Latest Program: Barantin-BNN perkuat integrasi sistem pengawasan lintas batas
Barantin dan BNN Sinergi untuk Meningkatkan Pengawasan Lintas Batas
Latest Program – Dalam upaya menghadapi tantangan penyelundupan narkotika yang semakin rumit, Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) sepakat memperkuat kerja sama lintas lembaga. Langkah ini dilakukan melalui pertukaran data serta penerapan deteksi awal di sejumlah titik masuk negara, seperti pelabuhan dan bandara, untuk mengantisipasi metode baru yang digunakan oleh pelaku kejahatan. Koordinasi antarinstansi dianggap penting karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan lalu lintas perdagangan dan distribusi barang yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko masuknya narkotika secara tidak terdeteksi.
Perkembangan Modus Penyelundupan yang Kompleks
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menyoroti bagaimana teknik penyelundupan narkotika kini terus berubah, dengan beberapa pelaku memanfaatkan jalur perbatasan sebagai titik masuk utama. Menurut Karding, modus-modus baru sering kali memanfaatkan celah di sistem pengawasan karantina, yang sebelumnya lebih fokus pada barang bawaan. “Banyak narkotika yang lewat perbatasan karena area itu masih menjadi kewenangan Barantin,” ujar Karding saat memberikan pernyataan di Jakarta, Kamis. Ia menekankan bahwa sinergi antarlembaga menjadi kunci dalam mengatasi dinamika ini, terutama karena keberadaan narkotika dapat menyembunyikan diri di tengah barang yang masuk ke Indonesia.
“Modus-modus narkotika itu terus berkembang dan tidak sedikit yang lewat border-border yang menjadi kewenangan Badan Karantina,” katanya.
Karding juga menyebut bahwa integrasi sistem pengawasan lintas batas diperlukan untuk menjaga konsistensi antara tugas kedua lembaga. “Kita connect-kan dengan sistem BNN. Jadi begitu kita melihat di border itu ada yang mencurigakan atau temuan, kita langsung lapor,” tambahnya. Hal ini menunjukkan komitmen Barantin dalam mempercepat proses pengawasan melalui teknologi dan sistem yang telah diperbarui.
Kolaborasi dengan Teknologi Pemantauan Real-Time
Selain sinergi operasional, Barantin dan BNN juga menitikberatkan pada pemanfaatan sistem teknologi canggih. Salah satu alat utama yang digunakan adalah Best Trust, sebuah platform data yang memungkinkan pemantauan informasi secara real-time. Sistem ini dirancang untuk mendukung keputusan cepat dalam mengidentifikasi barang yang mencurigakan, terutama di titik masuk negara. Menurut Karding, data dari Best Trust menjadi referensi penting dalam mengantisipasi masuknya narkotika yang mengalir melalui komoditas lain.
Sebagai contoh, Barantin pernah mengungkap kasus penyelundupan ganja dari Jerman yang diselipkan dalam komoditas pakan. Jumlah barang yang ditemukan mencapai lebih dari 800 kilogram (kg) beberapa tahun lalu, menunjukkan bagaimana narkotika bisa masuk ke Indonesia dengan cara yang tak terduga. Data terbaru juga menunjukkan bahwa nilai ekspor komoditas karantina Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai Rp304,7 triliun, sehingga keberhasilan pengawasan menjadi semakin kritis untuk menjaga kelancaran perdagangan dan keamanan nasional.
Tantangan dan Kesiapan Menghadapi Pola Baru
Kepala BNN, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, menambahkan bahwa pengawasan narkotika saat ini tidak hanya menghadapi kompleksitas bentuk barang, tetapi juga perubahan pola distribusi. Ia menjelaskan bahwa narkotika kini tidak hanya hadir dalam bentuk padat, serbuk, atau pil, tetapi juga berbentuk cairan yang lebih mudah disembunyikan. “Bentuknya bukan hanya padat, serbuk, pil, dan tanaman saja, tapi sudah berbentuk cairan,” ujar Suyudi. Contohnya, beberapa kasus baru menemukan narkotika jenis etomidat yang dimasukkan ke dalam perangkat vape, menciptakan ancaman baru bagi keamanan hayati masyarakat.
“Kita juga menjadi perhatian karena seringkali kita, BNN, Polri, dan juga Bea Cukai mengungkap narkotika jenis baru, etomidat khususnya, berbentuk cair dan seringkali masuk ke rokok-rokok elektrik,” katanya.
BNN melalui Operasi Saber Bersinar pada Mei 2026 telah menyita barang bukti narkotika dengan nilai mencapai Rp211,4 miliar. Dalam operasi tersebut, 715 kasus berhasil diungkap, menggambarkan betapa banyaknya kegiatan penyelundupan yang berlangsung. Suyudi menegaskan bahwa tantangan terbesar terletak pada jumlah pintu masuk yang banyak, baik resmi maupun tidak resmi, yang bisa dimanfaatkan oleh jaringan internasional. “Indonesia memiliki tantangan pengawasan yang besar karena selain banyak pintu masuk resmi, juga ada jalur tidak resmi yang rawan,” jelasnya.
Langkah Strategis untuk Penguatan Pengawasan
Untuk memperkuat sinergi antara Barantin dan BNN, kedua lembaga telah menyusun rencana kolaborasi lebih lanjut. Salah satu langkah utamanya adalah mempercepat proses penyusunan nota kesepahaman (MoU) serta perjanjian kerja sama. “Kita akan menyegerakan (penandatanganan MoU). Tim dari Badan Karantina juga bersama tim BNN untuk duduk mengkaji apa saja yang harus kita buat dalam kerja sama itu,” ujar Suyudi. Dengan adanya MoU, diharapkan bisa menciptakan mekanisme yang lebih efektif dalam mengatasi penyelundupan, terutama di titik masuk yang rawan.
Selain itu, Barantin sebelumnya telah menerapkan sistem preborder dan layanan digital karantina untuk mempercepat arus barang serta mengurangi waktu tunggu di pelabuhan maupun bandara. Teknologi ini dirancang agar proses pemeriksaan tidak mengganggu kegiatan perdagangan sehari-hari. Namun, keberadaan sistem tersebut juga menuntut adanya koordinasi yang lebih ketat dengan BNN untuk menjamin pengawasan terpadu.
Karding menambahkan bahwa sinergi antarlembaga menjadi dasar untuk menghadapi tren penyelundupan yang terus berkembang. Dengan kombinasi data dan teknologi, ia yakin pengawasan lintas batas akan lebih efektif dalam menangkal ancaman narkotika. “Ini menjadi bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif,” pungkas Karding. Di sisi lain, Suyudi mengingatkan bahwa keberhasilan pengawasan juga bergantung pada kecepatan respons dan keterlibatan instansi lain dalam memperkuat jaringan anti-narkoba di Indonesia.
Upaya integrasi sistem pengawasan ini tidak hanya fokus pada perbatasan fisik, tetapi juga pada infrastruktur digital yang mendukung pengelolaan data. Dengan memadukan kekuatan teknologi dan operasional, Barantin dan BNN berharap dapat menekan distribusi narkotika, sekaligus menjaga kelancaran perdagangan yang menjadi prioritas utama. Dalam waktu dekat, kedua lembaga akan terus mengevaluasi metode pengawasan untuk menyesuaikan dengan dinamika kejahatan penyelundupan yang terus berkembang.