Visit Agenda: Rumah yang bukan lagi rumah bagi para pengungsi Suriah

Rumah yang Bukan Lagi Rumah: Kisah Pengungsi Suriah yang Kembali

Visit Agenda – Setelah berbulan-bulan mengasingkan diri di Yordania, Umm Abdulrahman akhirnya mewujudkan impian yang tertunda selama bertahun-tahun: kembali ke negara asalnya, Suriah. Namun, kondisi yang dihadapinya saat tiba di kampung halaman, Daraa, jauh dari harapan. Rumah yang pernah menjadi tempat berlindung keluarganya kini berdiri goyah, dinding retak, baja ekspos, dan ruangan terbuka tanpa atap. Di dalam bangunan itu, dia tinggal bersama 12 anggota keluarga, mengisi kekosongan yang kini hanya bisa diisi dengan kesulitan hidup. “Saat memasuki area ini, saya tak pernah membayangkan akan tinggal di tempat yang seadanya seperti ini,” ungkap Umm Abdulrahman. Kisahnya mungkin tidak unik, tetapi menjadi cerminan dari pengalaman banyak warga Suriah yang kembali setelah krisis berkepanjangan.

Kembalinya Pengungsi: Tantangan di Tengah Ketidakstabilan

Dari data PBB, sejak pemerintahan Suriah runtuh pada Desember 2024, lebih dari 1,64 juta pengungsi telah kembali dari negara-negara tetangga, termasuk sekitar 200.000 orang dari Yordania. Di sisi lain, sekitar 2 juta warga Suriah yang pernah mengungsi secara internal juga berpindah kembali ke wilayah asal mereka. Namun, kehidupan yang mereka jalanin tidak sesederhana mengembalikan keberadaan. Wilayah-wilayah yang ditinggali kini hampir hancur, dengan infrastruktur seperti tempat tinggal, pekerjaan, dan layanan umum terus berlumuran kerusakan. Proses pemulihan terasa perlahan, karena perekonomian Suriah yang rapuh hampir tidak mampu mendukung upaya itu.

Dalam konteks ini, Umm Abdulrahman dan keluarganya mengambil langkah berani. Apartemen yang mereka tempati, meski sederhana, tetap menjadi satu-satunya pilihan yang mungkin. Biaya sewa bulanan untuk 13 orang mencapai 250 hingga 300 dolar AS, jauh lebih murah dibandingkan membangun rumah dari nol. Putra Umm Abdulrahman, satu-satunya sumber penghasilan keluarga, mendapatkan penghasilan sekitar 200 dolar AS dari pekerjaan sementara. Namun, penghasilan tersebut hanya cukup untuk kebutuhan dasar, seperti pangan, sementara rumah yang ditempati berisiko runtuh setiap saat.

Ketidakstabilan Ekonomi dan Kehidupan yang Terbatas

Banyak warga Suriah yang kembali ke rumah tidak lagi memikirkan kehidupan yang nyaman, melainkan upaya mempertahankan keberlanjutan. Dalam laporan Bank Dunia Oktober tahun lalu, diperkirakan biaya pemulihan kerusakan akibat perang selama lebih dari 13 tahun mencapai sekitar 216 miliar dolar AS, hampir 10 kali lipat dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Suriah pada 2024. Angka ini menjadi bukti betapa beratnya beban yang ditanggung masyarakat. Untuk keluarga Umm Abdulrahman, biaya bulanan yang terjangkau masih menjadi jalan terbaik, meski harus berhadapan dengan kondisi bangunan yang rentan.

Di sisi lain, Mohammad Marzouq Forough, seorang warga yang kembali dari pengungsian internal, mengalami kenyataan yang serupa. Tidak seperti Umm Abdulrahman yang terpaksa kembali dari luar negeri, Forough kembali ke al-Sanamayn, kampung halamannya, karena kemiskinan. Di kampung halaman tersebut, tidak ada lapangan pekerjaan, dan tempat tinggal juga langka. Dia tinggal di rumah tua orang tuanya, yang hanya memiliki dua kamar, bersama istrinya dan dua anak. “Kami tidak punya pilihan, harus kembali karena tidak ada tempat lain untuk berlindung,” katanya. Pekerjaannya memberi pendapatan sekitar 200 dolar AS per bulan, cukup untuk makan sehari-hari, tetapi tidak memungkinkan kehidupan yang layak.

Antara Keselamatan dan Kekhawatiran

Di luar bangunan yang mereka tinggali, kekhawatiran mengemuka. Dinding yang rapuh dan kabel listrik yang menempel di langit-langit menjadi pengingat akan bahaya yang terus mengancam. Sistem pembuangan limbah tidak berfungsi, dan angin kencang sering kali membuat mereka merasa rumah bisa roboh kapan saja. “Kadang-kadang, saat angin berembun, saya merasa seolah-olah bangunan ini akan menimbang kepalaku,” tambah Furough. Tak hanya ancaman fisik, risiko letusan ranjau dan amunisi klaster juga masih mengintai di seluruh wilayah bekas perang. Sejumlah organisasi bantuan memperkirakan ratusan ribu ranjau darat dan amunisi belum meledak tersebar di permukiman dan garis depan.

Laporan dari Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Network for Human Rights) menunjukkan bahwa sejak 2011, setidaknya 3.799 warga sipil tewas karena ranjau dan amunisi klaster, termasuk 1.000 anak. Angka ini meningkat tajam setelah transisi politik, dengan banyak keluarga kembali ke wilayah yang masih dipenuhi bahaya. Kini, lebih dari 16,7 juta warga Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan, kata PBB. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80 persen mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan yang layak.

Kisah yang Menggambarkan Perjuangan Berkelanjutan

Di Atman, tempat tinggal Umm Abdulrahman, kehidupan terasa seperti luka yang belum sembuh. Pakaian yang sedang dijemur tergantung di antara pilar yang retak, anak-anak bermain di koridor berdebu, dan keluarga berusaha merangkai kembali harapan dari apa yang tersisa. Bagi mereka, rumah bukan lagi sekadar tempat berlindung, melainkan simbol dari perjuangan untuk bertahan hidup. Tidak semua warga bisa kembali ke tanah air, tetapi yang sudah kembali, seperti Umm Abdulrahman dan Forough, harus terus menghadapi tantangan. Mereka membangun kembali kehidupan dengan harapan, bahwa suatu hari, rumah yang mereka tempati bisa menjadi tempat yang benar-benar aman.

Kembali ke tanah air memang berarti menghadapi realitas yang berbeda dari masa lalu. Banyak yang kembali dengan pakaian lusuh, peralatan yang hampir habis, dan semangat yang berkurang. Namun, dalam kondisi yang tidak menjamin masa depan, mereka tetap memilih untuk bertahan. Jika tidak, mereka akan kembali ke pengasingan, memperpanjang perjalanan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Di Suriah, kembalinya warga menjadi bukti bahwa keinginan untuk hidup masih mengalahkan kehancuran yang menunggu.

Kekhawatiran yang Terus Berlanjut

Di antara ratusan ribu ranjau yang masih terkubur, warga seperti Forough dan Umm Abdulrahman terus mengambil langkah kecil untuk hidup. Mereka membangun kembali kehidupan sehari-hari, memperbaiki bangunan yang rusak, dan memastikan anak-anak bisa belajar. Namun, di balik upaya itu, mereka tahu bahwa setiap langkah bisa berujung pada bahaya. “Rumah ini seperti bertahan dari kehancuran, tetapi setiap detik, kami hanya berharap tidak terjadi apa-apa,” kata Forough. Bagi masyarakat Suriah, kembalinya ke rumah tidak menjamin keamanan, melainkan mengingatkan akan keberlanjutan dari perang yang memakan korban setiap hari.

Pemulihan Suriah tidak hanya butuh waktu, tetapi juga dana dan kebijakan yang konsisten. Perekonomian yang menyusut 54 persen sejak 2011 membuat kehidupan sehari-hari semakin berat. Banyak warga yang memilih tinggal di tempat yang tidak layak, karena tidak punya pilihan lain. Mereka memperbaiki kehidupan dengan apa yang ada, berharap suatu hari, keadaan bisa berubah. Untuk Umm Abdulrahman, itu mungkin terasa jauh, tetapi ia tetap bersyukur bisa kembali ke tanah airnya, meski hanya dengan mimpi yang belum terw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *