Redaksi Olahraga : Cak Tessy soal Away Supporter dan PSSI
Redaksi Olahraga: Cak Tessy Berbicara tentang Larangan Away Supporter dan Kultur Sepak Bola Indonesia
Redaksi Olahraga –
Di tengah sorak sorai sejumlah penggemar sepak bola, Cak Tessy, seorang tokoh pemikir dalam dunia olahraga Indonesia, kembali memberikan wawasan terkini terkait peraturan baru yang diterapkan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Ia mengungkapkan bahwa kebijakan larangan away supporter menghadirkan tantangan tersendiri bagi keberlanjutan budaya sepak bola di negeri ini. Sebagai pihak yang berperan dalam membentuk pandangan publik, Cak Tessy menekankan pentingnya komunikasi antara pengelola olahraga profesional dan penggemar sepak bola yang selama ini sering dianggap sebagai bagian dari “masalah”.
Larangan Away Supporter: Solusi atau Kebijakan yang Banyak Kontroversi?
PSSI, dalam upayanya mengatasi kerusuhan di stadion, memutuskan melarang penonton dari luar wilayah klub tertentu untuk menghadiri pertandingan. Keputusan ini, yang segera dikenal sebagai “larangan away supporter”, menuai reaksi beragam dari kalangan penonton, pemain, hingga pelatih. Cak Tessy, dalam wawancara eksklusif dengan tim redaksi olahraga Antaranews, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut memang memiliki tujuan untuk meminimalkan konflik, terutama antara pendukung tim tuan rumah dan lawan. Namun, ia juga mengkritik cara penerapan kebijakan ini yang terkesan seragam dan kurang memperhatikan konteks lokal.
“Larangan ini jadi keputusan yang penting, tapi jangan sampai dijalankan tanpa dialog. Kalau PSSI langsung memutuskan tanpa mempertimbangkan suara suporter, maka mereka akan dianggap otoriter,” ujar Cak Tessy.
Kebijakan yang berlaku sejak awal tahun 2023 ini memaksa suporter luar untuk memakai atribut tertentu dan menghindari zona tertentu di stadion. Sebagian besar pendukung mengakui bahwa peraturan ini membantu mengurangi kekacauan, terutama saat pertandingan berjalan sengit. Namun, kritik juga datang dari kelompok yang merasa tidak adil, karena larangan ini hanya diterapkan pada tim tertentu, bukan secara umum.
Dialog sebagai Kunci Perbaikan Kultur Sepak Bola
Cak Tessy menekankan bahwa peran penting dialog antara PSSI dan kelompok suporter tidak bisa diabaikan. Ia menilai, komunikasi dua arah adalah jalan terbaik untuk membangun kesepahaman dan memahami kebutuhan masing-masing pihak. “PSSI harus mengakui bahwa suporter bukan musuh, tapi bagian dari dinamika pertandingan. Jika ada masalah, sebaiknya dicari solusi bersama, bukan langsung dilarang,” tutur Cak Tessy.
Dalam praktiknya, ia menyoroti bahwa banyak penggemar sepak bola tidak memahami alasan PSSI mengambil langkah ini. “Banyak orang berasumsi bahwa away supporter selalu menyebabkan kekacauan, tapi itu tidak selalu benar. Ada waktu di mana mereka justru mendukung tim secara aktif, bahkan membuat suasana stadion lebih hidup,” tambahnya.
Kebijakan larangan ini juga dikhawatirkan akan memengaruhi keberagaman pendukung sepak bola. Cak Tessy mengingatkan bahwa sepak bola Indonesia mengandalkan suporter dari berbagai daerah untuk menghidupkan atmosfer pertandingan. “Jika hanya ada satu atau dua kelompok suporter yang dilarang, maka ruang bagi peserta lain akan berkurang. Padahal, suporter adalah tulang punggung pertandingan, terutama di stadion kecil,” ujarnya.
Persebaya: Simbol Harapan untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia
Dalam wawancara ini, Cak Tessy juga menyebutkan Persebaya Surabaya sebagai contoh perubahan positif dalam dunia sepak bola Indonesia. Tim yang berada di Liga 1 ini, menurutnya, telah menunjukkan komitmen untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan penonton. “Persebaya tidak hanya fokus pada pertandingan, tapi juga berusaha memperkuat ikatan dengan suporter melalui program komunikasi dan kegiatan luar lapangan. Ini menjadi teladan bagi klub lain,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa larangan away supporter bisa menjadi langkah awal dalam perbaikan kultur sepak bola. “Jika PSSI bisa membuka dialog dan memberikan ruang bagi suporter untuk berpartisipasi, maka kebijakan seperti ini bisa menjadi sarana pengaturan yang lebih baik,” tambah Cak Tessy. Ia juga mengingatkan bahwa perubahan budaya sepak bola membutuhkan waktu, karena terkait dengan pola pikir masyarakat.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Cak Tessy memproyeksikan bahwa ke depan, sepak bola Indonesia perlu menumbuhkan suasana yang lebih harmonis antara tim dan penonton. Ia menilai, dengan adanya dialog yang terbuka, PSSI bisa memperkenalkan aturan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi sebenarnya di lapangan. “Kalau suporter diberi ruang untuk berpartisipasi secara aktif, mereka akan jadi bagian dari peningkatan kualitas pertandingan, bukan pengganggu,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa peran suporter dalam membentuk identitas klub dan dukungan untuk pemain harus dihargai. “Suporter adalah jembatan antara pemain dan masyarakat. Jika PSSI mengabaikan suara mereka, maka keterlibatan masyarakat dalam sepak bola akan berkurang,” tutup Cak Tessy.
Dalam pandangan Cak Tessy, larangan away supporter tidak boleh dianggap sebagai akhir dari dinamika suporter, tapi sebagai awal dari transformasi yang lebih baik. Ia berharap, ke depan, kebijakan ini bisa menjadi batu loncatan untuk membangun kultur sepak bola yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sebagai akhir wawancara, Cak Tessy menyampaikan pesan untuk para suporter: “Jangan menyerah. Kita bisa berubah, kalau ada kesempatan yang tepat. PSSI juga harus bersedia mendengar, karena sepak bola adalah olahraga yang hidup jika diiringi keberagaman suara.”
Secara keseluruhan, Cak Tessy yakin bahwa dengan komitmen dari kedua belah pihak, masalah larangan away supporter bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga. Ia berharap, kebijakan ini tidak hanya membawa perbaikan di lapangan, tapi juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap PSSI.
Proses perubahan yang dibawa oleh Cak Tessy ini, menurutnya, akan membutuhkan waktu, tetapi tetap layak dicoba. “Sepak bola Indonesia belum selesai, tapi kita bisa memperbaikinya dengan kerja sama, bukan hanya melalui kebijakan, tapi juga melalui keberlanjutan dialog dan pemahaman yang saling menghargai,” pungkasnya.
Sumber: Arif Prada, Zaro Ezza Syachniar, Fahrul Marwansyah/Syahrudin/Fahrul Marwansyah/Fahrul Marwansyah.