Warga Lumajang gelar tradisi saling sabet rotan untuk perkuat kebersamaan
Warga Lumajang gelar tradisi saling sabet rotan untuk perkuat kebersamaan
Perayaan Ojung di Desa Nguter: Simbol Kebersamaan dalam Budaya Jawa
Warga Lumajang gelar tradisi saling sabet – Di tengah hening pagi hari, Selasa (7/7/2026), Desa Nguter, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, dipenuhi oleh suara tawa dan gerakan cepat warga yang saling bertukar pukulan dengan alat rotan. Aktivitas ini adalah bagian dari tradisi Ojung, sebuah ritual yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama berabad-abad. Dalam upacara tahunan ini, dua orang secara bergiliran menggunakan rotan sebagai alat utama untuk beradu pukulan, menciptakan suasana yang penuh semangat dan kolaboratif.
Tradisi Ojung, yang diadakan saat bulan Suro dalam penanggalan Jawa, memiliki makna mendalam bagi warga Desa Nguter. Selain sebagai cara untuk memperingati selamatan desa, ritual ini juga bertujuan memperkuat ikatan sosial antarwarga. Setiap tahun, masyarakat berkumpul untuk menghidupkan kembali budaya yang dipercaya mampu menjaga rasa persatuan dan kegotongroyongan. Proses Ojung dimulai dengan pembersihan ruangan tempat acara, dilanjutkan oleh pemandu upacara yang memberikan arahan langkah-langkahnya.
“Ojung bukan hanya sekadar permainan, tapi cara kita menyampaikan nilai-nilai gotong royong dan keberanian kepada generasi muda,” ujar Ibu Rina, salah satu warga Desa Nguter yang aktif dalam tradisi ini. Menurutnya, ritual ini mendorong partisipasi aktif setiap anggota masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, untuk menjaga keharmonisan dalam keluarga dan komunitas.
Dalam praktiknya, Ojung melibatkan dua peserta yang secara bergantian menyerang dan membela diri menggunakan rotan. Gerakan pukulan dilakukan dengan ketepatan dan kekuatan yang diukur berdasarkan ketahanan tubuh. Orang yang lebih lemah secara fisik diberi keuntungan untuk menjaga kesetaraan dalam permainan. Acara ini diakhiri dengan pemberian hadiah kepada pemenang, yang dianggap sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama dan semangat kompetisi yang sehat.
Budaya Ojung telah menjadi warisan yang tak tergantikan bagi warga Lumajang, terutama di daerah pedalaman seperti Desa Nguter. Meski berlangsung dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk, ritual ini tetap dijaga dengan baik oleh para penerus tradisi. Proses pembelajaran dari orang tua kepada anak-anak dipandu dengan kesadaran bahwa Ojung adalah simbol kebersamaan yang terus hidup di tengah modernisasi.
Tradisi Ojung juga dipercaya memiliki asal-usul yang terkait dengan sejarah masyarakat Jawa. Seorang ahli budaya dari Lumajang, Bapak Dodi, menjelaskan bahwa ritual ini mungkin berasal dari kebiasaan nenek moyang untuk melatih keberanian sebelum berperang atau berburu. Dengan cara yang sederhana, mereka mengajarkan kehidupan sosial yang saling menghormati, menghargai perbedaan, dan tetap solid.
Dalam konteks kekinian, Ojung tidak hanya menjadi kegiatan tradisional, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda. Anak-anak yang berpartisipasi belajar tentang pentingnya kerja sama, kesabaran, dan semangat persaingan yang sehat. Di samping itu, masyarakat juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat identitas lokal dan menegaskan bahwa budaya adalah bagian dari kehidupan yang harus dilestarikan.
Keberlanjutan Ojung tergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Para tokoh adat, tokoh muda, dan warga umum bekerja sama untuk memastikan acara berjalan lancar. Keterlibatan generasi muda sangat krusial, karena mereka menjadi calon pengganti dari kebiasaan lama. Dengan adanya kegiatan ini, semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang terus berkembang di tengah kehidupan modern.
Proses persiapan Ojung biasanya dimulai beberapa hari sebelum acara utama. Warga bersama-sama membangun ruangan tempat ritual, menyiapkan makanan khas, dan menghias lingkungan desa dengan bunga dan umbi-umbian. Selama acara, kegiatan saling sabet rotan diiringi oleh nyanyian tradisional dan tarian yang menggambarkan semangat komunitas. Aktivitas ini juga menjadi ajang mempererat hubungan antara warga dengan tetangga, karena tidak hanya keluarga yang terlibat, tetapi juga teman-teman dari desa lain.
Sebagai bagian dari selamatan desa, Ojung dilakukan untuk meminta doa kepada leluhur agar segala kegiatan yang dilakukan masyarakat di tahun berikutnya berjalan lancar. Ritual ini melibatkan penempatan rotan di tempat tertentu sebagai simbol persembahan. Selain itu, kegiatan saling sabet dirasa mampu menghilangkan kebosanan dan memberikan ruang bagi warga untuk bersantai sekaligus berlatih kebugaran fisik.
Dengan berbagai perubahan dan penyesuaian, tradisi Ojung tetap mempertahankan esensinya sebagai penjaga kebersamaan. Di Desa Nguter, kegiatan ini dianggap sebagai cerminan dari semangat gotong royong yang mengakar dalam budaya Jawa. Warga menyadari bahwa melalui Ojung, mereka tidak hanya memperingati masa lalu, tetapi juga menciptakan harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym. Gambar yang diambil oleh Irfan Sumanjaya pada 7 Juli 2026 menangkap momen dua warga tengah beradu pukulan dengan rotan, menunjukkan semangat persaingan yang sehat dalam kebersamaan. Foto ini menjadi bukti bahwa kebudayaan lokal masih hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.