Meeting Results: Kementan pastikan jaga harga ayam demi perkuat ekonomi peternak rakyat

Kementan Pastikan Jaga Harga Ayam demi Perkuat Ekonomi Peternak Rakyat

Meeting Results – Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmen dalam mengawasi dan menjaga stabilitas harga ayam hidup, agar peternak rakyat tidak terkena dampak negatif dari fluktuasi pasar. Langkah ini diambil sebagai upaya mengamankan keberlanjutan usaha para peternak mandiri serta memastikan pertumbuhan industri perunggasan nasional yang sehat, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Koordinasi untuk Stabilkan Harga Ayam

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, I Ketut Wirata, menjelaskan bahwa pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN) serta pelaku rumah potong hewan unggas (RPHU) guna memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga harga yang adil bagi peternak. Koordinasi ini dilakukan setelah ditemukan harga jual ayam hidup di beberapa daerah masih berada di bawah standar yang ditetapkan pemerintah.

“Upaya ini bertujuan melindungi usaha peternak rakyat dari tekanan harga yang tidak seimbang, sekaligus memastikan keseimbangan industri perunggasan nasional tetap terjaga,” ujar Ketut dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Menurut Ketut, situasi harga ayam hidup yang terus menurun memperparah kesulitan peternak skala kecil. Ia menyoroti bahwa di Jawa Tengah, harga jual ayam hidup mencapai Rp15.000 per kilogram, jauh lebih rendah dari harga acuan pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp19.500. Kondisi ini menurutnya sangat berat bagi para peternak mandiri karena biaya produksi mereka jauh lebih tinggi.

Dalam upayanya mengatasi masalah tersebut, Kementan bersama ARPHUIN dan RPHU menegaskan pentingnya kerja sama antarlembaga. Ketut menekankan bahwa rumah potong hewan unggas (RPHU) memiliki peran strategis dalam memastikan pasokan produksi peternak tetap terkontrol dan harga di tingkat peternak tidak terlalu rendah. Selain itu, pihaknya juga menunda sementara rekomendasi usaha tertentu di sektor perunggasan hingga harga kembali sesuai dengan standar yang ditetapkan.

“Selama harga belum mencapai acuan pemerintah, seluruh rekomendasi terkait pelaku usaha perunggasan di Ditjen PKH akan ditunda sementara,” jelas Ketut.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan, Hary Suhada, menambahkan bahwa keputusan untuk menunda rekomendasi ini menunjukkan seriusnya pemerintah dalam menjaga kestabilan ekonomi sektor pertanian. Ia berharap kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan bisa membantu mencegah penurunan harga yang berkelanjutan.

Di sisi lain, pelaku industri perunggasan mengungkapkan bahwa mereka juga menghadapi tekanan pasar yang signifikan. Permintaan terhadap ayam hidup cenderung melemah, sementara pasokan terus meningkat. Hal ini membuat mereka kesulitan dalam menetapkan harga yang seimbang. “Kami terus berupaya menyerap produksi peternak secara maksimal, bahkan selama masa libur panjang, untuk menjaga keseimbangan pasokan,” tambah Sigit Pambudi, Ketua ARPHUIN.

Sigit menjelaskan bahwa meskipun ada situasi sulit di pasar, RPHU tetap berupaya menjalankan aktivitas pemotongan secara optimal. Ini dilakukan untuk memastikan produksi tidak terbuang percuma dan kebutuhan konsumen tetap terpenuhi. “Meskipun dalam masa libur, kami tetap bekerja keras untuk menyerap ayam dari peternak. Jadi, jika harga turun, itu bukan karena keinginan kami, melainkan dampak dari kondisi pasar yang sedang tidak stabil,” ujar Sigit.

Kementan juga menekankan bahwa stabilitas harga ayam hidup merupakan kunci utama dalam menjaga daya tahan pangan nasional. Peternak rakyat, yang merupakan tulang punggung produksi ayam nasional, sangat rentan terhadap fluktuasi harga. Jika harga terus turun di bawah biaya produksi, risiko kegagalan usaha akan meningkat, terutama bagi peternak kecil yang memiliki modal terbatas.

Menurut Ketut, peternak besar mungkin masih bisa bertahan karena memiliki akses modal yang lebih luas. Namun, bagi peternak mandiri, penurunan harga bisa mempercepat proses gulung tikar. “Kami mengimbau RPHU untuk tidak membeli ayam di bawah harga acuan yang telah disepakati, agar keberlanjutan usaha peternak tidak terganggu,” tambahnya.

Dalam konteks ini, Kementan berharap semua pihak, termasuk pemerintah, peternak, RPHU, dan pelaku usaha, bisa bekerja sama dengan baik. Keseimbangan pasar bukan hanya penting untuk ekonomi peternak rakyat, tetapi juga untuk menjaga ketersediaan protein hewani bagi masyarakat. “Kolaborasi ini menjadi fondasi utama dalam memastikan ketahanan pangan nasional,” pungkas Ketut.

Kementan menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil bukan hanya untuk mengatasi masalah sementara, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Mereka ingin membangun sistem yang bisa menyerap produksi secara efisien, mengendalikan pasokan, dan menghindari lonjakan harga yang merugikan peternak. Selain itu, upaya ini juga diharapkan mampu menciptakan keberlanjutan usaha yang lebih baik bagi sektor perunggasan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *