggap sebagai penopang utama ekonomi Indonesia, terutama di tengah tuntutan pasar yang semakin dinamis. “Digitalisasi menjadi alat untuk memperkuat daya saing UMKM, sekaligus membangun ekosistem bisnis yang lebih inklusif,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *