Latest Program: Korea tarik kunjungan wisatawan internasional lewat bandara regional
Korea Tarik Kunjungan Wisatawan Internasional Melalui Bandara Regional
Latest Program – Jakarta – Korea Selatan kini mengambil langkah strategis untuk menarik lebih banyak wisatawan internasional melalui bandara regional sebagai pintu masuk utama sektor pariwisata. Dikutip dari Korea Times, Senin (6/7), upaya ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada Bandara Internasional Incheon, yang selama ini menjadi jalur utama kunjungan luar negeri. Sebagai bagian dari rencana tersebut, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata bersama Organisasi Pariwisata Korea (KTO) telah mengakselerasi inisiatif yang menitikberatkan pada pengembangan bandara-bandara regional seperti Cheongju dan Daegu.
Menyasar Pariwisata Lokal dan Regional
Strategi ini didasari oleh tren meningkatnya minat wisatawan internasional terhadap destinasi di luar kota utama. KTO, dalam pernyataannya, menekankan bahwa pengembangan bandara regional menjadi kunci untuk menyebarkan pengaruh pariwisata secara lebih merata. “Mengembangkan bandara regional sebagai pusat internasional sangat penting untuk mengurangi konsentrasi pariwisata yang berlebihan di wilayah ibu kota,” kata Presiden KTO, Park Sung-hyeuck, dalam wawancara terpisah.
“Dengan mengaktifkan bandara regional, kami ingin memperkuat keterlibatan masyarakat lokal dan menarik minat wisatawan yang sebelumnya tidak terjangkau oleh jalur utama,” ujar Park.
Dalam implementasinya, KTO dan pihak terkait telah membentuk gugus tugas khusus sejak April lalu. Tim ini terdiri dari 29 departemen, kantor regional, serta lembaga konsultatif yang berfokus pada peningkatan kapasitas Cheongju dan Daegu. Rencana ekspansi akan mencakup lebih banyak bandara regional lainnya mulai 2027, sebagai bagian dari strategi nasional untuk diversifikasi destinasi wisata.
Pengembangan Infrastruktur dan Rute Penerbangan
Salah satu fokus utama gugus tugas ini adalah perluasan rute penerbangan internasional. Dengan menambahkan koneksi ke destinasi baru, pemerintah mengharapkan peningkatan aksesibilitas dan ketertarikan wisatawan. Selain itu, infrastruktur sekitar bandara regional sedang ditingkatkan, termasuk akses transportasi, fasilitas penginapan, dan layanan pendukung lainnya. “Kami ingin memastikan bahwa bandara regional tidak hanya menjadi pintu masuk, tetapi juga pusat pengalaman wisata yang lengkap,” tambah Park.
Untuk memperkuat upaya ini, KTO telah menjalin kerja sama dengan sejumlah maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan. Beberapa mitra strategis termasuk China Airlines, Lion Travel, HIS, Peach Aviation, Aero K, dan T’way Air. Kemitraan ini dirancang untuk memperluas permintaan perjalanan, baik melalui promosi langsung maupun kolaborasi dalam desain paket wisata yang menarik.
Kenaikan Kunjungan Wisatawan Regional
Hasil awal dari strategi ini terlihat dalam peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung melalui bandara Cheongju dan Daegu. Hingga Mei, Bandara Internasional Cheongju mencatat kenaikan sekitar 114 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan total 50.000 pengunjung mancanegara. Angka serupa juga tercatat di Bandara Internasional Daegu, yang menerima lebih dari 46.000 wisatawan asing selama masa yang sama.
Kenaikan tersebut didorong oleh kebijakan pemasaran yang lebih agresif, serta promosi destinasi lokal melalui jalur regional. Dalam rangka ini, KTO telah merancang 35 rute perjalanan antarprovinsi dan regional, yang menghubungkan kedua bandara tersebut dengan lokasi wisata unik seperti toko roti Seongsimdang di Daejeon, Festival Lumpur Boryeong, dan Pusat Penyembuhan Laut Taean. Sementara itu, Daegu menjadi pintu masuk untuk tur ke Kuil Haein di Hapcheon, Festival Namgang Yudeung di Jinju, serta Kuil Haedong Yonggung di Busan.
Penyusunan Rencana Jangka Panjang
Dalam jangka panjang, KTO berencana mengembangkan 333 objek wisata bertema lokal, yang diharapkan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Rencana ini juga mencakup penguatan kompetensi SDM di sektor pariwisata dan promosi berkelanjutan melalui media sosial serta kerja sama dengan pihak asing. “Kami percaya bahwa pariwisata regional dapat mengurangi tekanan pada bandara utama sekaligus meningkatkan ekonomi daerah,” jelas Park.
Selain itu, KTO telah menyusun jadwal 356 penerbangan charter internasional hingga akhir tahun ini, yang jauh melebihi target awalnya. Jumlah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan daya saing bandara regional dalam menyongsong era wisatawan yang lebih terbuka. Dengan dukungan kerja sama lintas sektor, harapan ada untuk menjadikan Cheongju dan Daegu sebagai alternatif utama bagi wisatawan internasional.
Strategi untuk Pariwisata Berkelanjutan
Upaya ini tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada keberlanjutan sektor pariwisata. Dengan mengurangi beban kunjungan di Incheon, bandara-bandara regional diharapkan dapat menghindari kelebihan muatan dan menjaga kualitas pengalaman wisata. Selain itu, distribusi wisatawan ke daerah-daerah lain bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal, termasuk peningkatan keterlibatan UMKM dan pengembangan destinasi wisata yang lebih inovatif.
KTO juga menyoroti pentingnya kerja sama antarregional dalam menghadapi tantangan global. Dengan memperluas jaringan rute dan mengoptimalkan produk wisata, Korea Selatan ingin menjadi contoh negara yang mampu mengatur alur pariwisata secara efektif. “Pariwisata harus menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang seimbang,” tegas Park, yang menambahkan bahwa pihaknya akan terus mengawasi progres implementasi strategi ini.
Konsistensi dan Peluang di Tahun Depan
Di tengah dinamika pasar wisatawan internasional, KTO menegaskan komitmen untuk menjaga konsistensi dalam pelaksanaan rencana. Dengan mendorong kolaborasi antara pemerintah, maskapai, dan pengelola destinasi, program ini diperkirakan akan memberikan dampak yang lebih luas pada paruh pertama tahun 2024. Sementara itu, keberhasilan di bandara Cheongju dan Daegu menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan bandara lain, seperti Busan dan Gwangju.
Para ahli pariwisata menilai bahwa strategi ini memungkinkan ekosistem wisata yang lebih stabil, karena meminimalkan risiko ketergantungan pada satu titik masuk. Dengan memperluas pilihan, wisatawan bisa memilih destinasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka, sekaligus menstimulasi pertumbuhan kota-kota kecil di Korea Selatan. “Ini adalah langkah menuju pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tambah Park, yang menegaskan bahwa progres akan terus dilacak secara rutin.
Dengan demikian, kebijakan ini bukan hanya tentang menarik kunjungan, tetapi juga menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih luas, dinamis, dan mampu menjangkau pasar global secara lebih efisien. Dukungan pemerintah dan sektor swasta akan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan visi ini, sekaligus mengubah wajah pariwisata Korea Selatan di masa depan.