Special Plan: Kemenkes: Infrastruktur ramah lansia investasi HALE nasional

Kemenkes: Investasi pada Infrastruktur Ramah Lansia Jadi Kunci Peningkatan HALE Nasional

Special Plan – Jakarta – Dalam upaya memperbaiki kualitas kehidupan lansia di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kebutuhan usia lanjut dan mendukung aktivitas sehari-hari serta layanan pencegahan penyakit dapat secara signifikan meningkatkan angka Health Adjusted Life Expectancy (HALE). HALE, yang merepresentasikan usia harapan hidup dalam kondisi sehat, saat ini masih berada di level 60,7 tahun, meski umur harapan hidup umum masyarakat Indonesia telah mencapai 74,15 tahun.

Tantangan dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan di Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa perbedaan antara usia harapan hidup dan usia sehat membuka peluang untuk meningkatkan kesehatan lansia. Dengan jumlah penduduk usia lanjut yang terus bertambah, risiko masyarakat lansia mengalami kondisi sakit, ketergantungan, atau penurunan fungsi tubuh semakin tinggi. Dalam konteks ini, pemerintah perlu mengarahkan fokus pembangunan menuju peningkatan kemampuan fungsional lansia, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan secara mandiri dan bermakna.

“Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bergantung pada bantuan dalam kegiatan sehari-hari meningkat seiring bertambahnya usia, dimana sekitar 5 persen lansia berada pada kondisi ketergantungan ringan, sedang, hingga berat,” tutur Imran.

Menurut Imran, transisi menuju era masyarakat menua memerlukan strategi kesehatan yang lebih proaktif. Faktor seperti peningkatan usia harapan hidup akibat keberhasilan pembangunan kesehatan dan kesejahteraan menjadi tantangan baru, terutama dalam menciptakan lingkungan yang memudahkan lansia untuk tetap aktif. Jika tidak diantisipasi, populasi lansia yang berkembang akan menambah beban sistem kesehatan dan sosial.

Sebagai langkah pencegahan, Imran menyoroti hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025, yang menunjukkan bahwa gangguan kesehatan pada kelompok usia lanjut cukup signifikan. Terutama, keterbatasan mobilitas menjadi isu utama, dengan sekitar 64,6 persen responden yang mengalami kesulitan bergerak. “Penggunaan fasilitas yang ramah lansia, seperti akses tanpa hambatan dan permukaan yang aman, adalah bagian penting dari solusi jangka panjang,” jelasnya.

Perubahan Perspektif dalam Membangun Usia Panjang yang Bermakna

Imran menegaskan bahwa konsep keberhasilan usia panjang kini berubah dari sekadar tampil muda menjadi kemampuan tubuh untuk berfungsi secara optimal. “Masyarakat kini lebih menghargai kekuatan fisik, keseimbangan, dan ketajaman mental daripada kulit yang halus atau angka timbangan yang sempurna,” imbuhnya.

Perubahan ini menuntut pendekatan yang berbeda dalam mengelola kesehatan lansia. Fokus tidak hanya pada memperpanjang umur, tetapi juga pada memastikan lansia tetap aktif dan mandiri. “Dengan usia harapan hidup yang semakin panjang, kesehatan harus menjadi prioritas utama,” tambah Imran.

Menurutnya, investasi pada kekuatan fisik, tidur berkualitas, nutrisi, serta lingkungan yang mendukung fungsi tubuh adalah investasi terbaik untuk masa depan lansia yang bermartabat. “Usia harapan hidup yang tinggi harus diiringi dengan kualitas hidup yang baik, bukan hanya berumur panjang tetapi juga hidup sehat,” lanjutnya.

Kesehatan Fungsional sebagai Tumpuan Utama

Dalam rangka mencapai healthy aging, Imran menekankan perlunya pengembangan infrastruktur yang memudahkan lansia dalam beraktivitas. “Lansia yang tetap aktif dan mandiri dapat berkontribusi lebih besar dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan komunitas,” ujarnya.

Usia harapan hidup yang meningkat juga mendorong pergeseran prioritas pembangunan. Dulu, fokus utama adalah memperpanjang usia, tetapi sekarang, tujuan utamanya adalah menjaga fungsi tubuh lansia agar tetap mampu melakukan aktivitas harian. “Selain itu, lingkungan yang ramah lansia, seperti ruang publik yang mendorong pergerakan dan keterlibatan sosial, menjadi elemen kunci dalam meraih usia panjang yang berkualitas,” tambah Imran.

Imran menyoroti bahwa perubahan ini bukan hanya menguntungkan lansia, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan. “Peralihan dari estetika ke fungsi membawa dampak positif, seperti menurunkan risiko penyakit kronis, memperpanjang kemandirian, dan mengurangi kebutuhan perawatan intensif di masa depan,” jelasnya.

Menurut Imran, pemerintah perlu melakukan investasi yang terukur dalam bidang kesehatan dan lingkungan. “Dengan membangun infrastruktur yang sesuai, kita dapat meningkatkan HALE Indonesia secara signifikan,” tegasnya. Dalam pandangan ini, HALE tidak hanya menjadi indikator kesehatan, tetapi juga alat untuk mengukur sejauh mana masyarakat usia lanjut dapat menjalani kehidupan yang bermakna.

Dalam konteks ini, pemerintah diharapkan mempercepat pembangunan ruang publik yang ramah lansia, seperti aksesibilitas di tempat umum, jalan yang landai, dan fasilitas kesehatan yang terjangkau. Selain itu, insentif untuk layanan pencegahan penyakit, seperti program vaksinasi atau pemeriksaan berkala, juga diperlukan untuk memperpanjang kualitas hidup lansia.

Imran menambahkan bahwa konsep healthy aging memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat. “Investasi dalam kesehatan lansia bukan hanya untuk mengurangi beban sosial, tetapi juga untuk membangun masyarakat yang lebih sehat dan produktif,” katanya.

Menurut Imran, masa depan Indonesia akan tergantung pada upaya memastikan lansia dapat tetap hidup secara mandiri. “Kita harus memikirkan kebutuhan mereka sejak dini, agar tidak ada gap antara usia harapan hidup dan usia sehat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *