Agenda Utama: Jenis kebiasaan acap dinormalisasi dan berujung pelecehan verbal

Jenis kebiasaan acap dinormalisasi dan berujung pelecehan verbal

Hingga kini, berbagai kebiasaan yang sebenarnya bisa dikategorikan sebagai bentuk pelecehan seksual verbal masih diterima secara umum oleh masyarakat. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa hal ini menyebabkan praktik pelecehan seksual terus berlangsung. Menurutnya, “Banyak kebiasaan yang dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengomentari tubuh atau penampilan seseorang, seringkali justru menjadi penyebab objektifikasi yang merugikan.”

Contoh Kebiasaan yang Dinormalisasi

Kasandra menyebut beberapa perilaku yang dianggap wajar, termasuk komentar seksual yang diucapkan dengan dalih bercanda. “Candaan atau lelucon yang memiliki nuansa seksual kerap diperbolehkan karena dianggap tidak berdampak serius, meski pelaku sadar tindakan itu membuat orang lain merasa tidak nyaman,” ujarnya. Kebiasaan serupa juga terjadi di ruang digital, seperti dalam grup chat, serta praktik catcalling di lingkungan publik.

“Perilaku-perilaku ini terus berlangsung karena dianggap sepele dan tidak memiliki konsekuensi serius. Tindakan tersebut termasuk bagian dari spektrum kekerasan seksual yang saling berkaitan,” katanya.

Dampak pada Korban

Dampak dari pelecehan seksual verbal bisa dirasakan secara psikologis dan sosial. “Korban sering merasa malu, marah, atau cemas, terutama ketika mengetahui dirinya menjadi objek pembicaraan seksual tanpa izin,” jelas Kasandra. Situasi ini bisa mengurangi kepercayaan diri korban hingga membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial.

“Sayangnya, pemahaman ini masih umum terjadi, bahkan dilakukan pihak-pihak yang memiliki peran penting dalam penegakan hukum,” ucap Kasandra.

Dalam konteks hubungan sosial seperti pertemanan atau lingkungan kampus, korban kerap khawatir akan konsekuensi jika berbicara. Menurutnya, normalisasi kekerasan seksual membuat korban sering meragukan apakah pengalaman mereka cukup serius untuk dilaporkan. Kasandra juga mengutip penelitian Judith Herman dari Amerika Serikat pada tahun 1992, yang menjelaskan bahwa korban kekerasan, termasuk verbal, sering mengalami tekanan psikologis dan memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *