BKSDA NTT lepasliarkan 1.000 burung di Manggarai Barat
BKSDA NTT Melepasliarkan 1.000 Burung di Manggarai Barat
BKSDA NTT lepasliarkan 1 000 burung – Kupang – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyatakan telah melaksanakan pelepasliaran 1.000 burung Pleci atau Kacamata Laut (Zosterops chloris) ke alam terbuka di Hutan Lindung Nggorang Bowosie, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Proses ini dilakukan setelah burung-burung tersebut digagalkan dalam upaya pengangkutan ke atas kapal di Pelabuhan Serbaguna Wae Kelambu, Labuan Bajo, pada Jumat lalu.
Langkah Penyelamatan Burung diambil setelah Intersepsi
Kepala BBKSDA NTT, Adhi Nurul Hadi, menjelaskan bahwa pelepasliaran ini dilakukan pada Sabtu pekan lalu. “Burung-burung tersebut telah dikeluarkan dari perangkasan dan dilepas di habitat alaminya untuk memulihkan populasi serta memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi,” katanya saat dihubungi di Kupang, Senin.
Sudah dilepasliarkan ke alam terbuka pada Sabtu pekan lalu setelah pada Jumat digagalkan di Pelabuhan Wae Kelambu, Labuan Bajo,” kata Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi ketika dikonfirmasi di Kupang, Senin.
Menurut Adhi, pelepasliaran burung dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah daerah setempat, kelompok masyarakat, Polri, dan TNI AL. “Pelepasliaran ini bertujuan untuk menyelamatkan individu yang diamankan, meningkatkan jumlah populasi di lingkungan alam, serta menjadi sarana edukasi bagi masyarakat,” tambahnya.
Peran Pihak Lokal dalam Proses Konservasi
Pelepasliaran yang dilakukan di Nggorang Bowosie menggambarkan upaya konservasi yang melibatkan berbagai pihak. Dalam proses ini, BBKSDA NTT tidak hanya bertindak sebagai pelaksana tetapi juga berkoordinasi dengan masyarakat setempat yang turut serta dalam perlindungan satwa liar tersebut. Kehadiran Polri dan TNI AL menjadi penjagaan tambahan agar perjalanan burung dari pelabuhan ke hutan tidak terganggu.
Burung-burung yang dilepasliarkan berasal dari hasil tangkapan dan pembelian. Menurut pengakuan pelaku berinisial MS, burung-burung tersebut diperoleh secara langsung dari perangkasan dan juga dibeli dari masyarakat lokal di Maumere, Kabupaten Sikka. Proses transportasi mengharuskan burung-burung disimpan dalam kardus dan sangkar sebelum diangkut menggunakan truk menuju kapal laut untuk dibawa ke Surabaya, Jawa Timur.
Harga Burung Berbeda-beda tergantung Spesies
Dalam penyelamatan ini, berbagai spesies burung memiliki harga yang berbeda. Burung Pleci atau Kacamata Laut dijual dengan harga antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per ekor, sedangkan Burung Decu Belang (Saxicola caprata) memiliki harga beli berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per ekor. Sementara itu, Burung Kancilan Flores (Pachycephala nudigula) yang termasuk spesies langka memiliki harga antara Rp200.000 hingga Rp300.000 per ekor.
Dengan jumlah yang cukup besar, pelaku berniat menjual burung-burung tersebut kembali ke pasar burung di Surabaya dengan harga Rp12.000 untuk Burung Kacamata Laut, Rp50.000 untuk Burung Decu Belang, dan Rp550.000 untuk Burung Kancilan Flores. Namun, keberhasilan penyelamatan oleh BBKSDA mengubah rencana tersebut menjadi tindakan konservasi yang berdampak positif bagi ekosistem lokal.
Konservasi Burung sebagai Upaya Melindungi Keanekaragaman Hayati
Pelepasliaran 1.000 burung ini menjadi bagian dari upaya lebih besar dalam memulihkan keanekaragaman hayati di NTT. Burung Pleci dan spesies lainnya merupakan bagian dari flora dan fauna khas daerah tersebut, yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Adhi Nurul Hadi menekankan bahwa keberadaan burung-burung ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan alam tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan lingkungan hidup.
Dalam konteks konservasi, BBKSDA NTT terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar. “Dengan pelepasliaran ini, kami harap masyarakat lebih memahami bahwa burung-burung ini tidak boleh dianggap sebagai barang dagangan semata,” ujar Adhi. Ia menjelaskan bahwa pengangkutan burung-burung tersebut ke Surabaya merupakan risiko bagi populasi di alam liar, sehingga intervensi diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Peristiwa yang Terjadi di Pelabuhan Serbaguna
Kapan burung-burung tersebut ditemukan, mereka tersimpan dalam kardus dan sangkar, diangkut menggunakan truk yang menumpang kapal laut dari Labuan Bajo ke Surabaya. Penyelamatan ini dilakukan setelah BBKSDA NTT mengetahui bahwa burung-burung tersebut dalam perjalanan untuk dijual. Dengan mengevakuasi mereka dari perjalanan tersebut, BBKSDA berhasil memulihkan kondisi alam terbuka dan menjaga populasi satwa liar.
Adhi Nurul Hadi menyatakan bahwa pelaku berinisial MS saat ini masih dalam pemeriksaan oleh pihak terkait. Meski demikian, ia mengakui bahwa burung-burung tersebut merupakan hasil tangkapan langsung oleh pelaku dan juga dibeli dari masyarakat di Maumere. “Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan konservasi tidak hanya bergantung pada pihak lembaga tetapi juga partisipasi masyarakat setempat,” kata Adhi.
Langkah Pemulihan untuk Burung dan Lingkungan
Pelepasliaran 1.000 burung ini bukan hanya tentang kembalikan ke habitat asli, tetapi juga sebagai tanda awal dari upaya konservasi jangka panjang. Dengan memastikan burung-burung tersebut dapat hidup secara alami, BBKSDA NTT berharap untuk memperkuat perlindungan terhadap spesies langka yang terancam. “Kami juga terus berupaya memberikan edukasi untuk masyarakat agar lebih sadar akan manfaat burung dalam ekosistem,” tutur Adhi.
Sebagai tambahan, BBKSDA NTT menegaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran ini berkat kerja sama yang solid antara berbagai pihak. Proses ini memberikan gambaran bahwa konservasi tidak bisa dilakukan secara sendirian, tetapi membutuhkan