New Policy: APPBI: Libur panjang topang penjualan ritel saat low season
APPBI: Libur panjang topang penjualan ritel saat low season
Kebutuhan Peningkatan Penjualan Selama Masa Low Season
New Policy – Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa hari libur panjang yang berlangsung pekan ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja sektor ritel yang sedang menghadapi masa low season setelah merayakan Ramadan dan Idul Fitri. Menurutnya, periode ini menjadi saat yang strategis untuk mengembalikan momentum penjualan yang sempat melambat akibat libur besar sebelumnya.
“Libur panjang pada saat low season tentunya diharapkan dapat mendorong penjualan sehingga dapat menopang ataupun mendukung kinerja sektor usaha ritel,” kata Alphonzus saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Pada masa low season, sektor ritel mengalami penurunan aktivitas karena konsumen cenderung lebih irit setelah menghabiskan uang dalam jumlah besar selama Lebaran. Alphonzus menjelaskan bahwa akhir pekan Idul Fitri menjadi momen puncak penjualan, sedangkan minggu-minggu berikutnya mengalami penurunan signifikan. Pusat perbelanjaan, di sisi lain, terus berupaya untuk memperkuat daya tarik pengunjung meski kondisi pasar masih belum stabil.
Pengaruh Faktor Ekonomi pada Daya Beli Masyarakat
Kondisi ekonomi yang tidak pasti dianggap Alphonzus sebagai salah satu penghalang utama dalam meningkatkan penjualan ritel. Ia menegaskan bahwa tantangan ini bukan hanya disebabkan oleh kenaikan harga barang, tetapi juga oleh berbagai faktor eksternal, seperti ketidakstabilan geopolitik yang berdampak pada kepercayaan masyarakat.
“Perekonomian yang masih belum menentu akibat berbagai faktor yaitu salah satunya faktor geopolitik,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Alphonzus mengakui bahwa sektor ritel tetap membutuhkan stimulus tambahan untuk memperkuat daya beli masyarakat. Ia menambahkan bahwa meski ada peningkatan aktivitas selama libur panjang, dampaknya justru bersifat sementara dan tidak bisa memperbaiki kondisi jangka panjang.
Inisiatif Pusat Perbelanjaan untuk Meningkatkan Pengunjung
Untuk menghadapi masa low season, pusat perbelanjaan diberitakan akan mengadakan berbagai program dan kegiatan yang menarik. Alphonzus mengungkapkan bahwa strategi ini bertujuan untuk mengisi waktu liburan dengan pengalaman yang lebih menarik bagi konsumen.
“Pusat perbelanjaan akan menyelenggarakan berbagai acara dan aktivitas untuk menarik pengunjung dan mengisi liburan di pusat perbelanjaan,” katanya.
Beberapa acara yang diperkirakan akan dihadirkan mencakup pameran khusus, hiburan musik, atau kegiatan edukatif yang mengundang keluarga untuk berlibur bersama. Ia juga menjelaskan bahwa program-promo ini bukan hanya untuk menarik perhatian, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan penjualan secara keseluruhan.
Kunjungan Masyarakat Diperkirakan Naik 10-15 Persen
Menurut prediksi APPBI, jumlah pengunjung ke pusat perbelanjaan selama libur panjang ini akan mengalami peningkatan sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan akhir pekan biasa. Alphonzus menyebutkan bahwa angka ini menunjukkan optimisme di tengah tantangan ekonomi yang terus berlangsung.
“Diperkirakan akan terjadi peningkatan kunjungan sekitar 10 persen sampai 15 persen dibandingkan akhir pekan biasanya,” ujar Alphonzus.
Dia menekankan bahwa peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat tetap memilih pusat perbelanjaan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu liburan. Meski demikian, ia menilai kenaikan kunjungan ini tidak cukup untuk mengembalikan kondisi sektor ritel ke level sebelumnya.
Program Diskon Sementara untuk Menjaga Konsumsi
Alphonzus menyampaikan bahwa berbagai promo dan diskon yang diberikan oleh tenant ritel di pusat perbelanjaan hanya bersifat sementara. Ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mempertahankan aktivitas belanja masyarakat, terutama dalam upaya meredam efek negatif dari ketidakstabilan ekonomi.
“Salah satu program untuk menyiasati masalah daya beli adalah dengan program promo belanja namun hanya bersifat sementara saja,” katanya.
Dia menilai bahwa strategi ini tidak bisa menjadi solusi permanen. “Persoalan daya beli masyarakat adalah perihal perekonomian negara sehingga tidak bisa diselesaikan oleh pelaku usaha,” ujar Alphonzus. Menurutnya, diperlukan intervensi lebih besar dari pemerintah untuk meningkatkan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Pengembangan Strategi Pemasaran Selama Low Season
Dalam upaya meningkatkan penjualan, APPBI merekomendasikan kolaborasi lebih intensif antara pengelola pusat perbelanjaan dan tenant ritel. Alphonzus menyarankan bahwa kegiatan promosi tidak hanya berupa diskon, tetapi juga bisa mencakup inovasi dalam pengalaman belanja, seperti kegiatan edukasi atau pengalaman interaktif.
Menurutnya, langkah seperti ini akan lebih efektif untuk membangun loyalitas pelanggan dan meningkatkan penjualan secara berkelanjutan. “Masyarakat saat ini lebih mencari pengalaman yang berkesan, bukan hanya barang yang murah,” jelas Alphonzus. Ia berharap program-program tersebut bisa mengakselerasi pertumbuhan kembali sektor ritel di tengah tantangan ekonomi.
Alphonzus juga menyoroti pentingnya promosi dalam memperkuat daya beli masyarakat. Meski tidak bisa memperbaiki kondisi secara permanen, ia menegaskan bahwa program ini tetap menjadi alat utama untuk menjaga arus konsumsi. “Promosi adalah bagian dari upaya mempertahankan perekonomian selama masa low season,” ujarnya.
Di samping itu, Alphonzus menyoroti peran pemerintah dalam memastikan pertumbuhan sektor ritel tetap berjalan optimal. Ia mengharapkan kebijakan ekonomi yang lebih stabil serta dukungan dari pihak terkait untuk memperkuat daya beli masyarakat. Menurutnya, langkah-langkah seperti peningkatan daya beli masyarakat dan pengurangan inflasi bisa menjadi pendorong utama bagi kinerja bisnis ritel.
Menjadi destinasi utama selama libur panjang, pusat perbelanjaan tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama. Meski masa low season mengurangi volume penjualan, Alphonzus optimis bahwa bantuan dari berbagai sektor bisa membantu sektor ritel mengatasi kesulitan yang dihadapi saat ini.