New Policy: PGN-BRIN tingkatkan ekonomi lahan pesisir melalui Minapadi Salin

PGN-BRIN tingkatkan ekonomi lahan pesisir melalui Minapadi Salin

New Policy – Jakarta – Kemitraan antara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dan Badan Riset serta Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan program Minapadi Salin di kawasan Pantai Sicepit, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan potensi lahan pesisir yang terdampak salinitas, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pangan nasional. Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan upaya kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan dan membangun ekonomi lokal melalui penggunaan teknologi serta pola pertanian yang inovatif.

Strategi Integrasional untuk Lahan Pesisir

Program Minapadi Salin menggabungkan berbagai komoditas pertanian dan perikanan dalam satu wilayah, seperti budi daya padi biosalin, pemeliharaan ikan nila salin, serta budidaya rumput laut. Kombinasi ini dirancang untuk menciptakan pendapatan tambahan bagi masyarakat pesisir, sekaligus mengurangi risiko ketidakstabilan produksi akibat salinitas tinggi. Fajriyah menyebutkan bahwa keberhasilan program ini berdasarkan pada inovasi yang diintegrasikan, termasuk pemanfaatan teknologi riset dari BRIN.

“Minapadi Salin merupakan upaya nyata untuk mengubah lahan pesisir yang sebelumnya kurang produktif menjadi area yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Fajriyah Usman dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Sebelumnya, program ini telah diuji coba di wilayah pesisir utara Semarang, khususnya di Mangunharjo, serta di Kabupaten Jepara. Di Mangunharjo, luas lahan yang dikembangkan meningkat drastis dari awalnya 20 hektare menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara itu, di Jepara, realisasi panen mencapai 22 hektare, melebihi target awal sebesar 20 hektare, dengan pendapatan ekonomi hingga Rp1,23 miliar. Secara keseluruhan, nilai ekonomi dari program padi Biosalin telah mencapai Rp7,66 miliar.

Implementasi di Batang dengan Pendekatan Berkelanjutan

Kabupaten Batang menjadi fokus baru program ini dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Area yang dikembangkan mencakup 32,26 hektare, dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI. Di sini, selain padi Biosalin, komoditas ikan nila salin dan rumput laut juga dikedepankan sebagai bagian dari strategi pengelolaan lahan yang efektif.

Rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis Gracilaria verrucosa, yang terbukti memiliki daya tahan tinggi terhadap salinitas perairan pesisir. Teknologi ini tidak hanya mendukung pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan. Dalam tahap awal, sekitar 30 kilogram bibit rumput laut ditebar untuk memulai eksperimen. Sementara itu, budi daya ikan nila salin diharapkan menghasilkan panen dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor.

“Program ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara nyata di lapangan, mengatasi tantangan lahan pesisir yang memiliki salinitas tinggi,” kata Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi.

BRIN memberikan dukungan teknologi pertanian yang dipadukan dengan keahlian perikanan. Program ini menargetkan produktivitas padi hingga 6–7 ton per hektare, serta memastikan keberlanjutan pendapatan masyarakat melalui siklus panen yang relatif singkat. Selain itu, budidaya rumput laut diperkirakan dapat meningkatkan penghasilan melalui pengelolaan yang berkelanjutan, dengan jangka panen 3–4 minggu sekali.

Kemitraan untuk Mitigasi Abrasi dan Ekosistem

Upaya kolaborasi PGN dan BRIN tidak hanya berfokus pada produktivitas lahan, tetapi juga pada pemulihan lingkungan. Dalam tahap lanjutan, program ini akan diperkuat dengan penanaman mangrove di sekitar kawasan budi daya. Langkah ini bertujuan mengurangi abrasi pantai serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Dengan kombinasi tiga komoditas, yaitu padi, ikan, dan rumput laut, harapan besar diarahkan pada peningkatan ekonomi yang stabil.

Peluncuran program Minapadi Salin di Batang diawali dengan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin, diikuti oleh penyerahan bibit padi Biosalin ke para petani. Panen perdana direncanakan berlangsung dalam tiga bulan setelah penanaman, dengan potensi hasil panen mencapai 5 kilogram per kilogram bibit yang ditebar. Konsistensi pola ini diharapkan dapat menjaga produktivitas lahan sekaligus memperkuat dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Manfaat Strategis bagi Petani dan Pesisir

Bupati Batang, M Faiz Kurniawan, menilai program ini sebagai langkah strategis untuk mengubah lahan pesisir yang selama ini tidak produktif menjadi daerah pertanian dan perikanan bernilai ekonomi. “Melalui Minapadi Salin, kita tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga memberikan akses tambahan bagi petani dan masyarakat pesisir untuk meningkatkan pendapatan,” ujar Faiz Kurniawan.

Program ini dirancang untuk menciptakan keberlanjutan ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya alam secara efektif. Kemitraan antara PGN, BRIN, serta Pemkab Batang menunjukkan komitmen untuk mengembangkan pertanian adaptif terhadap lingkungan pesisir. Dengan integrasi teknologi dan budaya lokal, harapan ada pada peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan. Hal ini juga menjadi solusi bagi tantangan iklim dan perubahan lingkungan yang mengancam produktivitas pertanian tradisional.

Di masa depan, keberhasilan program di Batang akan menjadi referensi bagi daerah lain yang memiliki kondisi lahan serupa. Pengembangan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan keberlanjutan hasil panen serta menjaga keseimbangan ekosistem. Kombinasi antara teknologi riset BRIN, komitmen PGN, dan partisipasi masyarakat lokal memberikan dasar kuat untuk mencapai tujuan ekonomi dan lingkungan yang harmonis.

Program Minapadi Salin menggambarkan bagaimana inovasi bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Melalui pendekatan multidisiplin, lahan pesisir yang terdampak salinitas dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap fluktuasi pasar. Dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang tepat, program ini berpotensi menjadi model keberhasilan dalam pemanfaatan lahan pesisir di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *