Special Plan: Kepala BSKDN ingatkan inovasi harus terencana dan berkelanjutan

Kepala BSKDN ingatkan inovasi harus terencana dan berkelanjutan

Special Plan – Jakarta – Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Yusharto Huntoyungo mengingatkan pentingnya pendekatan terstruktur dalam pengembangan inovasi. Menurutnya, inovasi tidak bisa muncul secara acak atau sporadis, tetapi harus dilakukan dengan perencanaan matang serta komitmen jangka panjang. “Inovasi yang dihasilkan tidak boleh dibiarkan terlupakan. Perlu ada manajemen yang menyeluruh, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga memastikan keberlanjutan hasilnya,” ujar Yusharto dalam keterangan pers yang dilayangkan di Jakarta, Senin.

Sosialisasi Bimtek Inovasi Daerah di Magelang

Kata Yusharto disampaikan saat menjadi narasumber dalam acara Sosialisasi Bimbingan Teknis (Bimtek) Inovasi Daerah Kabupaten Magelang tahun 2026. Acara yang berlangsung di Pendopo drh. Soepardi tersebut menjadi platform untuk menyoroti strategi pembangunan berbasis inovasi. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa inovasi bukan sekadar alat, tetapi merupakan komponen kunci dalam mendorong transformasi daerah. “Dengan inovasi, kita bisa menjamin peningkatan kualitas layanan publik serta kemampuan daerah untuk bersaing di tingkat nasional dan internasional,” lanjutnya.

Menurut Yusharto, inovasi yang efektif harus memiliki arah yang jelas dan tidak terputus. “Jika tidak diarahkan dengan baik, inovasi hanya akan menjadi sekadar trend tanpa dampak nyata,” kata dia. Hal ini memerlukan pengelolaan siklus yang lengkap, termasuk penguatan perencanaan, pelaksanaan yang tepat sasaran, evaluasi berbasis data, serta upaya untuk menjaga keberlanjutan program. “Kita harus memastikan setiap inovasi memiliki dampak jangka panjang dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Kolaborasi dan Manajemen Inovasi

Yusharto juga menggarisbawahi pentingnya sinergi antar OPD dalam menciptakan inovasi. “Inovasi tidak bisa menjadi tanggung jawab satu instansi saja, melainkan hasil dari kolaborasi berbagai pihak di lingkungan pemerintah daerah,” jelasnya. Ia mencontohkan bahwa keberhasilan sebuah inovasi seringkali bergantung pada keterlibatan tim yang berbeda, seperti pengelolaan data, pemanfaatan teknologi, serta koordinasi antar sektor. “Manajemen inovasi harus dijalankan secara menyeluruh agar tidak hanya terbatas pada satu unit saja,” ujar Yusharto.

Dalam konteks ini, Yusharto memaparkan bahwa digitalisasi dan pemanfaatan data menjadi fondasi penting dalam pengembangan inovasi. “Teknologi dan data tidak hanya mempermudah proses pelaksanaan, tetapi juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam layanan publik,” katanya. Ia menambahkan bahwa data kependudukan yang terintegrasi dengan data sektor lain, seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, bisa menjadi acuan untuk merancang kebijakan yang lebih tepat dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Sebagai contoh, Yusharto menyebutkan bahwa ke depan layanan publik akan lebih berorientasi pada data individu, termasuk riwayat keluarga dan kondisi sosial ekonomi warga. “Dengan pendekatan ini, kita bisa menciptakan solusi yang lebih presisi dan berkelanjutan,” kata dia. Ia juga meminta pemerintah daerah untuk terus berinovasi, termasuk dalam mengakses dan mengelola sumber daya yang ada.

Tantangan dalam Implementasi Inovasi

Dalam kesempatan tersebut, Yusharto menyebutkan beberapa tantangan yang sering dihadapi dalam upaya mendorong inovasi daerah. Antara lain, keterbatasan pendanaan, kurang optimalnya hilirisasi hasil penelitian, serta pembudayaan inovasi yang belum terimplementasi secara baik. “Kita perlu mengatasi hambatan-hambatan ini agar inovasi bisa berkembang secara stabil dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Yusharto, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengubah tantangan menjadi peluang. Salah satu strategi yang diajukan adalah menjadikan daerah sebagai offtake dari hasil riset dan invensi perguruan tinggi. “Magelang memiliki empat perguruan tinggi yang telah melaksanakan tridarma, salah satunya penelitian. Hasil penelitian ini bisa menjadi dasar untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mendorong budaya inovasi di tingkat lokal. “Kita perlu menciptakan lingkungan yang mendorong kreativitas, keterbukaan, dan kerja sama antar sektor,” katanya. Yusharto mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Magelang yang telah mengadakan lomba inovasi daerah sebagai salah satu upaya pembudayaan tersebut. “Contoh forum seperti ini menjadi bagian dari inovasi juga, Bapak/Ibu, dan berharap bisa meningkatkan kualitas inovasi di wilayah tersebut,” tuturnya.

Dalam paparannya, Yusharto menekankan bahwa inovasi harus dipandang sebagai bagian dari sistem kebijakan daerah yang holistik. “Kita tidak bisa hanya fokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pada aspek manajemen dan kapasitas organisasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini akan membantu mencegah kegagalan akibat kurangnya persiapan dan penyesuaian dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Kepala BSKDN ini menegaskan bahwa inovasi yang baik harus mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi tantangan masa depan. “Dengan inovasi yang terencana, kita bisa mengoptimalkan sumber daya dan menciptakan dampak yang berkelanjutan,” katanya. Menurut Yusharto, langkah-langkah seperti sosialisasi, bimbingan teknis, dan kolaborasi lintas sektor merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem inovasi yang kondusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *