Visit Agenda: Wapres Gibran hadiri Haul Ke-55 K.H Abd. Wahab Chasbullah di Jombang
Wapres Gibran Hadiri Haul Ke-55 KH Abd. Wahab Chasbullah di Jombang
Visit Agenda – Minggu pagi, Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menghadiri acara pengajian umum yang menjadi perayaan Haul ke-55 KH Abd. Wahab Chasbullah di Yayasan PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional dan lokal, termasuk Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta tokoh-tokoh pesantren yang turut memperkuat semangat kebersamaan. Gibran tiba di lokasi acara dengan pakaian rapi, terdiri dari kemeja putih, jas, celana abu-abu, dan kopiah hitam, yang mencerminkan kehormatan terhadap sejarah dan tradisi keagamaan.
Dalam kesempatan itu, Wapres Gibran memberikan sambutan yang mengupas peran KH Abd. Wahab Chasbullah sebagai pelopor gerakan kebangsaan. Ia menekankan bahwa KH Abd. Wahab adalah tokoh yang membawa spirit persatuan dan semangat cinta tanah air sejak masa perjuangan kemerdekaan. “Makanya tadi Pak Kiai bilang wajib untuk semua santri di sini, bukan hanya santri Tambakberas ya untuk meneladani Mbah Kiai Wahab,” ujarnya. Gibran menyatakan bahwa generasi muda, terutama santri, memiliki tugas penting untuk mewarisi nilai-nilai kepemimpinan dan keberanian yang ditinggalkan oleh tokoh ulama tersebut.
“Santri-santri sebagai generasi penerus wajib meneladani beliau, karena mereka adalah pihak yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun masa depan bangsa,” tambah Gibran. Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kehidupan modern seperti konflik geopolitik, perang dagang, dan disrupsi teknologi memerlukan adaptasi dari pemuda yang memiliki akhlak mulia serta kemampuan berinovasi tinggi.
Acara Haul yang diadakan di PP Bahrul Ulum menjadi momen penting untuk mengenang jasa KH Abd. Wahab Chasbullah, yang merupakan pendiri dan tokoh sentral Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai seorang ulama besar, KH Abd. Wahab tidak hanya berkontribusi dalam bidang pendidikan keagamaan, tetapi juga berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah hidupnya yang berawal di Jombang pada 31 Maret 1888, serta kematiannya pada 29 Desember 1971 di usia 83 tahun, menjadi cerminan perjalanan panjang dalam mengabdikan diri kepada bangsa.
Warisan Kepemimpinan KH Abd. Wahab Chasbullah
KH Abd. Wahab Chasbullah dikenal sebagai tokoh yang mengusung konsep keislaman yang modern namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisional. Ia menggagas pergerakan NU sebagai wadah untuk mengembangkan keimanan dan kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan sosial. Warisan kebijaksanannya masih relevan hingga hari ini, terutama dalam membangun masyarakat yang unggul dan berakar pada keadilan. Selama hayatnya, beliau juga membina ribuan santri yang kemudian menjadi pemimpin di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan budaya.
Pada 2014, Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo memberikan penghargaan sebagai pahlawan nasional kepada KH Abd. Wahab Chasbullah, sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan abadi beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Penganugerahan tersebut menegaskan bahwa kontribusi ulama dalam sejarah bangsa tidak pernah tergantikan. Dalam upacara Haul yang dihadiri oleh sejumlah tokoh, para peserta mengenang perjalanan hidup KH Abd. Wahab dengan doa dan penghormatan, sekaligus mengingatkan kembali pesan-pesannya yang tetap relevan di era sekarang.
Ketua Majelis Pengasuh PP Bahrul Ulum, KH M. Hasib Wahab Chasbullah, yang turut hadir dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa KH Abd. Wahab Chasbullah dianggap sebagai pendiri Nahdlatul Ulama yang membawa perubahan dalam cara masyarakat beragama. “Beliau menekankan pentingnya pendidikan yang berimbang antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan,” kata KH M. Hasib. Di sisi lain, Bupati Jombang Warsubi berharap acara tersebut mampu membangkitkan semangat generasi muda dalam mewujudkan visi dan misi yang diwariskan oleh KH Abd. Wahab.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, Gibran juga menyoroti pentingnya keberagaman dalam memperkuat persatuan bangsa. “Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan agama, jadi kita harus mampu menjaga keharmonisan antar kelompok,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan negara modern tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada keberanian para pemuda dalam menghadapi berbagai dinamika global. “Santri harus menjadi contoh, karena mereka terbiasa belajar dengan berpikir jernih dan berakar pada nilai-nilai keagamaan,” imbuh Gibran.
Acara Haul ke-55 ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh pesantren lainnya, seperti Pengasuh PP Minggir, Sleman, KH Ahmad Muwafiq, serta Pengasuh PP Riyadlus Sholihin, Jember, KH Mushoddiq Fikri Farouq. Kehadiran mereka memperkuat hubungan antar pesantren yang menjalin kerja sama dalam mengembangkan pendidikan dan kegiatan sosial. Dalam kesempatan ini, para tamu mengapresiasi peran KH Abd. Wahab Chasbullah sebagai pendiri NU, yang kini menjadi bagian dari identitas keagamaan Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan, acara Haul juga menampilkan berbagai tradisi unik dari masyarakat Jombang, seperti pertunjukan seni, musik tradisional, dan pembacaan kitab suci. Gibran menyoroti bahwa warisan KH Abd. Wahab tidak hanya berupa teori, tetapi juga praktik konkret yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Kita harus belajar dari kisah hidup beliau, karena beliau adalah contoh utama bagaimana seorang ulama bisa membangun masyarakat yang lebih baik,” katanya. Ia menegaskan bahwa pesan moral KH Abd. Wahab tetap relevan, terutama dalam menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa saat ini.
KH Abd. Wahab Chasbullah, yang lahir di Jombang pada tahun 1888, adalah tokoh yang menciptakan ruang dialog antar agama dan antar budaya. Perannya dalam membentuk NU menjadikannya sebagai pionir dalam keislaman kontemporer. Selama hidupnya, beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti bantuan untuk korban bencana dan pendidikan gratis bagi masyarakat miskin. Kehadiran Gibran di acara ini menegaskan bahwa pentingnya mengenang tokoh-tokoh besar yang membentuk identitas nasional Indonesia.
Sebagai