Solving Problems: Mendag: Kopi hingga tembakau jadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor
Mendag: Kopi dan Rokok Dorong Pertumbuhan Ekspor Indonesia
Solving Problems – Jakarta, Kamis — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa beberapa komoditas seperti kopi, teh, rempah-rempah, serta tembakau dan rokok menjadi penentu utama kenaikan ekspor nonmigas pada April 2026. Dalam keterangan resmi, ia menjelaskan bahwa volume ekspor total Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS, naik 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya, Maret 2026, serta meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, April 2025.
Pertumbuhan ekspor bulanan ini didorong oleh kenaikan signifikan di sektor nonmigas, yang mencatatkan pertumbuhan 13,66 persen. Sebaliknya, ekspor migas mengalami penurunan sebesar 9,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Budi menegaskan bahwa sektor industri pengolahan berperan penting dalam menggerakkan performa ekspor selama empat bulan pertama tahun ini, dengan peningkatan 9,78 persen dibandingkan Januari-April 2025.
Komoditas Nonmigas Menjadi Pendorong Utama
Komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah menjadi bintang dari pertumbuhan ekspor nonmigas, dengan kontribusi yang sangat signifikan. Menurut Budi, peningkatan ekspor dari ketiga komoditas ini mencapai 54,44 persen, membuat mereka menjadi produk yang paling menguntungkan dalam kinerja perdagangan. Selain itu, tembakau dan rokok juga mengalami peningkatan ekspor sebesar 43,49 persen, menunjukkan daya tarik pasar internasional terhadap produk-produk ini.
“Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen, serta tembakau dan rokok naik 43,49 persen,” kata Budi dalam keterangan di Jakarta.
Menurut Menteri Perdagangan, kenaikan ekspor ini tidak hanya menggambarkan kekuatan pasar global, tetapi juga hasil dari strategi pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk lokal. Selain itu, komoditas kayu dan barang dari kayu juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 40,91 persen, sementara lemak dan minyak hewani atau nabati tumbuh 38,71 persen. Mesin dan peralatan mekanis, yang biasanya dianggap sebagai bagian dari ekspor industri, mengalami kenaikan 37,26 persen bulan ini.
Negara-Negara Utama Tujuan Ekspor
Peningkatan ekspor nonmigas juga terjadi karena permintaan dari negara-negara mitra dagang utama meningkat. Tiga negara yang menjadi pengekspor utama pada April 2026 adalah Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, dan Belgia. Masing-masing negara menunjukkan pertumbuhan ekspor yang luar biasa, dengan Uni Emirat Arab mencatatkan kenaikan 305,21 persen, Afrika Selatan naik 288,40 persen, dan Belgia meningkat 117,84 persen secara bulanan.
Kenaikan signifikan ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia memiliki daya tarik di berbagai pasar. Negara-negara tersebut tampaknya memprioritaskan produk-produk Indonesia karena kualitasnya yang kompetitif. Budi menyoroti bahwa pertumbuhan ekspor ke negara-negara ini memberikan dampak besar terhadap total kinerja ekspor bulanan.
Kinerja Kumulatif Januari-April 2026
Jika dilihat secara kumulatif, ekspor Indonesia dari Januari hingga April 2026 mencapai 92,15 miliar dolar AS, meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, kontribusi ekspor nonmigas sebesar 87,74 miliar dolar AS, yang tumbuh 6,28 persen, sedangkan ekspor migas turun 8,30 persen menjadi 4,41 miliar dolar AS.
Kinerja ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan ekonomi global, ekspor Indonesia masih mampu menjaga momentum positif. Budi menambahkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi faktor kunci, karena pertumbuhan 9,78 persen di sektor ini membantu mengimbangi penurunan di sektor migas.
Peran Komoditas Kunci dalam Ekonomi Global
Kopi, yang menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia, menunjukkan pertumbuhan ekspor yang luar biasa, mencapai 54,44 persen. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan internasional terhadap produk-produk Indonesia konsisten meningkat, terutama dari negara-negara yang tergolong sebagai mitra dagang strategis. Rempah-rempah, yang merupakan bagian dari industri pertanian, juga mencatatkan kenaikan signifikan, menunjukkan keberhasilan dalam menarik minat pembeli dari pasar global.
Sementara itu, peningkatan ekspor tembakau dan rokok menunjukkan bahwa sektor industri karet dan tekstil masih mampu berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan devisa. Budi menyebutkan bahwa produk-produk ini menarik banyak pembeli karena kualitasnya yang tinggi dan daya tariknya di luar negeri. Selain itu, kayu dan barang dari kayu juga menjadi salah satu komoditas yang paling dinamis, dengan pertumbuhan ekspor mencapai 40,91 persen.
Strategi Pemerintah dan Tantangan Global
Menurut Budi, pertumbuhan ekspor yang positif ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam memperkuat kebijakan perdagangan. Ia menegaskan bahwa kontribusi dari sektor nonmigas, terutama komoditas kopi dan tembakau, menjadi elemen penting dalam menciptakan kinerja ekspor yang stabil. Di tengah tekanan dari krisis ekonomi global, seperti inflasi dan perubahan nilai tukar mata uang, produk-produk Indonesia tetap mampu